SENGGANG, Uncategorized

Di Balik Perang Jawa

“Dikhianati tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah berkhianat. Ditipu tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah menipu. Dibunuh tidaklah berbahaya, yang berbahaya adalah membunuh.”

InkedEHQOwOlU4AMf_yf_LI
Judul: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta, 2019
Kategori; Fiksi Sejarah
Jumlah Hal.: 632 hlm

Ujaran Kyai Waron, kiai sepuh selain Kyai Mojo dan lainnya yang mengiang saat Pangeran Diponegoro dikelabui De Kock di Wisma Residen Kedu di Magelang seakan menyampaikan pesan moral yang kuat dan memiliki relasi kekinian meski melintas ratusan tahun berselang. Bahwa pengkhianatan, penipuan, dan pembunuhan (termasuk pembunuhan karakter) sangat berbahaya. Kisah Perang Jawa yang membangkrutkan Belanda ini pun penuh dengan khianat-khianat, tipu-tipu dan tentu saja bunuh membunuh. Tidak saja saling bunuh secara harfiah, tetapi bunuh membunuh karakter, dengan fitnah maupun adu domba.

Dalam konteks keadaan hari ini, baik keadaan kita dalam bernegara, berbangsa, bermasyarakat, berelasi dan berinteraksi dalam skala kecil sekalipun apakah perang usai? Khianat tiada, tipu daya, menipu sekaligus memperdaya selesai. Tidak. Sepanjang sejarah manusia berlangsung, hal sedemikian tidak selesai. Tetap ada dengan cara sama, bentuk persis, atau dikemas dengan kebaruan sesusai zaman dengan konten yang tetap itu-itu juga.

Novel sejarah Sang Pangeran dan Janissary Terakhir karya Salim A. Fillah, membawa pembaca menapaktilasi wilayah perang yang konon menewaskan 15 ribu tentara Belanda di Jawa bagian selatan. Dari Tegal Rejo di Yogyakarta, melintas sawah, pedesaan, bukit, sungai dan hutan juga goa. Di Goa Selarong, strategi perang dibabar, pasukan dibentuk dan perlawanan, jihad melawan ‘kafir’ dan ‘kafir murtad’ digelorakan. Gerakan perlawanan yang menawan, menyatunya golongan bangsawan, santri dan rakyat dalam Pasukan Diponegoro. Sebuah anomali, karena sulit dan nyaris belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau dalam kelas-kelas, mungkin ini yang disebut perjuangan semesta.

Selain menapaktilasi wilayah perang, novel sejarah setebal 632 halaman ini juga menghadirkan relasi yang mungkin mengejutkan, tapi juga bisa jadi mengonfirmasi. Pertama relasi antara kesultanan Jawa, ulama-ulama nusantara di masa lalu, dengan Kekhalifahan Turki Ustmani dan Mekkah yang menjadi titik temu ilmu, episentrum transformasi gerakan dakwah dan magnet silaturahmi ulama antarbangsa. Hadirnya tokoh Basah Katib, Nurkandam, Nuryasmin, orang dalam kekuasaan terakhir di Istambul yang memiliki peran penting di perang yang berlangsung lima tahun ini. Mereka ini yang kemudian disebut-sebut sebagai Janissary terakhir. Struktur pasukan dalam Perang Diponegoro menggunakan sistem ketentaraan Turki Ustmani, seperti adanya pasukan Arkiyo, Turkiyo, Bulkiyo, dan Barjamu’ah, dengan kepangkatan yang juga menggunakan istilah Ali Basah, Basah, Dullah dan seterusnya.

Relasi kedua hubungan antartokoh dan peristiwa. Di sini menunjukkan kepiawaian penulisnya berkisah. Kedetilan dan keluasan pengetahuannya memukau. Apalagi disajikan dengan diksi yang luar biasa baik. Selain mengaduk emosi, membawa banyak rasa lain seperti haru biru, kekecewaan, bahagia, jenaka dan masuknya intrik-intrik serta kisah cinta yang rumit namun menggemaskan sehingga dari prolog hingga epilog dengan melewati 30 bab mampu menggulung rasa payah mata untuk terus membaca. Tokoh satu dan lainnya berkelindan dalam silang ruang dan waktu. Pun dengan peristiwanya yang terus mengait satu dengan lainnya. Bukan hanya menikmati kisah, tapi selintas membayangkan seberapa banyak berbagai babad, buku-buku dan jejak tulis lainnya dibaca sebagai referensi penulisnya, seberapa jauh juga ia menjejak petilasan demi petilasan, menjumpai sumber-sumber penyaksi untuk mendapatkan kedetilan sedemikian rupa.

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir adalah keberanian dan sikap berdiri dengan sudut pandang tersendiri. Setidaknya, mengonfirmasi banyak hal dari tulisan lain sebelumnya tentang Perang Jawa. Dalam fiksi, realitas dihidupkan. Setidaknya, beberapa hal ‘kontroversial’ tentang sang tokoh, terkonfirmasi dalam sudut pandang yang lebih jernih, manusiawi dan berdasar. Memaklumkan bahwa Pangeran Diponegoro juga manusia biasa, tidak sempurna, bisa luput bisa khilaf. Termasuk bisa kecewa, sedih, dan murka dengan segala keanggunan emosinya yang sangat terkendali. Kekecewaan pada dirinya (peristiwa sebelum penyerbuan di Gawok), kepada Sentot Ali Basah, kepada Danurejo, patih yang teman mengajinya sedari kecil dan kepada Jenderal De Kock sebagai representasi Belanda sebagai penjajah di hari idul fitri ketika silaturahmi dikhianati.

Pesan penting lain adalah perihal pentingnya ikhtiar daripada kemenangan. “… hasil dan kemenangan adalah milik Allah. Dia berikan di saat yang tepat, di tempat yang tepat, pada orang yang tepat.” Terkutip dari khutbah Idul Fitri Pangeran Diponegoro di Matesih. (Hlm.586). Keyakinan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia, dan perjuangan tidak pernah usai. Kita hanya menjalani peran sebaik-baiknya pada masanya. Karena “… kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Kita semua hanya diperintahkan untuk mati di atasnya.”

Sebuah kisah fiksi yang berisi, sekaligus berani. Padat berjejal informasi, hingga sesekali terasa ‘mengenyangkan sekali’. Gaya tutur penulis yang ustadz itu bergitu akrab, begitu lekat masuk dalam olahan diksi, cara mengurai kisahnya, dan gimik khas Jawa-nya, hingga seolah kita sedang didongengi. Sekali lagi, ini buku bagus. Luar biasa…[]

 

Taufan E. Prast (Pembaca Buku, tinggal di Tangerang)

Leave a Reply