Story & History

Mudik Saya


mudik

Bersyukur saya, tidak perlu berpikir mudik. Karena kedua orang tua saya sudah tidak ada, mertua saya juga sudah tidak ada, sebagian besar keluarga besar ada di Jakarta dan sekitarnya. Maka, mudik lebaran tidak selalu ada dalam agenda yang menggangu ruang cinta di setiap kali ramadhan tiba. Apalagi di ujung-ujungnya yang sedang menguar harum pesonanya. Dijanjikan malam lailatul qadr pada salah satu malamnya, malam senilai seribu bulan, dan diberikan keistimewaan di sepuluh hari terakhirnya.

Saya tidak sholeh amat, tetapi keberadaan kondisi seperti ini jelas membuat lebih mudah memilih. Setidaknya, satu masalah selesai. Tidak ada mudik. Karena mudik juga hitungannya agak rumit. Tentu buat orang freelance-nan semodel saya. Beda lagi kalau mereka yang kerja jelas, dapat tunjangan hari raya, gaji ketiga belas, gaji keempat belas, atau apalah namanya. Intinya dapat uang buat merayakan hari raya.

Prasangka baik saya pada Allah, dengan kondisi demikian, maka saya dibebaskan dari tugas mudik. Cukuplah konsentrasi dengan menjadi petugas amil zakat, melayani orang berbuka puasa menjelang maghrib di masjid, serta menyediakan makanan sahur buat mereka yang beri’tikaf di malam sepuluh hari terakhir di masjid. Mencari informasi para ghorimin, bertanya ke warung-warung kecil, siapa tahu ada fakir atau miskin yang berhutang demi makan, demi konsumsi sehari-hari mereka.

Jauh sebelum itu, mungkin saya memang tidak dipersiapkan sebagai insan pemudik di hari raya. Ibunda saya, orang tua saya, dan para sepuh dari istri saya, sebelum Allah berkehendak memanggil mereka (Al-Fatihah sebagai hadiah menyerta), mereka ada di sekitaran Jabotabek. Cukuplah satu atau dua jam perjalanan sampai, cukuplah bertelepon tanpa banyak memakan pulsa untuk saling sapa sepuasnya, cukuplah mudik dilakukan dengan bilang, “Nanti kalau di sini sudah selesai, kita ke situ.”

Maka mudik sejati saya ya di sini.

Merayakan hari raya dengan membagikan zakat fitrah kepada mereka yang memang seharusnya turut berbahagia, pemilik sesungguhnya hari raya. Membebaskan hutang agar bahagia bisa menjadi miliki penghutang dan yang dihutangi. Mendatangi mereka satu persatu, memakna kesyukuran dengan lebih nyata. “Alhamdulillah, saya masih lebih baik dari mereka.” Membatin berkali-kali, menyesap sedemikian dalam hingga langkah keluar rumah dengan iringan doa dan senyum merekah para penerima zakat fitrah.

Menggelar terpal dan sajadah hingga halaman dan jalanan sekeliling masjid agar esok pagi jamaah shalat ied nyaman beribadah. Dan ketika jamaah pulang dari shalat ied, bergembira ria, menyantap segala menu yang istimewa bersama keluarga, saya dan sebagian yang lain mesti menunda, karena harus menggulung kembali semua sajadah, karpet, terpal dan membersihkan koran alas shalat yang bertebaran ditinggal tak terlipat seperti awalnya. “Mungkin terlalu terburu mau berhari raya, hingga lupa melipat kembali atau sekadar membuangnya ke tempat sampah sembali pulang melangkah…”

Hingga yakin semuanya beres, tidak berantakan dan bisa ditinggal. Barulah saya pulang. Berselisih jalan dengan orang-orang lain sudah berkeliling untuk saling bersilaturahmi ke tetangga, ke kerabat dan handai taulan. Bersalaman dengan hangat, lebur segala prasangka, lebur segala kuasa durhaka. Atau hanya melambai tangan, karena mereka ada di dalam mobil berpendingin ruangan, sementara saya dengan wajah yang keringatan.

Itulah mudik saya…

Pulang pada kesyukuran. Bahwa ramadhan telah menunjukkan lagi banyak penyadaran tentang perjalanan pulang serta bagaimana seharusnya dan sebaiknya berbekal. Merayakan hari raya secukupnya saja. Karena hari raya sesungguhnya adalah hari-hari berikutnya hingga ramadhan tahun depan tiba. Hari-hari tanpa iming-iming pahala, tanpa hadiah lailatul qadr, tanpa tanggal merah dan cuti panjang bersama. Hari-hari di mana kita harus lebih bahagia, lebih percaya, lebih yakin, bahwa nikmat Allah tak terkira banyaknya buat kita.

Bersyukur saya bisa berada di sini, mengurusi yang remeh temeh ini. Mudik terindah yang Engkau hadiahkan pada hamba berkali-kali… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s