Story & History

Jiwa yang Mudah Lelah


 

Jiwa yang Lelah

“Jiwa yang mudah lelah, biasanya orientasi hidupnya salah!”

Pernyataan Kiai Nurcholis seketika membuat saya merasa lemas. Padahal saya merasa berbuka dengan hidangan yang sangat istimewa sore itu. Setidaknya tiga buah kurma sesuai sunah saya makan, disusul dengan gegap gempita makanan dan minuman lainnya. Seharusnya itu membuat saya kuat. Tetapi, ucapan Kiai di mimbar menjelang shalat taraweh membuat saya lemas lagi.

Belakangan ini saya merasa mudah sekali lelah. Bahkan nyaris putus asa. Kalau yang kedua saya bisa paham, itu salah. Tapi yang membuat jiwa saya mudah lelah rupanya terjawab malam itu. “Orientasi hidup saya salah…” saya membisiki diri sendiri. Sambil terus membuat contrengan dari setiap ucapan sang kiai yang menyebutkan indikasi-indikasi dan kriteria kesalahan itu.

“Mengapa jiwa mudah lelah?” kata Kiai Nurcholis kepada jamaah taraweh Masjid AL-Haq yang masih penuh hingga teras walaupun dalam kondisi masih direnovasi. “Karena orientasi hidup kita bukan ibadah, niatnya tidak untuk ibadah, semua kerja keras yang kita lakukan bukan karena Allah. Arah kita tak menuju Tuhan, tak menuju jalan kembali kepada fitrah.”

Semakin saja apa yang disampaikan dari mimbar membuat saya terpukul. Meskipun disampaikan dengan komunikatif dan sangat rileks, tetapi isinya ibarat anak panah yang menghunjam tepat di titik sasaran. Jangan pernah merasa sombong dengan apa yang kita sudah lakukan. Ternyata, apa yang kita lakukan hanyalah kosong belaka. Lelah semata hasilnya, karena Allah tak pernah dibawa, Allah tak menjadi tujuannya.

Saya terpekur panjang. Bahkan terbawa hingga pulang. Selama ini apa yang saya lakukan itu ternyata tak bernilai. Seperti mengerjakan tugas sekolah atau kuliah tetapi telat mengumpulkannya. Walaupun isinya benar, argumennya logis, dan teorinya tepat. Tetap saja, tak ada nilainya. Atau sebaliknya, tugas itu bernilai tinggi, tetapi sebatas angka, hanya sebatas angka. Karena semua dilakukan dengan menyontek, memplagiasi, atau meng-copy paste. Nilai tinggi untuk siapa? Untuk sebuah penghargaan bernama cum laude, summa cum laude, untuk kebanggaan manusia.

“Jiwa mudah lelah karena tujuannya sangat materil. Tujuannya sangat pragmatis, sangat duniawi.” Saya merasa dikejar lagi dengan pernyataan ini. Apakah yang saya lakukan selama ini karena tujuan itu? Demi orang-orang semata. Demi status sosial belaka. Atau demi sebuah kehormatan dan pujian manusia. Berurai hingga terburai pertanyaan melihat ulang apa yang telah saya lakukan.

Menikahmu demi apa? Demi cinta atau demi Allah. Cintamu karena manusia atau karena Allah. Kalau karena manusia banyak turunan aturan yang tidak ada menjadi ada, menjadi mahal biayanya, dan menjadi penjara karena kalau tidak berbuat seperti itu akan merasa dipergunjingkan, diomongi, dan mungkin dikucilkan. Kalau mencintai karena Allah, sederhana dan penuh keberkahan. Murah dan mudah.

Sebuah pemisalan yang menarik. “Tidak ada yang rumit kalau kita mau berorientasi pada Allah,” katanya lagi. Banyak contoh diungkapkan. Lagi-lagi yang rumit menjadi sangat sederhana. “Anak muda yang galau, banyak nih…” ungkapnya, “Karena orientasinya bukan Allah. Cari pasangan inginnya sempurna, bikin kriteria sendiri, tetapi dia tidak melihat dirinya kurangnya apa saja. Jadi sering sekali kita bersikap tidak adil pada diri sendiri, menuntut banyak ke orang lain, tetapi berdalih sedemikian rupa untuk diri sendiri. Inilah salah satu ciri orang yang orientasinya salah. Kalau berhasil dia sombong, kalau gagal dia putus asa…”

Taraweh malam itu benar-benar membuat saya terpekur. Betapa saya merasa menemukan jawaban yang dicari selama ini. Mengapa jiwa ini mudah lelah… karena saya mengingkari sendiri apa yang selalu saya janjikan ke hadapan Tuhan. Seperti kata Kiai Nurcholis, “Kalau orientasinya dunia, sampai kapan juga tidak bakal bahagia.” Dan dengan terang dia gambarkan contohnya. “Capek, capek sendiri akhirnya… karena tidak tahu yang dikejar itu apa. Fatamorgana semua. Akhirnya stress dan bisa-bisa malah jadi gila…”

Sebenarnya saya malu menuliskan ini, karena saya tahu siapa sesungguhnya diri saya, orientasi hidup saya, tujuan hidup saya. Saya teringat ucapan Ustadz Herry, teman penulis sekaligus guru saya. “Dengan keringat yang sama, dengan kerja keras yang sama, tetapi bisa beda hasil akhirnya hanya karena satu kalimat saja, Bismillah…” Hmm, rasanya puasa kali ini saya memang perlu ditampar untuk jadi manusia lagi. Sudah terlalu lama saya jauh dari mereka, orang-orang yang selalu menasihati saya. Setidaknya, tidak terlambat untuk mengubah peta hidup dan orientasi arah hidup.… [tef]

Iklan

5 tanggapan untuk “Jiwa yang Mudah Lelah”

  1. bismillah karena Allah pada setiap apa yg kita lakukan memang memberi efek yang sangat jauh berbeda. Kalaupun ada niat2 yang tidak suci, memperbarui niat bisa menjadi solusi.

    1. setidaknya mengontrol apa yang kita lakukan… menyertakan Allah adalah menyertakan kontrol lahir batin, walaupun tetap saja godaannya berat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s