Story & History

Menyelesaikan Rasa


Meski ku bukan yang pertama di hatimu, tapi cintaku terbaik untukmu, meski ku bukan bintang di langit, tapi cintamu yang terbaik… *Cinta Terbaik, Cassandra

img-20190101-wa0187

Sehari sebelum dia menyanyikan lagu ini di panggung reuni, seorang bertanya bagaimana bisa menyelesaikan ‘rasa’ sedemikian rupa, hingga sang penanya merasa heran, “Kalian tampak asyik dan tak tampak ada luka.” Saya ceritakan apa adanya, tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. “Nyatanya kami bisa.” Begitu jawaban saya. Seorang itu terus bertanya, banyak sekali pertanyaannya. Saya sabari dengan menjawab satu persatu. Pada hakikatnya, jawaban terpenting adalah prinsipnya.

“Waktunya sudah beda, realitasnya juga sudah beda. Sekarang saya siapa, dia siapa. Posisinya juga sangat jelas. Kalau semuanya jelas, maka ‘posisi rasa’ juga harus jelas. Kalau saya, selesaikan, kemudian naikan nilainya.” Dia bengong. “Maksudnya?” Nilai rasa itu tetap kasih sayang, tapi diluaskan menjadi paketan. Mengasihi dan menyayangi dia, pasangannya, anak-anaknya. Seiring dengan memberikan penghargaan atas capaian dan pilihannya. Seseorang itu mengangguk, mungkin paham, mungkin juga tidak.

Seminggu sebelum bernyanyi, dalam sebuah perkabaran, saya tahu kalau dia sedang bersama anak-anak, menemani liburan. Saya hanya bilang, “Jaga kesehatan, Tan.” Lalu saya titip salam untuk anak-anak dan suaminya. “Polke nyenengin anak-anak ya…” – habiskan sepuasnya waktumu buat menyenangkan anak-anak. Saya hanya ingin menyumbang tenaga, bahwa lelahnya harus berkereta berjam-jam di akhir pekan, kemudian kembali ke Jakarta di awal pekan itu harus menjadi ‘ruang rindu’ yang membahagiakan bagi dirinya, anak-anaknya dan orang-orang di sekelilingnya.

Jadi ketika saya dan dia hanya berjarak selemparan tangan belaka dan tak bisa bertemu, “Tak apa, anak-anak dulu. Mereka lebih butuh kamu,” kata saya, saat dia merasa menyesal tak bisa menjumpai saya meski itu sangat mungkin. Apakah saya kecewa, tidak. Dia melakukan perjalanan bukan untuk saya. Demikian juga saya, melakukan perjalanan untuk urusan yang berbeda. Bahwa ada saat nyaris berjumpa, itu tidak ada dalam rencana.

Sebulan sebelumnya… kami bertemu di sebuah tempat makan. Kami? Karena saya bersama istri kemudian ada dia. Kami banyak bicara tentang banyak hal, banyak tawa, banyak senyum, dan indah semuanya. Saya sepakat langsung dengan pilihan tempatnya. Seperti biasa saya datang lebih dulu, meyakinkan bahwa menunggu bukan beban yang membuat jemu. Dia sudah tahu itu. Saya kabarkan, ‘aku udah sampai’ melalui whatsapp, maksudnya agar dia merasa lega, yakin, dan pasti. Bahwa kehadirannya tak akan bertemu beban menunggu dan mencari-cari. Perempuan menyukai kepastian, saya berusaha memberi kepastian.

“Aku masih belum bisa,” kata seseorang itu. Saya tersenyum. Ada cerita panjang sebelum sampai pada kondisi ini. Pencarian, “Saya mencarinya sedemikian rupa, harus ketemu. Tujuannya satu, minta maaf.” Karena saya yakin, saya telah membuat luka, mungkin sangat dalam, hingga dia memutuskan untuk terus menghindar. Cerita yang rumit. Tapi saya yakin, “Ada saatnya.” Dan Allah berikan kesempatan itu. Pertemuan yang indah, karena ikrarnya berubah. “Kita bersaudara, saling doa…” Dan perjumpaan pertama itu, setelah 20 tahun lebih saya tak bertemu dia, setelah 10 tahun lebih usia pernikahan saya. Begitulah saya menunaikan janji, bahwa semua ‘rasa’ di masa lalu harus diselesaikan. Bukan sebaliknya… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s