SENGGANG

Lukisan Daripada Soeharto


@agungpambudhy detikcom
Sumber foto : detik.com/agungpambudhy

Sebagai anak yang tumbuh di zaman Soeharto jadi presiden, tidak tahu mengapa, saya sangat menyukai bila ada berita di TVRI, Presiden Soeharto menerima kunjungan di Jalan Cendana. Kediaman keluarga Soeharto di kawasan Menteng ini sangatlah dikenal, mungkin dikenang juga. Gambar kamera akan menampilkan Soeharto dengan senyumnya menyambut tamu, bersalaman, lalu cut to…  Soeharto dan tamu-tamu duduk, dengan senyum merekah dan anggukan.

Saya tidak tahu, entah berapa tamu penting pernah bertandang dan dijamu di ruang tamu kediaman Presiden Soeharto. Pasti banyak sekali. Tapi hal yang menarik lainnya bagi saya adalah lukisan di ruang tamu yang selalu tampak. Lukisan burung merpati putihbertengger di ranting kayu yang terpajang persis di atas sofa panjang, diapit oleh ukiran pada gading gajah yang juga tiada duanya. Dulu, beberapa pengumuman penting tentang hajat hidup orang banyak sering di sampaikan juga di ruang tamu rumah Soeharto, oleh pejabat dan menteri di zaman Orde Baru. Mungkin paling sering adalah Menteri Penerangan Harmoko yang sangat fasih dan pas menyampaikan “sesuai petunjuk Bapak Presiden…”

Lukisan burung merpati itu adalah karya maestro lukis Indonesia, Basoeki Abdullah. Lukisannya menghiasi istana dari era Soekarno berkuasa. Tahu sendiri, Bung Karno adalah penikmat keindahan dan lukisan. Basoeki Abdullah tidak hanya dekat dengan penguasa istana di Indonesia, tetapi karyanya juga menghiasi dan membuatnya dekat dengan penguasa di Thailand. Sepeninggalnya yang tragis, rumah tinggalnya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan dijadikan museum. Kapan waktu, bolehlah kita main…

Jadi selain menjadi pelukis yang koleksinya banyak dikoleksi istana, Basoeki Abdullah juga akrab dengan Ibu Tien, istri Presiden Soeharto. Lukisan merpati putih di ruang tamu dipesan dalam rangka memperingati ulang tahun perkawinan Pak Harto dan Bu Tien pada 26 Desember 1987. Saya dapat cerita ini dari tulisan Agus Darmawan T, seorang kurator lukisan terkemuka dalam bukunya Bukit-Bukit Perhatian terbitan GPU tahun 2004. Buku lama yang saya dapat di lapak buku obral Rest Area KM 13,5 tol Jakarta-Tangerang saat mampir jumatan. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Pak Harto dan Seni Rupa, tercerita dengan menarik. Tentang pandangan, perlakuan dan apresiasi Soeharto terhadap lukisan dan seni rupa pada umumnya.

Jauh hari dan waktu yang berlalu, sebelum terdengar rumah Soeharto di Jalan Cendana hendak dijadikan museum seperti ramai diberitakan. Soeharto dan Ibu Tien telah mendirikan Museum Purna Bakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah. Museum yang digagas untuk menyimpan cinderamata seni rupa koleksi Soeharto selama menjadi presiden. Dan menjelang lengser, Soeharto juga menggagas museum koleksi lukisannya yang ratusan jumlahnya dengan nama Graha Lukisan. Lukisan karya pelukis terkenal dengan beragam aliran dan generasi terpajang di situ. Termasuk karya yang langka, seperti sketsa Pablo Picasso yang sangat terbatas.

Saya sebenarnya tidak terlalu tahu juga lukisan. Kalau ada lukisan palsu, saya juga tidak bisa membedakannya. Sampai sekarang saya juga masih heran, mengapa harga lukisan bisa sangat fantastis, mahal dan di luar akal. Saya tidak sampai. Mungkin itu sebab saya tidak jadi orang banyak duit dan tahu banyak soal lukisan yang berkualitas. Namun ketidaktahuan, tidak serta merta meniadakan apresiasi.

Seperti Soeharto yang konon tidak seapik Sukarno dalam perihal pengetahuannya tentang lukisan. Bahkan menurut Basoeki Abdullah pernah menyimpulkan, Pak Harto tidak memiliki modal pertanyaan apa-apa tentang lukisan. Sehingga ia selalu menyilakan kepada Ibu Tien bila berbincang soal lukisan. Namun demikian, cara Soeharto mengenalkan lukisan ke masyarakat awam perlu diapresiasi. Lukisan tidak dinikmati sendiri dalam ruang privat dan terbatas, dibuatkan museum salah satunya.

Ada spirit ‘mengenalkan budaya’ bagi bangsa yang berbudaya. Tidak mengerti bukan berarti harus antipati, tidak paham bukan alasan untuk tidak menghargai dan mengapresiasi. Jangan-jangan Soeharto sangat paham, sehingga dia pun paham, ketika menerima tamu-tamunya, atau pejabatnya memberikan keterangan penting tentang negara, duduklah di bawah lukisan merpati putih itu. Biar rakyat banyak pun menikmati lukisan sebagai mahakarya anak bangsa, tentu dengan segala tafsirnya.

Yah, demikianlah cerita kecil tentang Lukisan daripada Soeharto ini, gara-gara membaca buku beli di loakan. [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s