Sudut Pandang

Belajar Berjiwa Besar pada Soedirman

jend soedirman

Orang besar selalu membuat kebesaran bagi lainnya. Sebuah jalan hampir di berbagai kota besar di Indonesia, dengan nama ini hampir semuanya menjadi jalan protokol, jalan utama. Walhasil, nama besar ini juga melipat nama sesungguhnya dengan namanya. Contoh saja, dari Bundaran Patung Pemuda Senayan, aslinya masuk wilayah Kelurahan Gelora, Tanah Abang sampai ke Dukuh Atas, Setia Budi di Jakarta, seringkali dilipat sebegitu ringkasnya, “Di Sudirman,” adalah jawaban bagi ribuan orang yang beraktivitas sehari-hari di situ.

Begitulah ‘orang besar’. Mengapa ia besar, karena ia tumbuh, berisi, berkarakter dan memiliki daya juang. Dan semua itu dilebihkan dari orang biasa. Seseorang tumbuh harus paripurna, karena elemen dalam dirinya bukan hanya fisik. Pikirannya juga harus tumbuh, minimal sebanding, seimbang nutrisinya. Cukupkah itu saja…

Ada elemen lain yang harus tumbuh beriring bersama fisik, pikiran yaitu ruhiyah. Nah lho… ini nih yang sering keteter, tersilap, dan terabaikan. Ruhiyah yang tumbuh kuat, mengikat kencang simpulnya di pusat Arsy, adalah energi yang tanpa batas, tak terhingga, dan tak terkalkulasi. Semua itu dimiliki Soedirman, Panglima Besar tentara kita. Dengan segala kemustahilan dan kemusykilan, sejarah hari ini mencatat, Soedirman adalah keniscayaan.

Secara fisik, Soedirman kindisinya sudah sangat payah karena sakit paru-paru. Namun itu tak membuatnya menyerah. Karena kekuatan energizer ruhiyahnya melalui sunnah puasa Senin Kamisnya, dan -tak banyak ditulis dalam sejarah- bagaimana Soedirman adalah penjaga wudhu yang istiqomah. Bahkan ada kesaksian, orang-orang disekelilingnya, para pemanggul tandu adalah para alim yang paripurna secara jasadiyah fisiknya kuat, keluasan pikirnya tuntas hingga strategi perang gerilya membuat frustrasi musuh karena kreativitasnya tak berbatas. Pun ruhiyahnya penuh, keyakinan ketauhidannya kuat. Maka tidak mengherankan, menyatunya kekuatan langit dan bumi dalam perjuangan gerilya Jenderal Soedirman terus membuat lawan gentar.

Jenderal Soedirman sering dianggap memiliki jimat. Ada tiga jimat Jenderal kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916. Jimat yang pertama adalah shalat lima waktu yang tidak ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Soedirman adalah santri, dia guru Muhammadiyah, tauhidnya paripurna, kuat sebagai pondasi sehingga ia terus tegak berdiri. Jimat kedua adalah menjaga wudhu. Soedirman adalah sunnah yang hidup. Menghidupkan sunnah-sunnah utama dalam hidupnya, dalam perjuangannya. Cerita tentang Soedirman sedang shalat maghrib di masjid, lalu datang kepala pasukan meminta bersujud padanya adalah bukti, dalam kondisi tertawan (walaupun salah paham), Soedirman tetap menyatukan jiwanya dengan sang Maha Pencipta.

Masih penasaran dengan jimat Jenderal Soedirman lainnya, ada satu lagi, ‘keikhlasan’. “Semua perjuangan ini bukan untuk saya, tapi untuk bangsa dan negara, untuk generasi yang akan datang.” Renungkan sejenak, lihat realitas hari ini… Keikhlasan ini mengalir ke sekililingnya. Kisah Mbah Djuwari yang penuh kebanggaan memanggul Jenderal Soedirman saat bergerilya di sekitaran Kediri hingga Nganjuk. “Pak Dirman pesan, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh.” Hidup itu harus rukun sama tetangga, sekampung, sedesa… dan sebangsa tentunya.

Hari ini di hari kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman, setidaknya pesan yang diingatkan kepada Mbah Juwari di Kediri sana, menjadi pengingat bagi siapa saja, “Hiduplah dengan rukun sesama anak bangsa…” Soedirman bukan sebatas sosok, tapi dia adalah energi, daya, keteladanan, dan cermin kerendahtian orang besar. Ada laku orang besar dalam badannya yang ringkih, ada jiwa besar dalam raganya yang terus tergerus perih. Sungguh, cerita tentang gerilya sang Jenderal, kesaksian orang-orang yang bersamanya, orang yang mengenalnya, membuat kepala ini runduk tunduk… malu belum berbuat, apalagi berbuat banyak.

Saya paham, orang besar selalu membesarkan dan saling membesarkan. Dan hanya orang kerdil, picik, bisa jadi licik yang akan terus mengecilkan yang besar, dan membesar-besarkan yang kecil. Selalu ada yang sedemikian di setiap zaman. Pada segala perjuangan dan sejarah yang telah kau toreh, saya belajar berjiwa besar, dan menjadi besar yang tanpa mengecilkan.

Tabik dan hormat saya, Jenderal… [tef]

 

Leave a Reply