SENGGANG

TAMAN BAMBU – Eksotisme Desa di Riuh Kota


taman bambu 1

“Bakso Jono ya…” seseorang bertelepon menetapkan tempat bertemu. Saya menjawab oke. Bakso Jono itu legenda banget di tempat ini. Tetapi saya terlalu mula untuk datang, kebiasaan datang minimal setengah jam sebelum waktu janjian. Tapi ini masih ada waktu sekitar satu jam. Terus ngapain? Saya biasa iseng, jalan aja. Dari kawasan kesibukan di Cikokol ini, ya sibuk banget. Karena kantor pelayanan masyarakat, dari BPJS, Samsat, Pengadilan Agama, Perpusda, bank hingga sekolah dan perguruan tinggi ada dalam satu kawasan.

Saya menepi, memilih jalan kaki ke tempat yang kelihatan sepi.

Alamak… hanya dalam hitungan puluh langkah kaki, ternyata tanpa saya tahu, saya sudah berada di kawasan Taman Bambu, Cikokol, Kota Tangerang. Rupanya saya lewat pintu belakang, depan Kantor Ketenagakerjaan. Saya terkesima saja awalnya, ini apa… tempat apa. Kok asri amat, kok unik amat. Rumah bambu yang menurut saya eksotik dan membuat saya terbersit untuk membuatnya kelak. Ngimpi dulu… lalu ada jembatan pohon dari bambu, menghubungkan tiga pohon besar, menjadi tempat yang asik buat swafoto. Satu lagi yang menggoda pandangan seketika adalah tempat duduk dari bambu utuh dan dibentuk seperti sampan. Saya melihat beberapa orang duduk bahkan tiduran.

taman bambu 5taman bambu 4

Bukan hanya mata saya yang menyelusur. Langkah saya menelusur jalan taman berlapir batu alam, melingkar bulat, melingkari sebuah plaza yang ditengahnya ada pohon rimbun, asik juga kalau buat acara komunitas apalah, duduk-duduk di atas lantai batu, ditemani desau daun bergesek, angin yang riuh, dan tentu lalu lintas yang ramai. Karena Taman Bambu ini terletak persis di jantung perlintasan lalu lintas Cikokol. Dekat dengan fly over Cikokol, kiri jalan menuju arah pusat kota.

Setelah berkeliling, tidak terlalu luas taman ini. Saya coba fasilitas lainnya, terutama yang menyangkut hajat penting orang banyak. Toilet tersedia di belakang rumah bambu yang berbentuk kerucut dan membuat saya terus berkeinginan suatu saat, suatu saat harus membuatnya. Inspiratif banget soalnya. Unik, eksotik, pas untuk ngetik-ngetik. Fasilitas lainnya, colokan hape… nah ini adalah kebutuhan primer baru orang modern. Di taman ini disediakan tempat mengisi batere hape, aman, dan terlihat karena bisa ditunggui sambil duduk di saung persis di sebelahnya. Tempatnya menyatu dengan petunjuk tentang apa dan bagaimana kita harus berlaku di taman itu.

Tergoda juga saya untuk naik ke jembatan bambu, tertulis maksimal sepuluh orang. Saya berhitung kalau orang segede ini dihitung berapa orang ya? Hehe… Perlahan saya naik, ada pengunjung sedang berfoto. Saya yang baik hati dan tidak sombong, menawarkan untuk memotret mereka. Karena saya melihat mereka kesulitan mencari angle dengan cara swafotonya. “Terima kasih ya Om…” Hmm, Om… saya berbalik sambil tersenyum kecut, sudah setua itukah diriku.

taman bambu 6taman bambu 7taman bambu 8

Hingga saya mendapatkan tempat duduk dari kayu, nyaman sekali. Bukan sok asik, tapi saya selalu membawa buku dalam tas kecil, saya keluarkan dan membacanya. Inilah fungsi taman kota yang sebenarnya. Membuat rileks, membuat otak berelaksasi. Lamat-lamat saya mendengar lagu-lagu bergema, lagu tahun 90an mengalun semakin jelas. Saya pikir suara dari pusat perbelanjaan besar di seberangnya. Ya, Taman Bambu ini terletak tak jauh dari seberang Tangcity Mall. Selidik punya selidik, ternyata… taman ini dilengkapi dengan speaker dan memutar lagu-lagu yang enak di kuping pengunjungnya.

Kalau saja, tidak ada telepon yang berdering. Mungkin saya terlelap dalam pelukan kesyahduan taman ini. Lebai nggak sih, tapi iya, taman ini asik. Mampirlah kalau sempat. Kalau saya tulis bak oase di tengah kota kok biasa ya, maka saya tidak menuliskan seperti itu. Paling tidak, “Saya menemukan suasana desa di riuhnya kota.” Saya seperti hendak berpisah dengan kekasih, beberapa kali langkah tertahan, menengok sesaat. Membatin, saya pasti kembali…

taman bambu 2
Mejeng ah, kapan-kapan kita rendezvous di mari…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s