Story & History

‘Kentut’ di Seberang Masjid


kentut 1

Saya biasanya memanggilnya ‘Man’. Karena itulah yang tertulis di gerobak mie ayamnya, ‘Mbah Man’. Seperti juga nama-nama tempat makan yang menggunakan nama orang, saya tidak terlalu peduli. Pendek pikir saya menyimpulkan sekenanya, paling nama yang punya, pendirinya, atau orang yang dicintainya. Misal Ayam Goreng Mbok Berek, Ayam Bakar Mas Mono, dll. Kalau ada waktu barulah saya searching cari tahu. Begitu pula dengan Man atau Mbah Man mie ayam yang mangkal di depan komplek saya tinggal.

Sebelum viral pemberitaan penggantian namanya, justru tak ada orang yang tahu kalau lelaki yang murah senyum itu bernama Kentut. Tetapi setelah pemberitaan itu di detiknews.com beberapa waktu lalu, walhasil seluruh jagat jadi tahu nama aslinya. Liputan dan beritanya di mana-mana. Dari kegembiraannya sudah dikabulkan nama menjadi Ikhsan Hadi (konon pemberian dari guru ngajinya), sampai sujud syukur dan kehidupan sehari-harinya muncul.

“Mas ada syuting nih di depan…” seorang satpam komplek yang berjaga memberi tahu. Saya tanya syuting apa, dia jawab meliput Mbah Man, ada dari Kompas TV sama Trans TV. Hmm, saya hanya bilang tolong dibantu kalau minta bantuan. Saya ke depan – keluar rumah sekalian mengantar istri – masih melihat mobil salah satu stasiun tv parkir di samping gardu PLN tempat Mbah Man alias Iksan Hadi mangkal.

“Wuih, udah jadi selebritis sekarang lu Man…” teriak saya dari kendaraan. Saya lihat dia tersenyum, beberapa orang di lapaknya termasuk kru tv menoleh. Istri saya ikut senyum. “Ntar gue poto ya sama elu, nganter bini gue dulu…” lanjut saya. Orang-orang masih melihat saya, mungkin aneh. Bisa jadi norak. Tapi Mbah Man alias Ikhsan Hadi sudah paham. Dia sangat mengenali saya, karena sudah bertahun-tahun kenal dan sering nongkrong dilapak mie ayamnya. Bahkan dia tahu persis, selera dan takaran mie buat saya dan beda ketika buat istri saya.

Man itu penting buat saya, selain bisa delivery dengan cukup pesan di WA, dia juga jadi penunjuk arah rumah saya. “Tanya aja di pos satpam, tukang warung atau tukang mie. Kalau beruntung nanti malah dianterin sekalian bonus mie ceker…” saya sering bercanda begitu kalau teman tanya rumah saya saat sudah di depan komplek. Dan kalau saya keluar, Man akan bilang atau laporan, “Bang, tadi ada tamu tempatnya Bang Topan…” – ah dia tidak bisa menyebut Taufan rupanya – dengan raut muka seperti yang viral di foto-fotonya. Selalu tersenyum.

Sebelum di depan gardu sekarang, dulu dia jualan di seberangnya. Di pinggir jalan samping TK Al-Haq yang dikelola istri saya. Terpalnya diikat ke pagar TK, di bawah tiang listrik yang sampingnya pintu masuk ke sekolah. “Kalau pindah situ gimana, nanti dipelur. Tapi jaga kebersihan…” Saya bilang begitu karena tempatnya di pinggir jalan, mengganggu jalan dan sulit buat parkir atau papasan mobil. Maka sejak itu pindahlah dia ke depan gardu. “Saya bayar ke siapa Bang,” tanyanya. Kasih saja uang rokok ke keamanan.

kentut 3

“Sekalian ijin minta air ya Bang…” Saya hanya tersenyum dan bilang pakai saja. Itu air masjid, air umat, air jamaah. Kalau bisa dipakai buat banyak orang malah baik. Karena dekat masjid, Man yang tidak pernah cerita jadi guru mengaji selalu shalat di Masjid Al-Haq, persis di sebernag lapaknya. Tidak selalu berjamaah, mungkin pas ada yang beli ketika waktu shalat, tapi dia akan menyusul kemudian.

Begitulah, Man kini jadi Iksan Hadi. Viral ke mana-mana. Berita, cerita, dan obrolan berfokus pada Man, atau Kentut yang kini berganti nama. Sayangnya tak ada yang menoleh, di seberang tempat mangkalnya, tak terhalang apa-apa, ada masjid yang sedang dibangun dan butuh banyak bantuan dana. Tak menarikkah cerita tentang membangun masjid. Masjid yang panitianya sedang berjibaku mencari dana untuk membeli bondex – alas untuk mengecor – agar ketika shalat taraweh yang sebentar lagi tiba jamaah terlindungi dari hujan yang kini sering datang tiba-tiba. Tidak lebih menarikkah?

kentut 2

Masjid tempat Man atau Iksan Hadi sehari-hari shalat dzuhur dan ashar, masjid yang airnya juga dipakai olehnya (dan orang lain juga) untuk keperluannya berdagang mie ayam. Masjid yang mungkin, mungkin disinggahi pewarta, pemburu berita, orang yang jaringannya luas tak terkira. Hasil liputannya tayang seantero nusantara. Andai terselip sedikit saja kalimat dalam narasi berita tentang eforia ganti nama itu. Cukuplah satu kalimat…

“Di seberang lapak mie ayam Mas Iksan Hadi, sebuah masjid sedang dibangun dan butuh bondex dalam waktu cepat agar jamaah tarawih terlindung dari hujan. Mungkin Andakah para pemirsa (atau pembaca) tergerak hati untuk menyumbangnya. Sungguh janji Allah pasti, siapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan membuat yang serupa untuknya di surga.”

Andai saja… [tef]

DKM - Iklan Spandek

Iklan

3 tanggapan untuk “‘Kentut’ di Seberang Masjid”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s