Sudut Pandang

Bikin Malu!

“Dadi anak aja ngasi ngaprok tai maring rai…” itu bahasa jawa aksen Banyumasan. Artinya, jadi anak jangan sampai bikin malu, ya malu diri sendiri atau bikin malu keluarga. Diistilahkan seperti melempar kotoran ke muka. Saya mendengar ini dari simbah, orang yang dituakan keluarga, lingkungan, dan koleganya. Sehingga sering kali, tetamu simbah saya seperti sengaja membawa… Continue reading Bikin Malu!

Iklan
Sudut Pandang

Beginilah Saya Bercinta…

Ini cerita tentang persahabatan. Saya berusaha tulus dan sayang dalam berkawan, berteman, bersahabat. Karena saya percaya juga dengan pernyataan ini… Seribu teman kurang banyak, satu musuh kebanyakan. Artinya, pertemanan, perkawanan, persahabatan itu kebaikannya lebih banyak dibanding satu permusuhan. Kalau dinaikkan bahasanya ke wilayah yang lebih reflektif, maka akan ketemu pada urusan berkahnya bersilaturahmi dan tak… Continue reading Beginilah Saya Bercinta…

Sudut Pandang

Matamu Kemana, Matamu…

“Woiii… mata lu kemane!” seseorang menghardik dengan suara tinggi. Untung saja saya pendek, jadi suaranya yang tinggi tidak nyangkut ke kuping. Jadilah saya cuek bebek, jalan terus. Makanya kalau marah jangan ketinggian suaranya, sudah tahu orang Indonesia ukuran standarnya ya 160-170 centi tingginya. Pernah juga saya dibentak orang dengan suara keras, “Mata lu kemana Tooong…!… Continue reading Matamu Kemana, Matamu…

Sudut Pandang

Katanya Cinta, Kok…

Katanya cinta kok begitu! Nah, begitu itu banyak macamnya. Padahal kalau cinta sudah melekat, tai ayam berasa cokelat, itu bercandanya orang muda jadul atau sering disebut ‘remako’ alias remaja kolot. Waktu belum ada internet, apalagi aplikasi macam-macam yang tinggal geser dan sentuh seperti di warung tegal. Ngomong soal cinta, banyak maknanya, kadang suka-suka mendefinisikannya. Belajar… Continue reading Katanya Cinta, Kok…

Sudut Pandang

Banyak Mau, Kurang Malu

           Saya sering ditanya sama orang-orang yang lama tidak bertemu, “Berapa anaknya?” atau “Anaknya berapa?” Saya menjawab, “Banyak…” sambil tersenyum, sambil memandang matanya. Biasanya berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, “Dari satu istri atau…” itu pasti bercanda. Tapi yang tidak bakal bertanya, “Yang gede umur berapa, kuliah atau sekolah dimana,” dan seterusnya. Panjang,… Continue reading Banyak Mau, Kurang Malu

Sudut Pandang

Pulanglah dan Bakar Sampah di Otakmu

“Sesekali pulanglah ke kampungmu dan bakarlah sampah dalam otak dan hatimu sepuasnya.” Tentu saya mengutip tukang patri sahabat terbaik sejauh ini. Walaupun saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ada panggilan ‘tanah ari-ari’ semacam tarikan cinta dari saudara serahim yang ditanam di tanah kelahiran saya. Pergerakan zaman, pergerakan waktu, membuat persepsi pulang kampung pun mengalami pergeseran.… Continue reading Pulanglah dan Bakar Sampah di Otakmu