SENGGANG

Cinta Akan Membawamu Kembali


 

212 film

“Jadi anak muda ya harus gitu, angkuh dan melawan…” kata saya kepada istri ketika makan setelah menonton film 212 – The Power of Love, yang dibintangi Fauzi Baadilla di CGV Transmart Graha Raya Bintaro. Istri saya hanya tersenyum, karena dia tahu saya akan bercerita lebih banyak menjelaskan kata-kata itu. Karena, begitulah kebiasaannya, setelah menonton apa saja, termasuk film, sambil makan kita akan berdiskusi. Sejak masih ‘muda’… tentu dengan keangkuhan, kesoktahuan, dan spirit melawan agar berbeda.

“Bagus juga aktingnya Fauzi Baadilla, terutama pas adegan ‘mandiin bayi tua bangka’,” kata istri saya terkekeh. “Kayaknya itu adegan paling natural deh. Senyumnya, ketawanya…”

“Cinta ya begitu, benturan egonya akan melahirkan tawa, puncak cintanya akan membuat rendah hati dan semangat berbagi…” sahut saya. Orang yang berdaya humor tinggi biasanya orang yang penuh cinta dan cerdas. Orang yang mampu menghidupkan suasana, karena keluasan pengetahuannya dan kecekatannya menangkap momentum.

Film ini cakap mengambil momentum. Membuktikan bahwa di balik layar ini yang bekerja adalah kecerdasan menangkap momentum. Secara pribadi saya mengenal baik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Maka ketika layar berputar adegan demi adegan, saya merasai ada ruh mereka berdua. Ada ciri yang khas dari ‘cara tutur’ dalam kemasan audio visualnya. Tentu film adalah kerja banyak orang, tetapi saya yakin kelihaian mengambil momentumlah yang melahirkan ungkapan Adin, ‘radikalis romantis’. Hal yang menjadi benang merah dari ujung ke ujung film ini.

Memandang sesuatu, menyikap sesuatu.

Seseorang bisa memandang luas bila ia berdiri di tempat yang tinggi. Namun ketinggian akan meniadakan kedetilan. Untuk itu dia butuh memijak bumi, turun membaui aroma tanah basah, menikmati bening embun menari di daun keladi, merasai hangat bara api di tungku seraya menunggu air masak, nasi tanak, dan lauk siap. Sekolah yang tinggi harus, seperti yang diraih Rahmat (Fauzi Baadillah) dengan pencapaian terbaik di tempat pendidikan terbaik dunia, Havard University.  Ilmu akan meninggikan, Rahmat pun memiliki tempat khusus di lingkungannya karena ilmunya. Terbukti, pemred tempatnya bekerja (Ronny Dozer) tak berdaya menghadapinya.

Ilmu meninggikan, cinta membumikan. Keangkuhan adalah sikap terlalu erat mencintai, Rahmat angkuh karena dia harus bersikap. Anak muda harus punya sikap dan saya sangat setuju. Sikap yang didasari pengetahuan juga cinta. Ilmu adanya di kepala, cinta adanya di hati. Kepala punya mata, dekat dengan otak, bila tak mengendap ke dalam hati, maka yang muncul hanya yang di kepala. Ilmu sebatas ilmu jadinya. Tuhan meniada, seolah-olah begitu, seperti digambarkan pada tokoh Rahmat yang baru terungkap jatidirinya menjelang akhir pertunjukkan. Latar belakang, masa lalu, dan perjalanan hidup sangat mempengaruhi seseorang bersikap. Itu yang terjadi pada Rahmat.

Konflik film bukan hanya menghadapkan Rahmat dan Kiai Zainal (Humaidi Abbas) sebagai bapak dan anak. Tetapi menghadapkan pilihan ideologi Rahmat yang terkesan kiri (digambarkan dengan mengutip kata-kata Karl Marx dan foto Marx di komputernya) dengan orang-orang yang yang begitu mencintai agamanya. Banyak yang bisa dikaji dari film besutan Jastis Arimba dan Ali Eunoia yang melibatkan beberapa cameo seperti Ari Untung, Dimas Seto, Irfan Hakim, dll.

Terutama tentang cinta yang akan membawamu kembali. Seperti syair lagunya Reza Artamevia. Egoisme juga cinta, cinta yang terlalu cinta. Sehingga meniadakan logika. Film ini jelas sekali memperlihatkan benturan ego. Rahmat dan Kiai Zaenal. Simbolik. Tetapi selalu akan ketemu titik baliknya, akan ketemu titik baiknya. Film yang ‘mendokumentasikan’ aksi 212 di Monas, terutama perjalanan heroik para santri dari Ciamis ini wujud cinta dan kecintaan dengan jalan kaki. Cinta wujudnya banyak. Membenci juga wujud cinta meskipun memakan energi. Mencaci juga cinta, meski makin mengotori hati. Maka, sebaik-baik cinta adalah kembali kepada cinta dan kecintaan yang hakiki.

Saya mendapatkan pesan itu, cintailah yang hakiki, yang semestinya dicintai. Karena dengan posisi itu, cinta memiliki kekuatan melenturkan bukan mematahkan, meluaskan pandangan tanpa menyamarkan, meringankan langkah dalam situasi terbatas dan nyaris mustahil sekalipun. Dan yang terpenting, cinta menyediakan diri untuk berendah hati… [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s