FUN Institute

Launching-Launchingan


launching2an

“Buku ini hanyalah cara kami merayakan persahabatan, merayakan kebahagiaan…” Begitulah saya sok belagu membuka acara launching-launchingan buku Antologi Cerpen ‘Aku Tak Cinta Padamu’ pada acara festival-festivalan, Fun Institute Festival, 29/4/2018 di kawasan Fun Institute Learning Center, Kunciran, Kota Tangerang. “Penulis di buku ini sebagian sudah menjadi penulis, berprofesi penulis, ada juga yang baru belajar menulis. Tapi isinya asyik, tema besarnya adalah kejujuran dalam berkarya.”

“Sejatinya dalam dunia kreatif termasuk kepenulisan, tidak ada senior dan junior. Ukurannya adalah karya. Seberapa produktif seseorang berkarya, bagaimana dia tetap menjaga kualitas karyanya. Ukurannya karya,” kata Zaenal Radar, salah penulis yang cerpennya berjudul ‘Upil’ ikut serta dalam antologi cerpen yang di launching siang itu. “Jadi senior itu jangan lihat lebih dulu dan tuanya…” kata Zaenal lagi sambil melirik saya dan tangannya menepuk bahu saya. “Kenapa pas bilang tua lu nunjuknya gue…” saya menyela dan statemen itu dibumbui tawa bersama.

Separuh dari penulis antologi Aku Tak Cinta Padamu hadir dalam launching. Buku yang kelak keuntungannya dipergunakan untuk pengembangan program yang dikelola Yayasan FAN. Lembaga yang membawahi Fun Institute, PAUD Bintari dan Klub Memanah Fun Institute. Ada Palris Jaya, penulis langganan juara di berbagai sayembara. Karyanya bertebar laksana bunga di banyak media. “Saya menulis sejak masih SMA di kampung halaman nun jauh di sana. Dan rupanya menulis mendekatkan saya pada banyak impian yang semula terasa mustahil.”

Berbeda dengan Ipal – panggilan Palris Jaya -, Erawati juga memaparkan pengalamannya menulis. “Semula saya hanya penerjemah, suami saya yang penulis. Kemudian saya diberi stimulus terus menerus, disugesti juga, bahwa saya bisa menulis. Hingga akhirnya saya mencoba menulis. Dan ternyata ajaib! Saya termasuk beruntung, karena pertama kali menulis cerpen remaja, pertama kali juga mengirim naskah, dan langsung dimuat… Amazing!” Erawati yang Kepala PAUD Bintari, pada akhirnya jatuh cinta menulis. Terutama menulis cerita anak dengan capaian buku ceritanya pernah menjadi Nominator Buku Anak Islami Terbaik di Islamic Book Fair 2014.

Selain Zaenal Radar, Palris Jaya, Erawati, dan saya yang dianggap ‘telah biasa menulis’, ada juga Ali Musafa dan Mbak Ade Hermalina yang menangkringkan cerpen pertama mereka dalam sebuah antologi. Bagi Mbak Ade, “Menulis bagi saya adalah cara untuk menumpahkan curhatan teman-teman yang memenuhi kepala saya. Sehingga saya merasa beruntung, karena tidak terlalu bingung mencari ide cerita.”

Beberapa penulis lain berhalangan hadir karena sebagian sudah ‘mudik’ seperti Soson Rolin Pande menetap di Jogja dan Ikal Hidayat pulang ke Tuban, Jawa Timur. Gendut Pajiyanto sibuk dengan kebun sayurnya di Sentul. Wi Noya berhalangan karena bersamaan dengan acara lain yang sama penting. Kemudian si bontot, Asmira Fhea yang kini jadi jurnalis televisi sedang liputan ke luar kota untuk program ramadhan.

Meskipun tak bisa hadir semua, kebahagiaan tidak berkurang. Di Fun Institute, bisa kapan saja berkumpul dan datang. Dan benar saja, Ikal Hidayat pun datang ke sepekan berselang berbarengan dengan Wi Noya sekeluarga. Maksudnya, bersama suami dan anaknya. Suaminya juga bukan orang asing di Fun Institute, karena dulu hampir setiap malam minggu dan hari libur selalu tidur di Kunciran.

Jangan salah, meskipun hanya launching-launchingan yang datang cukup ramai dan seru. Dari Komunitas 2CM (Cinta Masjid, Cinta Menulis) Tangerang, beberapa alumni kelas menulis FUN Institute, datang. Termasuk penulis beken dan keren seperti, Kang Arul yang kalau ditulis lengkap jadi Dr. Rully Nasrullah, M.Si. Penulis, dosen, sekaligus ahli budaya dan media siber terkemuka. Alhamdulillah sepaket dengan Novia Syahidah, penulis legendaris novel Putri Kejawen dan founder Muslimah Blogger. Hadir juga Sokat Rahman, salah satu penulis sinetron TOP (Tukang Ojek Pengkolan) yang sudah melampaui 3000 episode. Kemudian bersusulan penulis lain…

Seperti terkemuka sebelumnya, launching buku antologi ini adalah cara kami merayakan persahabatan dan berbagi bahagia. Spiritnya, sesuai jiwa dan ruh Fun Institute, bagaimana menjadi manfaat dalam kebaikan dan kelebihbaikan. Dan 12 cerita dalam buku ini temanya sangat ringan dan sederhana. Tentang persahabatan, cinta, dan kejujuran. Dan lebih penting dari itu, saya dan teman-teman sadar sekali bahwa setiap karya, harus dihargai sebagaimana mestinya. Setiap karya harus diapresiasi dan dimuliakan. Meskipun hanya dalam sebuah buku, tapi itulah pilihan kami, berkarya dan mengabadi.

Bolehlah kiranya saya mengutip ungkapan penulis yang bukunya saya lahap habis sejak zaman kuliah, Pramudya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” [tef]

Iklan

2 tanggapan untuk “Launching-Launchingan”

  1. “Setiap karya harus diapresiasi dan dimuliakan. Meskipun hanya dalam sebuah buku, tapi itulah pilihan kami, berkarya dan mengabadi.”
    What a great choice!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s