Story & History

Jodoh Pasti Bertamu


Dia bukan satu-satunya yang nyasar ke rumah saya. Berubah arah tujuan bahkan pembicaraan. Walaupun sering sekali datang dengan nawaitu, “Mas, saya mau belajar menulis.” Saya tidak akan mengajari menulis, karena itu bukan tugas tuan rumah. Maka saya hanya akan berlaku sebagai tuan rumah, menjamu, berbincang dan membuat suasana nyaman, hingga mereka yang datang senang, bahagia, walaupun kalau ngomong mau utang dan pinjam uang pasti saya tidak bakal kasih, bukan pelit, tapi memang saya tidak punya…

“Saya tidak akan mengajari, karena menulis itu kembali kepada diri sendiri. Kalau berkomitmen dan mau belajar terus pasti bisa. Seperti orang naik sepeda atau nyetir mobil. Kalau sudah ahli ya bisa lepas tangan, bahkan bisa balapan sambil ngepot…” saya berkali-kali mengulang kalimat ini. Selanjutnya pembicaraan jauh melesat ke mana-mana sambil tertawa.

Kepada mereka yang datang dan bertanya jodoh, saya paling bakal bercanda saja. Kalau harus bernasihat, lha saya ini siapa kok tidak mengukur diri menasihati orang lain. Tidak tersertifikasi, tidak pula tercatat dalam daftar ‘200 penasihat yang direkomendasi’ kementerian yang belum dibuat. Saya hanya akan bilang begini,

“Kadang kala kita pintar membuat kriteria, tapi kita kelupaan membuat diri sendiri seperti juga kriteria yang kita buat. Berharap mendapat yang begini begitu, kita tidak berbuat juga agar jadi begini begitu…”

“Begini begitu apaan sih Mas, yang jelas dong…” istri saya menyela, padahal saya sengaja ngomong begini begitu, karena lawan bicara saya orang-orang pintar dan pasti nyampai, mengerti maksud dan omongan model ini. Apa saya mesti menjelaskan, bahwa semua orang pasti ingin mendapatkan dan memiliki pasangan yang ideal. Mendapatkan, memiliki, dan ideal. Tiga kata pentingnya.

Mendapatkan itu kata kerja, artinya ada keringat dan harus keringatan. Apa ya saya harus menjelaskan, kalau mau dapat ikan ya mancing, menjaring atau menjala. Tempatnya di kali, di danau atau di laut. Halaah, ruwet. Tinggal beli praktis! Iya, praktis, tapi kan harus punya uang untuk membeli. Nah, cara mendapatkan uang bagaimana… Kalau diterus-terusin ya jadi ruwet. Tapi kalau dijalani ya biasa saja. Mendapatkan sesuatu pasti harus ada pergerakan, kalau tidak ya jauh, bak sate dipanggang matahari, lama matengnya. Kalau jauh panggang dari apa kan sudah biasa.

Memiliki, nah ini. Berat urusannya. Memiliki berarti memindahkan barang, orang atau hak pihak lain menjadi punya sendiri. Berarti ka nada proses memindahkan kepemilikan. Ingin memiliki sepeda saja harus ditukar uang, beli. Kalau maksa ingin memiliki dengan merebut paksa, mengambil dengan diam-diam atau terang-terang ya membegal atau mencuri, tindak kriminal namanya. Lha ini mau memiliki jodoh, bukan hanya milik orang tuanya, tapi milik sang penguasa semesta. Pastilah cara memiliki dan pemindahan kepemilikannya berlaku rumus ‘syarat dan ketentuan berlaku’.

Ideal, ‘sempurna’ kata lainnya. Seperti yang ada di tivi, majalah, atau seperti yang banyak bertengger di benak orang banyak. Acuannya mungkin kisah klasik Romeo dan Juliet, sehidup semati. Kisah lainnya seperti Kamajaya dan Ratih, gagah dan cantik. Atau contoh lokal yang lebih kekinian semacam Raisa dan Hamish Daud. Suaminya ganteng, istrinya cantik. Itu fisik. Suaminya kaya, istrinya kaya, itu material. Dan seterusnya. Tidak salah dan tidak keliru. Sah dan wajar. Soalnya, ketika berkaca, bercermin… baik jasmani dan ruhani, kita ini siapa?

Saya dulu juga begitu, bikin kriteria, inginnya dapat yang cantik, pintar dan kaya. “Dapat nggak?” Dapat, tapi tidak berjodoh. Rumus jodoh terbaik itu bukan versi kita, tetapi versi sang Mahacinta. “Dia memberikan yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan.” Ini saya mengutip kalimat istri yang ditulis di buku Doa-Doa Enteng Jodoh terbitan Lingkar Pena Publishing sudah lama. Memilih dan dipilih adalah hak warga negara, halah apa… tapi ‘ngukur diri’ dan kerja keras sampai berkeringat dulu untuk pantas ‘dipilih’ selain ngepasin frekwensi dengan pilihan kita. Soal dapatnya yang bukan pilihan kita, ya santai saja.

“Kakek nenek dan buyut kita juga nggak banyak cerita soal jodoh. Tapi mereka saling mencintai dan bersama sampai akhir hidupnya.…” Istri saya tersenyum, tamu saya ketawa. Ya sudah, saya kentut saja pelan-pelan… [tef]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s