FUN Institute

Di Bawah Naungan Kubah


Komunitas 2CM - 1

“Kita namakan Komunitas 2CM saja, Cinta Masjid Cinta Menulis.” Banyak senyum merekah di ruangan persis bawah kubah terbesar se-Asia. Bermula dari perbincangan kecil saya dengan Nanis, salah satu pengurus Mimbar Zakat Masjid Al-Azhom. Pertemuan yang mengantarkan saya bertemu dengan pimpinan Mimbar Zakat sekaligus salah satu pengurus Masjid Raya Al-Azhom, Ustadz Masduki.

Hasil pembicaraan itu ya ini, pertemuan setiap dua pekan sekali setiap hari Ahad bakda shalat dzuhur. Nanis berperan besar karena dialah yang mengumpulkan orang-orang yang berminat dan berniat belajar menulis. Saya hanya datang, membagi pengalaman saja, selebihnya ya mereka yang menulis. Saya akhirnya lebih banyak membaca hasil tulisan mereka. Walau ada yang protes, “Siapa bilang menulis itu mudah, menyesatkan tuh…” Tapi saya tetap bilang kepada teman-teman di Komunitas 2CM ini, menulis itu mudah dengan syarat dan ketentuan berlaku.

“Syarat dan ketentuannya apa itu?”

Menulis itu butuh komitmen. “Apa yang sudah dipilih, harus dipertanggungjawabkan.” Bila ingin menjadi penulis, ya harus mengikatkan tanggung jawab serta merta. Kalau mau jadi penulis harus memiliki komitmennya kuat. Segala rintangan adalah tantangan, segala keterbatasan adalah ruang kreativitas. Mewujudkannya  seperti memperjuangkan jodoh, gunung kan kudaki, laut pun kan kuseberangi.

Kalau sudah punya komitmen yang kuat. Kecintaan yang besar, seperti syair lagunya Gombloh, walaupun bumi bergoncang aku akan tetap menulis, walaupun matahari terbit di Ciledug dan tutup di Cipulir, aku akan tetap menulis. Artinya, komitmen akan menjadi daya yang besar mengalahkan alasan apa pun. Apalagi hanya alasan, tidak punya waktu, tidak berbakat, tidak punya laptop, repot urusan keluarga, dll… lewat!

Komitmen yang kuat akan membawa kecintaan pada kerja kepenulisan lainnya. Karena kerja menulis itu bukan hanya ketika ‘mengetik’ di komputer atau laptop. Tetapi ada kerja membaca segala referensi tak kenal henti, mendengar lebih banyak dari orang lain, menyimak lebih dalam demi menemukan intisari ilmu.

Menulis juga butuh konsistensi. Sebagai sebuah keterampilan, menulis itu ada banyak tahapan yang harus dilakukan. Butuh latihan, butuh keterusmenerusan, butuh konsistensi. Sekali lagi, menulis bukan an sich menulis. Tapi ada ruang kosong atau selalu dikosongkan untuk terus diisi dengan membaca. Tanpa membaca, otak kosong, apa yang mau dituang. Seperti kata Helvy Tiana Rosa, menulis itu ibarat air teko yang tumpah ketika menuang ke gelas. Kalau tekonya kosong, tulisannya masuk angin.

Konsisten berhubungan dengan disiplin. Nah, yang bisa mendisiplinkan diri salah satunya karena komitmen. Melecut diri untuk terus disiplin, membagi waktu, dan mengatur diri sedemikan rupa bukan hal mudah, tapi bukan kemustahilan. Godaannya besar, tetapi tersedia banyak cara untuk melewatkan godaan itu. Menulis sehari 50 lembar, mungkin mustahil, tetapi bisa jadi tidak. Menulis sehari 2 jam sehari, ternyata hasilnya juga di luar dugaan. Konsisten adalah syarat dan ketentuan yang penting kalau mau menulis.

Menulis butuh ilmu lain. Menulis itu mudah, karena sejak sekolah sebenarnya sebagian kita pernah ‘menulis bebas’ alias mengarang. Ada kalimat penting yang membuat anak satu ruangan kemudian menjadi penulis bebas. “Anak-anak, waktunya kurang lima menit lagi!” kata pengawas ujian. Seketika, semua akan menjawab cepat dengan menulis sebisa-bisanya, benar salah urusan belakangan. Nah…

Menulis harus dengan ilmu. Karena menulis juga upaya mengikat ilmu. Maka bila kita harus punya ilmu mengikat, dari mengenali jenis tali hingga menguasai banyak simpul dan cara mengikat. Menulis juga butuh keterampilan lainnya, seperti mengetik dengan komputer atau laptop. Selain penguasaan ilmu kebahasaan yang sesuai kaidah, mengetahui kini EYD berubah jadi PUEBI, dan tentu pengetahuan lain yang berkaitan dengan kepenulisan. Termasuk penguasaan struktur kepenulisan.

Masih banyak hal lain yang menjadi alasan bagaimana menulis dan jadi penulis. Di Komunitas 2CM ini, saya hanya membangun suasana cinta. Menikmati suasana berproses bersama-sama. Termasuk mencintai menulis, karena menulis adalah tradisi intelektual muslim sejak dulu. Tidak semuluk itu, minimal kalau kelak sejarah terlipat, “Kita dikenang sebagai orang-orang yang turut menuliskan kebaikan. Seperti kita mengenang orang baik dan shaleh masa lalu di hari ini…” [tef]

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Di Bawah Naungan Kubah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s