SENGGANG

Naik Kereta di Sumatera [2]


Naik kereta di Sumatra #3

Derit roda kereta Sribilah pertanda laju, pandangan mulai bergerak. Di gerbong Bisnis 2 saya duduk, memilih dekat jendela. Alasannya, bukan hanya agar lebih leluasa melihat pemandangan di luar, tapi dekat dengan meja kecil tempat menaruh minum dan tentu saja colokan untuk nge-cas hape. Kebutuhan zaman now, batere hape harus full, karena dengan aplikasi whatsapp, instagram dan facebook, semua kabar bisa disegerakan, semua kabar bisa disiarkan.

Saya mencoba mencari tahu, berapa stasiun harus dilewati dari Medan ke Kisaran. Sebenarnya saya sudah berusaha menghitungnya, melihat peta jalur kereta yang tertempel di lobi stasiun. Hanya teringat sedikit saja, terutama nama kota-kota yang agak familiar atau pernah mendengar sebelumnya. Seperti Lubuk Pakam dan TebingTinggi, dua stasiun yang akan dilintasi kereta api Sribilah. Selain nama-nama itu, saya tidak tahu.

Hari ini canggih nian zaman…

Naik kereta di Sumatra #2

Dengan membuka mesin pencari Google, ketik peta jalur kereta api Medan-Rantau Prapat, tak lamakeluarlah itu gambar. Baru saja membaca, kereta sudah melewati Stasiun Bandar Khalipah. Stasiun kecil tapi bagus, bersih, dan kelihatan modern. “Kok, pakai pe bukan ef ya, Khalipah kenapa bukan Khalifah?” tanya istri yang duduk di sebelah saya. Jawaban saya, sebagai orang yang tidak tahu persis, cukup dengan bercanda. “Mungkin stasiunnya milik orang Sunda, ef-nya jadi pe…” Gurauan basi tapi, apa boleh buat. Sekadar buat menyegarkan suasana perjalanan. Sebagaiorang yang pernah kuliah di Bandung, tentu dia paham banget gurauan itu.

Lanjut perjalanan, kanan kiri masih layaknya pemukiman pinggir kota. Saya pasti akan mendapatkan ketakjuban selanjutnya. Begitulah setiap kali saya melakukanperjalanan, menikmati ketakjuban demi ketakjuban, hingga akhirnya berpikir dan merasakan bahwa Allah tiada tara sayangnya sama kita. Kitaaa… gue kali. Ya, begitulah. Dari nama-nama stasiun yang menurut saya unik, setelah BandarKhalipah, kemudian Batangkuis, lalu Araskabu. Di Araskabu inilah kereta Bandara bersimpang dari Medan menuju Kualanamu.

 Aras Kabu juga memiliki cerita menarik, meskipun blank soal asal muasal namanya. Setidaknya,saya menapaki betapa terbukanya masyakarat Deli dari dulu menerima orang-orangdari luar. Cerita masuknya ribuan orang Tionghoa menjadi tenaga kerja di perkebunan sawit, tembakau, teh, dll. Begitu pun dengan datangnya orang-orang Jawa, tidaksedikit, tapi ribuan. Termasuk yang sedikit dan unik ada Aras Kabu, namanyaLily Suhairy, bukan nama Deli. Betul karena dia orang Sunda yang kontribusidalam seni budaya melayu luar biasa. Hingga ada patung Lily Suhairy di Araskabu. Mengapa Lily istimewa, tentu karena karya-karyanya. Selain menciptabanyak lagu melayu dan memimpin Orkes Studio RRI Nusantara III Medan. Salahsatunya mencipta lagu Araskabu, lagu yang menggambarkan pesawat sekutumembombardir stasiun Aras Kabu.

Maju sedikit, sampai di Stasiun Lubuk Pakam, ibukota dari Kabupaten Deliserdang. Nama yang tidak terlalu asing. Seperti juga nama Tebing Tinggi, Kisaran, dan Rantau Prapat. Nama kota yang sudah lama tertera di peta, tempat stasiun besar berikutnya yang disinggahi kereta Sribilah. Eh, masih ada nama Perlanaan juga, hampir saya lupa. Karena sore itu, saya mendapati pemandangan menarik, orang menggiring sapi yang jumlahnya banyak, berjalan sepanjang pinggir rel kereta. Saya tak sempat menghitung berapa jumlah sapinya, karena kereta hanya singgah sebentar saja di Perlanaan.

Jarak terjauh pemberhentian antarstasiun yang disinggahi Sribillah adalah Tebing Tinggi-Perlanaan. Menjelang stasiun Tebing Tinggi, petugas restorasi seperti menangkap panggilan perut saya. Di sinilah waktunya ngopi atau makan, pemandangannya mulai bertransisi dari persawahan menjadi perkebunan sawit. Sampai Tebing Tinggi, artinya kita sudah melakukan 80 KM dari Medan. Wuih, jauh aja… Kota yang sudah ada sejak zaman Belanda, bahkan dengan legendanya, sudah ada dari sebelum itu. Kisah Tebing Tinggi tak lepas dengan kisah Datuk Bandar Kajum yang menemukan tempat di tebing yang tinggi dekat Sungai Padang. Shahihnya nanti saya cari tahu lagi. Pastinya, kota ini terkenal dengan lemang dan oleh-oleh kue kacang, semacam bakpia kalau di Jogja.

Walhasil, tepat seperti di jadwal yang tertera di tiket, saya sampai Kisaran. Senja baru berlalu, tapi jalan cerita masih terus berlanjut. Hanya berjeda…  

Tunggu lanjutannya ya, sambil menikmati salah satu karya komponis besar Lily Suhairy…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s