SENGGANG

Melepas Lelah di Taman Gajah


taman gajah

“Itu apaan sih, rame amat!” Setiap kali saya lewat rasa penasaran tak terjawab. Soalnya, selalu saja untuk mampir tidak sempat. Selalu hanya melintas, selintas lalu. Sembari jalan, melihat pemandangan kendaraan parkir yang padat di pinggir jalan dan ramai orang.

Taman Gajah Tunggal, salah satu dari banyak taman di Kota Tangerang. Kota yang berusaha menjadi kota yang menginspirasi, seperti tema ulang tahun ke-25 Kota Tangerang. Orang banyak menyebutnya dengan Taman Gajah. Mungkin karena ikon gajah hitam setinggi dua meter dengan belalai menjuntai ke udara dan kaki kanan depan menginjak ban berdiri gagah di gerbang mudah dilihat. “Ada gajah, ada gajah…” Maka cari mudah di lidah, sebut saja Taman Gajah.

Posisinya mudah diakses karena persis di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan, tidak jauh dari pusat keramaian baik perbelanjaan juga pusat pendidikan Cikokol, Kota Tangerang. Dari Mall Tangcity tidak sampai lima menit jalan kaki menyeberang jalan. Apalagi dari komplek Kampus Yuppentek, Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan beberapa sekolah lain di situ. Berdiri di gerbangnya saja, sudah kelihatan. Kalau tidak terhalang oleh angkot-angkot yang ngetem cari penumpang ya…

taman gajah playground
Tempat bermain anak-anak

Saya yang datang bakda ashar sendiri. Sesekali bepergian sendiri itu indah dan membahagiakan sekali. Kesan unik taman ini sudah diawali dengan gajah di depan gerbang yang terbuat dari karet ban. Kalau biasanya lazimnya ada kuda hitam, sekarang ada gajah hitam. Sebuah karya seni tinggi, kreativitas yang harus diapresiasi. Karena keunikan itu telah sedari awal mematri kesan pengunjung taman ini. Wajar sekali, ikon gajah hitam dari karet ban ini menjadi spot foto penting bagi pengunjung. Ada dua view, bila dari arah datang akan berlatar gerbang setengah lingkaran serta indahnya tepian Sungai Cisadane. Atau bila dari mau foto dari arah sebaliknya, latarnya gedung tinggi sebuah sekolah.

Keunikan taman ini, berasa sekali dari masuk. Pembatas jalanan menuju taman ini juga dari ban yang ditata artistik. Masuk lebih dalam, zona playground yang cukup komplit unsur ban sangat dominan. Mulai plosotan, jungkat-jungkit, ayunan, dll. Begitupun tempat duduknya, meski berlapis kayu, tetapi penyangganya dari ban. Saya semakin penasaran mengelilingkan mata. Benar juga, penunjuk arah dibuat dari ban, lampu sekeliling taman baik yang ditanam maupun yang menggantung, dikreasi dari ban. Termasuk tempat sampahnya. Saya terus terang kagum dengan kreativitas ini. Segera maklum karena taman ini dibangun atas kerjasama Pemkot Tangerang dengan pabrik ban Gajah Tunggal dan diresmikan Agustus 2017 oleh Walikota Arief R. Wismansyah.

taman gajah playground2
Banyak tempat duduk

Ada amphitheather atau amfiteater, sebuah bangunan tempat pertunjukan yang diadaptasi dari zaman kekaisaran Romawi. Amfiteater Taman Gajah berbentuk setengah lingkaran cukup representatif untuk pergelaran seni dan pertunjukan. Waktu saya datang, ada ‘pergelaran’ senam oleh ibu-ibu, hehe… katanya rutin setiap hari Rabu dan Kamis. Saya sempatkan duduk, menikmati pergelaran gratis.

Setelah mengelilingi taman ini, dari ujung ke ujung. Menyisir jalanan persis di tepian Sungai Cisadane, menyapa orang yang memancing, berpapasan dengan beberapa pasangan dan orang jogging. Menemukan tempat shalat dan toilet di ujung. Ketika berjalan balik lewat jalur berbeda, merasakan semakin sore pengunjung semakin ramai. Beberapa datang bersama keluarga, anak-anak sepulang sekolah, muda-mudi, berbagai umur, berselfi, duduk-duduk bercanda. Menggelar tawa hingga menggelegak.

taman gajah playground3
Ramah anak

“Kalau nggak ujan mah ramai sampai malam, Om,” kata penjual kopi yang jualan di kantin taman. Saya juga turut gembira, karena itulah fungsi taman. Bukan semata keindahan artistik dan paru-paru kota. Tapi menjadi ruang bahagia bagi warga. Karena di situ ada interaksi yang sangat rileks. Melepas penat, mengendurkan syaraf setelah penuh dengan riuh pekerjaan dan rutinitas. Saya merasakan itu, pun melihat mereka yang datang ke taman dengan membawa rasa yang kurang lebih sama seperti saya.

Di Kota Tangerang, sekarang banyak taman. Pertanda pemimpin mulai peduli kebahagiaan warganya. Pertanda ada lelah dan silang sengkarut yang bikin dahi cepat berkerut. Pertanda kelelahan warga kota begitu padat dan menumpuk. Pada semua pertanda itu, di taman-taman semuanya bisa melarut. Mengurai segala kusut, menjadi bahagia meski sekejap belaka.

taman gajah playground4
Kantin bersih, harga wajar

Bunyi orang bershalawat menjelang maghrib mengalun dari Masjid Al- Amiin yang menonjol dengan nuansa hijau kuning nan artistik di seberang taman. Segera saya selesaikan teguk kopi sasetan dan seporsi somai. Saya bayar, dan harganya wajar. Hidup butuh keseimbangan, butuh relaksasi, lahir dan batin. Setelah rihlah melepas lelah di Taman Gajah, saatnya saya bergegas menyongsong azan yang indah… [tef]

taman gajah playground5
Masjid Al-Amiin di seberang taman

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s