FUN Institute

Rumah Baca untuk Apa?


Rumah Baca IQRA

“Kalau kosong, mau saya sewa, Mbak…” kata saya kepada Mbak Ria, pemilik kios yang sebenarnya lebih dari itu. Dia itu teman jalan ke kampus, kakak angkatan saya. Beda jurusan, tapi satu fakultas. “Kamu mau jualan?” tanyanya. Saya senyum lalu bilang, “Mau buat rumah baca…” Dia agak kaget dan terpana, mungkin terpukau kalau tidak terpukul, hehe….

“Rumah baca? Untuk apa?”

Ruangan kios yang lama kosong, persis di sudut pertigaan komplek saya tinggal. Strategis, orang baru masuk komplek langsung lihat. Depannya jalan besar, diakses banyak orang. Dekat masjid, depan kantor pemasaran yang telah dipakai buat TPA bila sore tiba. Beberapa anak muda yang biasa nongkrong di rumah membantu saya. Menyapu, mengecat ulang, membuat display buku, dan memasang spanduk. Beberapa kardus buku diangkut dari kontrakan saya.

Jadilah kios kosong itu menjadi rumah baca dan saya beri nama Rumah Baca IQRA. Tidak perlu saya jelaskan pilihan nama itu. Daripada saya malah menggarami air laut. Sesederhana itu. Bagamana dengan reaksi orang? Ya macam-macam. Beberapa sama seperti pertanyaan Mbak Ria, “Rumah baca, untuk apa?” Tetapi yang paling saya ingat (orangnya juga masih saya ingat banget) adalah komentar ini. “Mending buka PS, pasti rame, cepet balik modal…”

Inilah alasan ‘bodoh’ saya membuka rumah baca,

Rumah Baca IQRA3

Kontrakan Habis. Jadi setelah menikah, saya mengontrak. Tidak jauh dari orang tua saya, masih satu komplek. Buku-buku itu semula saya taruh di garasi, terserah siapa saja yang mau mampir dan baca. Kadang anak-anak pulang sekolah, anak-anak sebelum mengaji sore, atau orang lewat yang tertarik. Saya bingung, kalau harus pindah rumah, buku-buku ini mau ditaruh mana. Jadi alasannya, karena kontrakan habis, saya tidak memperpanjangnya. Buku-buku itu saya pindahkan ke kios. Silakan baca bagi yang mau…

Kenapa mengontrak kios, kan bayar… Betul, saya bukan hanya membayar sewa kios tapi juga mempekerjaan salah satu remaja putus sekolah untuk menjaganya. Membuka bila pagi, membersihkan buku-buku dari debu, menyampuli bila ada yang sampulnya sobek atau belum disampuli. Mencatat bila ada yang bawa pulang, serta menutup gerai bila malam tiba.

Rumah Baca IQRA1

Biar Rumah Lega. Waktu saya masih belum menikah, lemari buku di kamar saya terasa lazim dan kamar masih tampak luas. Buku berserak. Saya nikah, buku-buku ikutan pindah. Kontrakan habis dan saya kembali ke rumah, bingung buku mau taruh dimana. Maka sebenarnya, membuka rumah baca adalah solusi untuk membuat rumah lebih lega. Apalagi ibu saya sering bilang, “Itu kardus buku mau diloakin aja apa…” Tentu beliau bercanda, tapi siapa pun pasti akan jengah dengan kondisi rumah yang berantakan dan terasa penuh.

Kadang tidak berimbang juga kesenangan menambah buku, tentu dengan membacanya, dengan tempat untuk menyimpannya. Ketika saya buka rumah baca dengan menyewa kios ibu saya bilang, “Nah, kan jadi banyak yang ikutan baca…” Tanpa menyinggung bagaimana saya bayar kontrak dan honor penjaganya. Alhamdulillah ada, saya menyewanya setahun.

Rumah Baca IQRA4

Turunkan Bukumu. Ini adalah intisari dari dua orang yang membuat saya merasa harus membuka rumah baca. Pertama dari ibu saya, “Jangan disimpan sendiri, biarkan orang lain ikut baca…” itu pesan penting sekali. Kedua dari Mas Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia Serang ketika saya dan beliau berbincang di sebuah sore berdua saja. “Dimana pun kamu, harus mempunyai manfaat buat sekitarmu. Turunkan bukumu atau kamu jadi kolektor buku…”

Kedua orang itulah yang membuat saya tidak sungkan menurunkan dua lemari koleksi komik. Buku-buku anak, buku sastra, buku agama, dll. “Nggak sayang Mas,” istri saya sempat berbisik. Dan saya menjawabnya dengan menggeleng. Istri saya mengangguk ketika saya beritahu alasannya. Malah akhirnya dia mengikhlaskan semua buku yang diterjemahkannya untuk dipajang dan dibaca orang.

Rumah Baca IQRA2

Senang Melihat Orang Membaca. Kalau orang bilang minat baca orang Indonesia rendah, sebenarnya tidak juga. Seperti Anies Baswedan bilang, minat baca orang kita sebenarnya tinggi, daya bacanya yang rendah. Maksudnya, lihatlah berapa lama waktu yang digunakan orang untuk membaca pesan whats app, twitter, facebook atau media sosial lain. Bisa berjam-jam. Tetapi begitu membaca yang lebih panjang, membaca buku apalagi. Langsung skip!

Ketika saya menyewa kios, medsos belum ramai. Tetapi tongkrongan di pos kamling dan warung kopi lebih ramai. Sibuk dengan menguarkan balon kata-kata. Kosong. Bicara lebih menarik dari membaca. Sehingga ketika saya melihat ada orang yang membaca buku, saya merasa bahagia. Rumah Baca Iqra semangatnya itu. Berbagi bahagia dengan membaca. Melihat orang membaca buku, membuat saya merasa terbuang ke masa lalu, melihat sosok orang tua saya yang sering dijumpai sedang membaca.

Maka kalau ada yang menganggap saya membuka rumah baca karena kesadaran literasi yang tinggi, malah saya sangsi. Karena alasan saya ya itu tadi, tidak bermutu dan berkualitas sama sekali. Cerita di atas itu terjadi tahun 2002, 16 tahun yang lalu. Kalau kejadiannya sekarang, saat literasi sedang sangat seksi… mungkin alasannya akan lain lagi, hehe… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s