FUN Institute

Semua Jadi Juara


FIF - Semua Jadi Juara - depan

“Semua adalah juara…” seru Miss Dwi membesarkan hati anak-anak peserta lomba mewarnai, Sabtu 28/4 di lapangan bulutangkis Komp. Pepabri. Salah satu venue dari rangkaian kegiatan Fun Institute Festival 2018. “Walaupun tidak dapat piala, tapi kalian adalah piala di hati Bunda semua…” Lalu mereka bernyanyi bersama, Aku Anak Indonesia. Seru dan tampak membahagiakan.

Berbahagia bersama adalah salah satu tujuan Fun Institute Festival 2018. Festival-festivalan yang digagas sambil iseng, namun ternyata disiapkan dengan tidak iseng sama sekali. Ada kerja berkeringat, ada mata yang menunda tidur agar semua persiapan paripurna sebisa-bisa. Ada yang otaknya berputar lebih cepat, gerak cepat dan sesekali melamban karena usia. Jumat dinihari, semua selesai… setidaknya, layak untuk gelaran sebuah acara.

FIF - Semua Jadi Juara - bendera.jpg

Sabtu pagi sekali, ada seseorang yang sudah jalan dari Kemayoran menuju Kunciran. Menunggu waktu terlalu lama TransJakarta jurusan Kemayoran-BSD, dia ambil keputusan cepat lewat Blok M saja, dan cepatlah dia sampai ke tujuan akhir Ciledug di Puri Beta. “Cuma sepuluh ribu Kang naik ojol dari Puri Beta ke sini,” katanya. Belum sarapan dan langsung kerja sesuai jobdesknya. Menyiapkan audio dan infocus untuk presentasi pembicara Parenting Class, salah satu mata acara di Fun Institute Festival yang pertama digelar ini.

Ada seseorang juga yang sampai larut malam meronce ‘kembang kelapa’ warna-warni dari kertas krep. “Biar anak-anak seneng,” katanya. Miss yang satu ini memang memiliki inisiatif tinggi dan cekatan mengatasai keadaan. Nyaris sejauh ini tidak pernah chaos menghadapi anak-anak yang sedemikian banyak. Dia juga datang paling dulu, membantu membereskan tempat, merapikan beberapa hal yang diperlukan. “Fokus ke lomba aja ya, Miss…” kata istri saya. Dan berkat kesigapannya, lomba mewarnai pun berjalan dengan baik. Hingga pembagian piala untuk para juara.

FIF - Semua Jadi Juara - Irma
Irma Haryanti, S.PdI – Praktisi & Aktivis PAUD, Kepala TKIT Asy-Syukriyyah Tangerang

Dua acara berjalan bebarengan di hari pertama Fun Institute Festival 2018. Lomba mewarnai untuk anak-anak di bawah kendali Miss Dwi dan Miss Anna. Kemudian para bunda berada di kelas parenting yang penanggungjawabnya langsung dipegang istri saya, Era. Gugun yang baru sarapan ketan dan gorengan, juga “Udah minum cokelat, Kang…” bertanggungjawab soal teknisnya. Maka berlangsunglah acara kelas parenting dengan tema, “Menjadi Ibu Cerdas di Zaman Now”.

Materi bagus banget dipresentasikan oleh Mbak Irma Haryanti, teman saya dari zaman bujangan, hehe… kini beliau menjadi praktisi pendidikan anak usia dini dan aktivis sebuah badan pengelola TKIT se-Kota Tangerang, sekaligus sebagai kepala sekolah TKIT bergengsi di Tangerang. “Menjadi ibu di zaman now, harus cerdas. Karena anak-anak sekarang jauh lebih cepat berkembang dibanding usianya.” Begitu salah satu petikan dari hampir dua jam pemaparannya di hadapan hampir 30-an peserta yang hadir.

FIF - Semua Jadi Juara
Mereka yang lelah dan berkeringat dalam Lomba Mewarnai & Parenting Class FUN Institute Festival 2018

Di antara kesibukan dua acara yang berlangsung, ada orang belakang layar yang juga tak kalah pentingnya. Menyiapkan hadiah dan meyakinkan isinya benar, memastikan semua perjamuan sesuai dan terdistribusi baik merata. Juga lari ke sana sini mencarikan kekurangan yang kecil-kecil tapi penting. Miss Fitri berada di posisi ini, menjadi orang penting yang tak tampak. Dia baru muncul ketika membagikan hadiah.

Satu lagi, ada orang-orang yang siap sedia sepeda motornya menyala dan siap lari ke sana-sana. Sejak beberapa hari sebelum, Icat sudah terlibat banyak. Dialah yang serta merta membawa Era atau Fitri ke tempat-tempat penting termasuk dalam situasi yang genting. Ada juga Adi, sekuriti komplek yang turut repot. Bolak-balik disuruh ini itu oleh istri saya yang kebetulan saja menjadi bos-nya di TK. Selain sekuriti komplek, dia juga berjaga di sekolah yang istri saya kelola.

Maka, bagaimana bisa mengklaim kalau ini semua karena saya seorang. Arogan dan tak tahu diri sekali. Mengklaim, mengakui kerja banyak orang, hasil olah pikir dan keringat yang tidak gampang. Mengaku-aku hanyalah kejumawaan, dan kejumawaan adalah cermin kedangkalan. Karena kedalaman selalu sepi dan diam, hanya menampakkan kejernihan tanpa kecipak dan gelombang yang membuih.

“Tak ada sesuatu pun yang bisa kau kerjakan sendiri, selalu ada orang lain dalam setiap hasil kerjamu. Maka, berilah penghargaan, apresiasi, dan muliakan mereka, pasti kamu akan lebih bahagia.” Pesan pendek ini saya saripatikan dari keagungan nasihat para pendahulu yang selalu bijak bestari. Nasihat sederhana agar selalu ‘rendah hati’. Dengan begitu, maka semuanya akan menjadi juara… [tef]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s