FUN Institute

Melawat ke Barat


melawat ke barat

Ini bukan kisah Sung Gho Kong yang pergi ke barat mencari tongkat sakti dan kitab suci. Tapi kisah saya, bahwa ternyata belakangan ini mulai sering ke arah barat. Sebenarnya dari Tangerang, Serang itu mudah aksesnya. Satu lagi, tidak macet! Ambil tol Jakarta-Merak, kebetulan tidak jauh dari rumah, keluar pintu tol Serang Timur, satu jam sampai.

Fey, Ketua FLP Banten pada mulanya. Mengundang saya untuk berbagi pengalaman selama di komunitas menulis. Dia mengenalkan saya sebagai ‘orang lama’ di FLP. Forum Lingkar Pena, sebuah komunitas menulis besutan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Fey juga yang bilang kalau saya pernah menjadi ketua FLP Jakarta dua periode dengan beberapa inovasi dan terobosannya. Hmm, sungguh membuat saya jengah. Terlalu berlebihan. Saya hanya apalah, sudah lama saya tidak lagi di sana…

Saya datang dan berbagi cerita… bahwa menulis itu proses. Selain harus dinikmati prosesnya dengan senang hati, juga butuh disiplin dan kerja keras. Selain itu, belajar dari sekarang, untuk terus rendah hati. Karena keberuntungan tidak tahu kapan datangnya. Bisa cepat, bisa lambat. Sehingga, kelak kalau mulai jadi ‘orang’, menjadi terkenal, menjadi penulis yang ngetop, tidak tinggi hati dan sombong. “Tetaplah berendah hati, karena itu yang menjaga semuanya…”

melawat ke barat 2

Bersamaan dengan momentum Hari Buku Sedunia atau World Book Day, FLP Wilayah Banten menggelar acara ‘Bukan Pertemuan Terakhir’ di aula Graha Pena Radar Banten, Serang, 22/4. Diawali dengan kelas fotografi yang diampu fotrografer andal Kang Donny Kurniawan dan kelas blogger oleh Teh Ina Inong yang sudah termahsyur sejak dulu kala. Acara berlangsung sehari penuh, tidak surut wajah cerah, tak tampak rona lelah. Karena bagi peserta ini adalah acara inaugurasi, peresmian sekaligus pelantikan sebagai anggota muda FLP Banten.

Saya melihat kekhasan teman-teman FLP Banten. Mungkin karena dekat sekali dengan Rumah Dunia, dengan Mas Gol A Gong, Mbak Tias Tatanka dan aktivis keren lainnya. Mereka lebih ekspresif dan percaya diri. Lebih progresif. Setidaknya, bukan kali ini saja saya bersentuhan dengan mereka dan karya-karyanya. Saya mengenal generasi demi generasi FLP Banten. Mulai dari generasi Ibnu Adam Avisiena, Ketua FLP Serang pertama kali yang kini sedang doktoral di Belanda. Lalu Najwa Fadhia, perempuan yang gigih, perfeksionis, dan memiliki spirit kuat untuk menulis di tengah segala keadaannya. Hingga ke generasi berikutnya dan saya harus menyebut nama keren ini, Hilal Ahmad yang kini wartawan di Radar Banten.

melawat ke barat 1

Pertanyaan susah dan harus saya jawab dengan susah payah adalah… “Mengapa harus FLP?” Duh, pertanyaan si Fey ini membuat saya melarikan ingatan yang jauh. Jawaban paling mikir dari orang yang tidak punya pikiran. Memutar otak sedemikian keras, sementara saya pernah dituduh ‘berotak busuk’. Otak busuk mana bisa diputar, haha… Ah, sungguh ini menyiksa. Saya jawab sekenanya saja…

“Saya sudah lama tidak aktif di FLP… kalau ditanya mengapa, pasti jawabannya sangat basi, tidak apdet dan tidak aktual. Saya hanya bisa bilang, di mana pun kita berada, pandai-pandailah membawa diri. Berkomunitas itu upaya untuk berkhidmat pada kebersamaan, maju bersama-sama, dan jangan lupa, tujuan awalnya… kita masuk untuk apa? Mau belajar menulis, mencari relasi, atau mau berkarier di organisasi. Saya bukanlah contoh yang baik, karena gagal di semuanya. Menulis tidak, berorganisasi buruk, dan pencapaian keshalehan saya juga parah. Saya cuma gaya-gayaan doang…”

Saya melihat Fey mencibir. Kayak nggak percaya pada kenyataan yang saya ucapkan. “Hoax banget sih lu Bang…” kira-kira itu yang mau diucapkan. Acara selesai, setelah foto-foto dan bersenda gurau. Sebenarnya saya masih ingin mampir ke Rumah Dunia, karena memang sedang banyak acara. Tapi istri saya bilang, “Pulang aja Mas, lampu rumah belum dinyalain…” Duh, perjalanan ke barat, harus rehat karena ingat rumah gelap, ayam belum masuk kandang, bak mandi belum diisi dan jemuran belum diangkat. [tef]

Iklan

2 tanggapan untuk “Melawat ke Barat”

  1. Bener kang. Menulis itu proses. Gak ada yang instan. Untuk tetap menghasilkan tulisan yang bagus. Ada baiknya kita rendah hati.
    Makasih kang sharingnya.

    1. Sama-sama Mas Andika, kalau orientasinya hasil memang ‘proses’ menjadi tidak nikmat… padahal proses adalah hal paling penting dan krusial, karena menyangkut ketahanan mental, semangat berjuang, pembelajaran kearifan dan bersikap dari berbagai kegagalan2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s