SENGGANG

Belajar dari Humor Emha


30738110_10215100044152940_6382468805133598720_n

“Wow, akhirnya ketemu!”

Walaupun sudah buluk, kucel, berdebu, perasaan saya menggelinjang ketika menemukannya. Sudah lama saya mencarinya, sampai kadang frustasi dan berprasangka. Mengumpat sendiri kepada entah siapa, “Pinjam boleh, tapi kembalikan dong! Kalau minta, minta aja…”

Saya memisahkan tempat dan lemari buat buku-buku tertentu. Tetapi ada saja yang ‘memaksa’ bahkan ‘maksa banget’ pinjam. Sering sekali saya dibuat kecewa karena tidak dikembalikan. Padahal sudah pasti tidak sedang dibaca, menyebalkan ya, apalagi kalau bukunya ternyata hilang dan berkilah lupa kalau sudah meminjam.

Misuh-misuh soal buku dipinjam nanti lagi, saya lagi senang…

Buku ini sudah lama, saya membelinya ketika masih gondrong. Salah satu koleksi buku Emha Ainun Nadjib yang saya miliki. Judulnya Demokrasi Tolol versi Saridin. Terbitan Zaituna Press, Jogja tahun 1998. Bukunya tipis, hanya157 halaman sudah termasuk lembar kamus dan sumber tulisan. Buku ini memang seperti buku Emha lainnya, salah satu kumpulan tulisan di media. Pada buku ini, sumber terbanyak adalah tulisan Emha di koran Jawa Pos dan Majalah Humor.

Saking senangnya, saya langsung ‘urusi’ buku ini. Saya ganti sampulnya dan tentunya membaca ulang. Magnet tulisan Emha, selalu membuat saya merasa harus menyelesaikannya tanpa jeda. Walaupun saya merasa, “Kok tulisannya kecil-kecil dan agak goyang ya…” Ah, faktor usia memang tak bisa dikibuli. Hal pertama yang saya rasa dari halaman awal sampai beberapa tulisan sesudahnya, “masih sangat relevan dan sesuai zaman.”

Dalam buku Demokrasi Tolol versi Saridin, Emha sebenarnya sedang melakukan upgrading berhumor yang cerdas bagi pembacanya. Suasana Orde Baru bukanlah hal mudah untuk menulis ‘blakasuta’ apa adanya. Kritik dan protes yang ‘berbahaya’ tetap bisa diungkapkan dengan cara yang sangat canggih dalam mengolah kata-kata ataupun memilih pasemon-nya. Dengan humor, Emha mampu menyampirkan banyak pesan, kritik dan protes tak hanya kepada kondisi sosial politik pada masa itu, termasuk ‘dagelan’ cara berpikir yang salah kaprah.

Dibuka dengan tulisan ringan yang menggoda teman-temannya di halaman awal. Tentang konyolnya pejabat kampus yang meminta maaf karena Gus Dur tidak hadir dan digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid.  Tentang nasib praen dan potongan Muhammad Shobary yang dianggap tukang kebon yang diusir bawahan ternyata kolega bosnya dan duduk methingkrang (ngangkat kaki) di ruangan bos. Ada cerita pelukis Amang Rahman yang unik dan seorang profesor anonim yang pelupa tapi sok baik.

Di bagian kedua Emha baru bercanda dalam keseriusannya. Judul buku ini, diambil dari salah satu tulisan di bagian kedua buku ini. Tepatnya di halaman 27, Demokrasi Tolol versi Saridin. Meski sudah terbit dua puluh tahun, isinya tak sedikitpun lapuk. Masih sangat menyengat, terasa sekali relevansinya dengan kondisi saat ini. Termasuk kritiknya yang persis kondisi saat ini. Saat banyak yang merasa menjadi pendekar demokrasi, tapi sebenarnya dangkal tak tahu hakikat. Seperti pasemon atas ‘kesongongan demokratis’ Saridin yang tekuk lutut dan kepontal-pontal di tangan Sunan Kudus. “Kalau kamu tidak sanggup menjadi pendekar, jangan bersembunyi di balik kata demokrasi,” kata Sunan Kudus sambil mencengkeram leher Saridin yang terengah-engah. (hal 32).

Di akhir buku ini, Dia kisahkan tiga orang sahabat yang berakhir pekan ke Singapura. Sepulang bersuka cita, mereka mendapati lift hotel mati. Sementara mereka harus ke kamar di lantai 63 hotel yang disewa. Maka, sepakatlah tiga bersahabat itu harus bercerita apa saja hingga 21 lantai. Sutrimo bercerita sampai lantai 21, dilanjutkan Tigor hingga lanti 42. Terakhir Abdul yang dari Madura bercerita seru.

Dia bercerita tentang pengendara motor di Sampang kena razia polisi. Sang polisi marah, karena dia menyodorkan SIM orang lain. “Ini bukan SIM Saudara! Nama dan fotonya lain!” kata polisi. Sang pengendara motor malah naik pitam, “Lho Bapak ini kok neh aneh! Lha wong yang saya pinjami SIM saja ndak marah, kok malah Bapak yang marah!” (Buang Sial ke Singapura, hal.153)

Saking asyiknya cerita Abdul sampai ke lantai 63, ceritanya belum habis. Kedua temannya sudah kelelahan, tapi Abdul tetap bercerita. Kedua temannya meminta kunci, Abdul menjawab, “Sebentar ceritaku belum selesai.” Tentu saja kedua temannya marah dan geram. “Cerita apa lagi…” tanya kedua temannya. Abdul menjawab, “Ini happy ending… kunci kamar kita tertinggal di mobil.”

Humor itu butuh kecerdasan dan ilmu. Setidaknya 29 tulisan yang ditulis Emha dalam kurun waktu 1994-1996 lucunya tidak main-main. Tetapi Emha tidak sedang melucu, dia menunjukkan sesuatu, juga mengajari untuk menertawakan diri sendiri. Pencapaian tertinggi kematangan diri adalah berani menertawakan diri sendiri… [tef]

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Belajar dari Humor Emha”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s