SENGGANG

Rumah Berkelir


Rumah Bekelir

Saya menggambari tembok, itu bukan karena mengikuti tren. Tapi karena senang saja, terus ada waktunya, dan tersedia catnya. Soal menggambari tembok, saya sangat ‘moody’ kadang butuh asisten, paling tidak untuk ngeblok warna yang luas, terutama dan paling penting adalah membantu beberesnya. Nyuci kuas, bersihan tempat yang blebetan (apa tuh?), banyak lah. Males banget saya urusan itu…

Beberapa orang kecewa pada saya, karena tidak bisa memenuhi permintaan mereka untuk menggambar. Bahkan pernah menolak ‘orang dinas’ yang dua kali datang ke rumah meminta saya untuk menggambari tembok sebuah instansi. Kalaupun saya ‘pernah’ menggambari dinding resto teman saya, di bilangan Utan Kayu, sungguh itu karena cinta… haiyah.

Sombong banget ya, tapi begitulah. Karena menggambari tembok buat saya adalah salah satu bentuk rekreasi paling asyik. Makanya, saya sangat menikmati mural di jalanan, memandangi gambar-gambar di tembok dan kini masuk ke rumah-rumah. Seperti di Kampung Bekelir, di tepian Kali Cisadane, Kota Tangerang, tanpa juga menafikan seni mural ini jauh ke tahun-tahun berlalu. Banyak kota telah lebih dulu memberi ruang untuk ekspresi seni ini.

Saya melakukannya untuk rekreasi, untuk iseng, sehingga kalau rekreasi saya beralih menjadi ‘pekerjaan’ kok rasannya nggak asyik lagi. Jadi, jangan terlalu berharap saya akan mengiyakan permintaan untuk menggambari tembok. Salah satu alasannya sudah saya ungkapkan, berikut alasan lainnya…

Ngabisin Cat

Menghabiskan Sisa Cat. Jadi saya menggambari tembok kadang karena tanpa sengaja, menemukan cat sisa. Ada yang tinggal setengah, ada yang hampir habis, sebagiannya kering, atau malah sudah kering tinggal kalengnya saja. Dalam berbagai ukuran, dengan berbagai warna. Maka, isenglah saya mencoreti tembok kosong rumah saya dengan cat sisa tersebut.

Kalau kurang bagaimana? Ya saya beli lagi. Kalau gambarnya selesai dan catnya sisa? Saya simpan, nanti kapan waktu saya habiskan lagi untuk menggambari tembok atau bagian rumah yang mana lagi. Begitu terus, selalu ada cat sisa di rumah saya. Sehingga saya terus menghabiskannya. Walaupun kalau kurang pasti beli lagi. Jadi kapan selesainya, hehehe…

Ngabisin Cat1

Kurang Kerjaan. Saya ini kerjaannya tidak jelas. Kayaknya sibuk, tapi sebenarnya tidak. Kayaknya banyak kerjaan, tapi sebenarnya tidak punya kerjaan apa-apa. Ah, saya sendiri tidak tahu kerjaan saya ini apa. Maka, karena kurang kerjaan itulah saya iseng menggambari dinding atau tembok rumah.

Saya bisa melakukannya seharian penuh hanya terjeda hajat seharusnya. Isoma, istilahnya. Waktunya pun ngaco! Kadang sampai dini hari saya masih menggambari tembok. Mulainya pun bisa jam berapa saja. Pokoknya tiada batas waktu, sampai kelar walaupun berhari-hari. Walaupun hasilnya kadang tidak sesuai harapan, gambarnya jelek banget…

Ngabisin Cat3

Ngirit Cat Rumah. Ini adalah alasan ekonomis yang saya temukan kemudian. Saya biasa menggambar atau melukisi dinding dengan cat minyak. Sehingga secara kualitas lebih awet dan tahan lama, hehe kayak iklan batere ya. Keluarga besar saya memiliki kebiasaan, mengecat rumah menjelang puasa atau lebaran. Saya merasa, dinding rumah saya terlalu luas, sehingga berbiaya tinggi hanya untuk mengecat. Kalau THR habis buat beli cat dan ongkos tukangnya, lebaran bisa nggak ada ketupat dan opor karena duit habis.

“Sebenarnya seperti mengecat tembok, tapi ada motifnya, ada gambarnya,” kata saya kepada istri. Karena kalau dihitung secara matematika ekonomi rumah tangga, menggambar tembok itu tidak ada nilai ekonomisnya. Duit habis buat beli cat, kuas, kopi dan cemilan. Waktu habis tanpa menghasilkan uang. Selain itu tidak ada hasilnya, mosok mau lihat dinding bekelir rumah sendiri harus pakai tiket… Keuntungannya, tidak setiap tahun harus ngecat, karena tinggal dilap, kinclong lagi. Kalaupun mau dihapus, istri saya pasti akan bilang, “Jangan, sayang bagus-bagus masak dihapus…”

Ngabisin Cat2

Nyenengin Istri. Ini alasan paling dibuat-buat. Seolah romantis, padahal memang saya suami yang tidak bisa menyenangkan istri. Kemampuan saya membahagiakan istri dengan membelikan barang apalagi kendaraan sungguh mengenaskan. Apalagi sampai pada tingkatan membelikan emas, permata, dan berlian.

Sebagai suami kere, saya hanya mengakali sebisanya. Mengakali sama mengibuli, sebenarnya bedanya tipis. Karena istri saya suka foto, maka keisengan saya menyatu dengan niat membuat istri bahagia. Saya gambari tembok untuk dia berfoto-foto. Ini tips buat para suami kere seperti saya untuk membuat istri bahagia. “Yang penting belikan hape yang kameranya bagus…”

Jelaslah sudah, mengapa saya menggambari tembok. Tidak ada alasan yang bermutu sama sekali. Kalau sampai ada yang bilang, saya kreatif, seniman sekali, itu saya nyatakan hoax. Jangan dilanjutkan menyebarkan berita dan kabar hoax itu. Kalau mau datang ke rumah, mau berfoto, pakailah kamera istri saya. Karena hape saya sudah kecemplung closet dua kali gegara keasyikan main game sambil p** … [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s