Story & History

Parimin

jalan syukur - parimin

Parimin adalah jalan kembali saya mencintai Sumpiuh. Ya, dua nama yang membawa ke masa lalu saya di hari ini. Nama pertama adalah teman saya sewaktu sekolah menengah pertama. Sumpiuh adalah tempat saya tumbuh bersama Parimin. Sumpiuh juga sebagai sebuah lipatan kenangan yang sekarang menjadi lembar baru dan akan terus menuju lembar-lembar berikutnya mengiringi langkah saya kelak. Parimin dan Sumpiuh adalah jalan syukur yang akan menjadi cerita baru dan terus mengusik untuk terus diceritakan.

Sosoknya kecil, tapi saya harus belajar banyak kepadanya. Sepanjang hidupnya, dari lahir hingga hari ini, nyaris tak bergeming dari tanah kelahirannya. Tanah yang menanam ari-arinya. Tanah yang lenguh, rintih dan perjuangan ibunya melahirkan laki-laki ini. Ketanda nama desanya. Salah satu dari 14 desa di wilayah Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Posisinya berada di lereng bukit. Dari kota kecamatan Sumpiuh, bisa ditempuh dengan naik sepeda motor atau mobil. Kondisi jalanan terus menanjak, halus diaspal, meski beberapa ada yang rusak.

Saya bertemu dengan Parimin setelah 30 tahun.

Pertemuan pertama, di malam tahun baru yang istimewa. Sempatlah bercengkerama sambil menikmati electone menanti waktu ganti tahun tiba. Tak banyak yang tercerita, tetapi itu membuat saya bersepakat dengan beberapa teman untuk memanggungkannya. Ya, di pertemuan berikutnya, dalam sebuah acara jumpa banyak teman lama. Sebuah mata acara dibuat sedemikian rupa untuk memanggungkan teman-teman yang luar biasa, juga sekaligus memungkinkan yang tidak mungkin pada saat dulu kala. Parimin salah satu diantaranya.

jalan syukur - parimin32

“Parimiiiinn….” namanya disebut sebagai penerima penghargaan kategori anak sekolah yang berangkat dari rumah paling pagi di angkatan saya. Wajahnya agak malu tetapi juga bahagia karena merasa dihargai. Apalagi piagamnya diserahkan oleh salah satu idola sekolah yang kecantikannya masuk dalam sepuluh besar pada masanya. Tidak selesai di situ, justru sesudah acara itu semua tentang Parimin menjadi hal yang terus mengusik pikiran.

“Dulu dia pernah jatuh dari pohon kelapa…” seorang teman menceritakan kondisinya. Hampir dua tahun dia tergolek di tempat tidur tanpa daya. Upaya berobat buntu karena keterbatasan biaya. Dalam sepi, dia menepi, sendiri. Kondisi yang sama seperti ketika ia jatuh dari pohon kelapa. Sendiri…

Saya hanya bisa membayangkan. Betapa berat cobaannya. Jatuh dari sumber penghidupannya saat ia sedang memeluknya dengan penuh cinta. Parimin adalah penderes nira kelapa. Dia memiliki sepuluh pohon kelapa yang jauh dari rumahnya. Dipanjatnya setiap pagi dan sore, lalu hasilnya diolah menjadi gula kelapa.

“Alhamdulillah,” bibirnya fasih menyebut. Tak ada getir, senyumnya legit seperti gula yang diolah dari nira kelapanya. Sementara saya menahan air mata. Sesak dada, “Kalau lagi bagus hasil gulanya ya bisa dua kilo, tapi sekarang paling satu setengah kilo…” Dia menunjukan jirigen hasil menderes nira kepada saya. Otak saya yang tak berangka mendadak menghitungnya. Bila harga gula jawa di pasar sekilo 14 ribu, satu setengah kilo itu berapa? Itulah yang dia dapat dari sepuluh pohon kelapa yang dimilikinya setiap harinya.

jalan syukur - parimin2

Sepanjang perjalanan pulang dari rumahnya saya meleleh… menyesal menolak minum kopi buatan istrinya. Perempuan yang tangguh dan setia, menemani Parimin di saat tak berdaya, hingga kembali ‘nekat’ memanjat pohon kelapa demi cinta dan tanggungjawabnya kepada keluarga. Saya tak melihat penderitaan pada keluarga itu. Tawa Parimin bisa tergelak lepas, senyum istrinya mengulas tanpa cemas. Di ruang tamunya yang beralas tanah, dalam remang cahaya lampu pijar yang hanya satu, saya melihat Parimin dan istrinya luar biasa.

Lagi-lagi saya merasa bukan siapa-siapa dan malu kalau terus meminta. Apalagi sampai merasa menjadi orang yang paling menderita. Kini, Parimin adalah salah satu alasan mengapa saya harus kembali ke Sumpiuh. [tef]

 

Leave a Reply