Story & History

Sudah Setengah Jalan


setengah jalan

Di siang yang terik bulan puasa, dua orang sahabat yang melakukan perjalanan melewati sebuah hamparan sawah. Menghampar tanaman timun suri berwarna kuning keemasan. Membayang buka puasa dengan timur suri yang dicampur dengan sirup, lalu diberi es batu. Menyegarkan! Membasahi tenggorokan yang menahan dahaga. Juga hamparan hijau, tanaman semangka yang buahnya besar bak bola.

“Bila dibelah, memerah… hmmm…” terbayang segarnya.

Keduanya lalu berteduh di bawah pohon asam. Daunnya rimbun, batangnya pohonnya besar dan tinggi. Sambil bersandar di batang pohon yang kuat, di embus angin semilir, kedua sahabat itu memilih istirahat. Satu sahabat meliuk-liuk kelopak matanya, terbuai kantuk. Sementara seorang lainnya terus bicara.

Hingga sebuah ucapan membuat sang sahabat terkaget, bangun dan istighfar!

“Bagaimana Tuhan adil, timun suri, semangka, tak berbatang pohonnya, tak rimbun dan kecil merambat saja, buahnya segede itu. Sementara, pohon asam tempat kita berteduh yang pohonnya besar, tinggi dan rimbun daunnya, buahnya hanya segini…” sang teman menunjukkan ibu jarinya.

“Istighfar… istighfar… tidak boleh ngomong begitu, pamali!” katanya.

“Aduhhhh!” tiba-tiba sang teman mengaduh sambil memegangi jidatnya. Rupanya buah asam yang sudah tua, jatuh persis kena di dahinya. Mengerang tak berkesudahan, mengumpat sampai berdiri dari duduknya. Sahabatnya tersenyum, bahkan mendadak menjadi menertawakannya. Membuat sang teman makin keji memaki-maki.

“Aku kesakitan malah kamu ketawain! Teman model apa begitu…”

“Allah itu mahaadil, sahabatku! Kamu kejatuhan asam segede ibu jari sudah mengaduh begitu. Bagaimana kalau asemnya segede timun suri, asemnya segede semangka… ancur kepalamu!” kata sahabatnya sambil tersenyum.

Setelah hening sesaat, dengan roman muka menyesal dia bilang, “Iya, Tuhan memang adil, Maha Adil.” Iringan istighfarnya beruntun tak berjeda. Menyesal sekali telah salah prasangka. Apa yang diciptakan Tuhan, tiadalah yang sia-sia, selalu proporsional dan penuh hikmah yang manusia sedikit saja pengetahuannya.

Saya mendapatkan cerita ini dari kajian bakda dzuhur di Masjid Al-Madinah CBD Ciledug. Kebetulan waktu shalat tiba, saya sedang dekat melintas di sekitaran tempat itu. Saya tidak tahu siapa nama ustadz yang duduk di depan dan bercerita itu. Tetapi kajian siang itu memang penuh dengan analogi yang masuk akal dan membawa pada perenungan untuk semakin mendekat pada sang Khalik.

“Hampir setengah perjalanan puasa kita, kira-kira puasa yang sudah kita lakukan membuat kita berubah apa tidak?” pertanyaannya tidak meminta jawaban verbal. Dia hanya mengingatkan. Saya sebagai bagian yang duduk bersama majelis itu tentu saja bagian yang diingatkan. Di tingkatan mana sebenarnya puasa kita…

“Seperti puasanya orang awam yang hanya menahan lapar, haus, dan syahwat semata. Puasa yang lebih dari sekadar menahan lapar, haus dan syahwat, tetapi  menahan pendengaran, pandangan, ucapan, semua gerakan tubuh dari segala macam bentuk dosa. Atau puasanya orang khusus yang khusus, jauh dari kedua puasa itu… puasanya ‎hati dari kepentingan jangka pendek, pikiran duniawi, serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Alla,” papar sang ustadz menyitir Imam Ghazali dari kitab Ihya Ulumuddin.

Meski usia saya jalan terus, tidak muda lagi, tapi belum tua sangat. Namun saya mengakui sebagai pemula dalam perihal ini. Mungkin saya masih di level puasanya orang awam. Sebatas puasa dari lapar dan haus serta menahan syahwat terhadap istri. Selebihnya, masih jauh panggang dari api. Mungkin saya masih banyak berprasangka pada realitas yang hadir setiap hari, meski dalam hati, mungkin juga saya seperti sahabat yang jidatnya kejatuhan asam seibu jari. Allah belum hadir sepenuhnya, segala ciptaan-Nya belum menghadirkan wajah Tuhan.

“Puasa mestinya menghaluskan jiwa, meningkatkan sensitivitas syukur…” ungkapnya di akhir kultum. Sambil melanjutkan perjalanan, saya terus berupaya mengurutkan rasa syukur. Dan benar saja, nikmat Allah terlalu banyak, tak terhitung. Tak terjangkau… Tentu terlalu konyol, kalau masih berprasangka dan menggugat tanya, mengapa begini, mengapa tidak begitu. [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s