Story & History

Indikasi Puasa Gagal


puasa gagal

Ini pesan kultum di hari pertama puasa dari Ustadz Yudi di Masjid Al-Haq, Komp. Pepabri, Kunciran. Masjid yang sedang direnovasi sejak Oktober 2017 lalu. “Puasa itu harus dipersiapkan dan direncanakan, kalau tidak, indikasi gagalnya besar…” Sembari bicara, beberapa kali gerak tangannya masuk ke kantong jas hitam yang membalut gamis putihnya.

Lelaki yang juga guru sekolah Islam menyampaikannya dengan banyak analogi. “Ibarat mau mudik pakai mobil, maka mobilnya harus diservis dulu, olinya diganti, ban yang gundul ganti baru, cek semuanya, termasuk remnya. Karena mudik adalah perjalanan yang panjang, di jalan bisa ketemu banyak rintangan. Kalau mobilnya siap, maka insya Allah akan sampai tujuan. Kalau asal jalan, bisa jadi mogok di jalan!”

Kenapa mogok, karena tidak ada persiapan. Demikian juga dengan puasa, harus dipersiapkan. “Kan doanya sudah dari dua bulan sebelumnya. Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.” Dia menyebut, dua bulan itulah dianjurkan kita bersiap dengan melakukan banyak ibadah sunnah sesuai dengan yang disyariatkan. Seperti puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, tilawah, sedekah, dan lainnya.

“Mengapa jamaah taraweh setelah sepekan puasa biasanya mengalami kemajuan,” maksudnya shafnya yang terisi makin maju, belakang kosong. “Karena kurang persiapan tadi, langsung ngegas, sementara bensin, rem, dan olinya belum dipersiapkan untuk ngebut.” Fenomena taraweh dengan jamaah melimpah di awal puasa memang ‘nyaris’ terjadi di banyak masjid. Namun perlahan berkurang waktu, tentu dengan berbagai alasan. Ini yang disebut oleh Ustadz Yudi, “Indikasi kegagalan berpuasa di bulan Ramadhan.”

“Sayang sekali, bulan ramadhan yang datangnya setahun sekali, kemudian kita beribadah dengan biasa-biasa saja. Karena belum tentu tahun depan kita ketemu ramadhan lagi. Coba kita ingat-ingat, kira-kira adakah jamaah masjid ini yang masih ikut taraweh ramadhan tahun lalu, sekarang sudah tidak ada lagi, tidak bersama kita lagi…”

Kunci keberhasilan puasa adalah perencanaan, persiapan, dan selebihnya berdoa kepada Allah, agar puasa ini menjadi puasa yang terbaik. “Anggap saja, ini puasa terakhir dalam hidup kita. Sehingga kita akan bersungguh-sungguh melaksanakannya.”

Kultum atau kuliah tujuh menit yang berlangsung 15 menit dibawakan dengan gaya yang sangat rileks, bahasa yang ringan, dan analogi yang mudah dicerna. Diselipi pantun dan kelakar yang membuat jamaah yang terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak mendengarkan dan menyimak dengan tekun.

Misalnya dia bilang, “Di bulan puasa itu paling gampang untuk mengenali setan. Walaupun setan dibelenggu, tetapi tugasnya mengganggu manusia belum selesai. Coba lihat, di bulan puasa ada yang masih tidak puasa tanpa uzur tidak?” “Addaaaa…” sahut jamaah. Dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, masih ada yang tidak shalat tidak? kembali jamaah menjawab ada. Masih ada yang … jawabannya selalu “Addaaa…”

“Nah, kalau yang melakukan itu suami ibu-ibu, berarti suami ibu…” kalimat yang langsung dijawab refleks, “Setaaaaan…” Sebagian jamaah tertawa. Pun ketika kalimat itu ditujukan ke alamat yang berbeda. “Kalau yang melakukan itu istri dari bapak-bapak, berarti istrinya…” “Setaaaaan….” suara bergemuruh beriring tawa. Saya juga ikut tertawa, sekaligus kagum atas keterampilan komunikasi sang ustadz.

Saya merasa beruntung berada di antara jamaah masjid di komplek. Setidaknya, sesuatu yang dipersiapkan dengan yang tidak, hasilnya akan berbeda. Maka kita harus terbiasa menyiapkan sesuatu dengan baik bila ingin mendapat hasil terbaik. Sesuatu yang baik juga harus direncanakan. Karena kebaikan yang tidak direncanakan bisa dikalahkan oleh keburukan yang terencana. Terakhir, bisa persiapan sudah cukup, perencanaan sudah baik, berdoalah kepada Allah, karena Dia-lah yang maha mengetahui segala yang terbaik.

Pertanyaannya, bagaimana kalau terlanjur tidak bersiap dan berencana?

Tetap ada jalan, dengan kemahamurah dan kasih sayang-Nya, “Berdekat-dekatlah dengan sumber kebaikan, berbaik-baiklah dengan persangkaan. Bukankah Allah sebagaimana persangkaan hamba-Nya?” Saya teringat pesan Ustad Reza M Syarief yang motivator internasional. Ubah mindset, insya Allah bisa. “Kalau kita bilang bisa, insya Allah bisa…” Jadi, selamat berpuasa dengan bahagia. Terima kasih Ustadz Yudi… [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s