FUN Institute

Festival-Festivalan


Festival2an1

“Biar ada isinya aja,” kata Zaenal Radar. Itu kesimpulan pembicaraan sore itu, dari pertemuan dua petinggi Komunitas Pecinta Kopi Sasetan yang anggotanya cuma dua, Zaenal Radar dan saya. Kalau ada yang mau bergabung bagaimana? Harus melewati masa pendadaran penggembira dulu untuk mengukur militansinya. Kecuali mungkin kalau membawa kopi saset sekarung buat nyogok Zaenal dan saya setiap ketemu. Komunitas yang sangat eksklusif ini tercetuk di kantin Kandank Jurank Doank milik Dik Doank beberapa bulan lalu. Saat saya ngopi dan Zaenal minum es teh manis…

“Ya udah, jadi gue nyiapin tempat aja ya…” istri saya menyahut. Belum jelas kedudukannya dalam komunitas ini tapi sangat penting perannya. Karena dia yang menyeduh air dan membuatkan kopi Zaenal dan saya. Karena sangat strategis dan pentingnya itu, kelihatannya, dia akan tetap dipertahankan dalam posisi ini. Tidak perlu dimasukkan dalam struktur. Saya berpikir panjang, kalau Era masuk dalam komunitas ini, pasti Mpok Maya, istrinya Zaenal pun bakal minta tempat yang sama sebagai sesama tim sukses. Mending tetap pada posisi terbaik, sebagai penyeduh kopi buat lakinya yang otaknya pada somplak.

Pembicaraan di play ground PAUD Bintari menghasilkan satu hal penting, “Kita adakan festival-festivalan… FUN Institute Festival!” tangan saya mengepal tapi tidak kompak, telunjuknya  tetap mengacung.  BRAAANGGG… suara benda jatuh di samping rumah seperti backsound yang mengiringi akhir kalimat saya. Padahal saya, Zaenal dan Era, sama-sama kaget dan keluar wajah plongo yang paling ndeso dengan level kejelekan paling puncak. “Apaan tuh!” ini refleks yang kompak. Ternyata, tukang sebelah rumah sedang memasang spandex, atap almunium sejenis seng.

Acaranya apa saja?

Festival2an2

Pertama, diskusi penulisan. Ngobrol tentang dunia menulis. Ini dalam rangka mengakomodasi teman-teman penulis yang ingin datang ke Fun Institute, mau main, ngobrol dan foto-foto. Mungkin karena banyak spot foto baru. Ada rombongan yang biasa nongkrong dan ngumpul. Ipal yang kini sibuk, Sokat yang TOP-nya lagi top-topnya, dan katanya Kang Arul yang lagi terbang sana-sini juga pengen ngumpul. Lalu rombongan anak-anak FLP Banten dan Tangerang yang disesepuhi oleh Imam Salimy, katanya mau ngobrolin masa depan. Baiklah ditampung, jadikan satu di sesi diskusi.

Kedua, pemutaran film dan diskusi tentang film pendek. Awalnya karena Mbak Ade dan teman-teman dari Rufid Film mau main dan bikin acara bakar-bakar ikan. Ya sudah diakomodasi sekalian di acara Fun Institute Festival. Sok, bawa sendiri alatnya, screen, infocus dan bakar-bakarannya.

Ketiga, teman dari Komunitas 2CM (Cinta Masjid, Cinta Menulis) juga ingin main ke tempat ‘gurunya’. Silakan, diakomodasi. Tapi makan siang bawa sendiri ya… ternyata mereka siap dengan senang hati. “Kang TEP sediain daon pisan ajah…” kata salah satu dari mereka. Halahhh, enteng itu mah, tinggal petik di belakang rumah. “Sekalian launching sesuatu boleh Kang?” pinta mereka. Haiyaah, ya boleh banget, silakan. Besok saya juga belum tahu launching program apa. Yang pasti tidak mungkin launching Komunitas Pecinta Kopi Sasetan yang anggotanya hanya dua saja.

Keempat, sekalian saja kelas parenting, usul istri saya. Baiklah, saya langsung hubungi pengisi acaranya. Hari yang dimaksud sanggup, tidak dibayar lho… iya nggak papa, katanya. Insya Allah nanti diduetmautkan dengan istri saya. Temanya keren, ‘Menjadi Ibu Cerdas di Zaman Now”. Lha nanti anak-anaknya bagaimana kalau ibunya ikut kelas parenting? “Suruh mewarnai aja di lapangan…” kata saya. Maka jadilah Lomba Mewarnai untuk anak-anak. Dapat semuanya. “Sorenya ada jadwal latihan panahan lho, Mas…” istri saya mengingatkan. Saya menyahut mudah. Tetap latihan tapi kali ini untuk eksibisi, silakan buat siapa saja yang datang mencoba panahan. “Gitu ya,” kata istri saya lagi. Cocok.

Festival2an3

Kelima, nah ini yang terakhir… “Zae, kita launching buku ya. Udah siap cetak sih, tapi nggak ada duitnya,” kata saya yang akhirnya tertawa bersama. “Tulis aja, nanti juga ada.” Pernyataan seperti ini nih yang penting. Membesarkan hati. Walaupun tetap saja bikin ketar-ketir hati. “Eh, tapi buku yang mana ya?” dia bingung. Maklum sudah terlalu lama. Saya sebut, judulnya baru dia ingat. Sip, pertemuan selesai. Kopi sudah tandas tinggal ampas, Zaenal pamit dan saya pun menyusul pergi ke tempat lain.

Maka, dengan segala kerendahan hati, jadilah acara ini, FUN Institute Festival. Hasil dari pembicaraan yang sebenarnya sangat tidak bermutu. Karena lebih banyak bercanda dan tertawa-tawa seperti biasanya. Tetapi sungguh saya dan yang terlibat sangat serius menyiapkannya. Begitulah kalau pecinta kopi sasetan bercanda. Hasilnya ada-ada saja dan tidak terduga (kata istri saya).

Modal kopi saset dua bungkus, becandanya gaspol, hasilnya? Festival-festivalan… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s