FUN Institute

Menghadirkan Bintari


bintari blog1

“Bintari itu nama cucu saya, karena dia jauh, tinggal terpisah jauh di luar kota, saya menghadirkan dan menumbuhkannya dengan cara yang berbeda.”

Itu pertanyaan mengapa namanya PAUD Bintari bukan yang lain. Setidaknya, saya ingin mengungkapkan rasa sayang itu dengan memberikan ‘ruang tumbuh bersama’ bukan hanya untuk satu orang saja. Tetapi untuk anak-anak yang memang sudah seharusnya tumbuh bersama dengan bahagia. Menikmati masa anak-anak sesuai masanya, termasuk memberikan kesempatan kepada ibunya untuk menemani ‘masa tumbuh’ itu agar tidak terlalu kaget, karena zaman terlalu gegas berlari.

“Tahu-tahu udah gede aja…” atau “Kayaknya baru kemaren brojol, nggak kerasa udah segitu.” Ungkapan semacam ini bisa bermacam tafsir. Bisa jadi bangga, karena anak-anak tumbuh cepat. Ada rasa sedih, mengapa masa indah bersama si kecil yang lucu dan menggemaskan terlalu cepat berlalu. Atau malah, penyesalan karena ada banyak momen penting di masa tumbuh itu terlewatkan dan tak mungkin terulang.

PAUD Bintari adalah salah satu cara saya dan istri, yang akhirnya bersama teman lain dalam Yayasan FAN melembagakan kebaikan dan kemanfaatan. Prinsip utamanya adalah berbagi. Berbagi kebaikan, berbagi kemanfaatan, berbagi kebahagiaan, dan berbagi kesyukuran. Daya berbagi ini adalah pesan penting dari almarhumah ibunda saya, berkali-kali berulang dalam berbagai kesempatan, beliau berpesan, “Jadilah orang baik dan bermanfaat. Jangan lelah berbuat baik…”

Apa yang saya lakukan hanyalah upaya menerjemahkan pesan itu. Pesan orang yang sangat saya hormati, muliakan dan sayangi tiada batas. Sehingga saya ingin membahagiakannya terus-menerus meski beliau sudah tiada. Pun hanya dengan langkah-langkah kecil semacam ini. Kepada teman-teman di Yayasan FAN, yang juga menaungi semua aktivitas FUN Institute yang bergerak jauh lebih dulu, saya mengingatkan tak henti, “Kita harus jadi manfaat yang baik, tempat ini juga harus jadi manfaat bagi kebaikan.”

PAUD Bintari adalah salah satu saja dari upaya melembagakan pesan baik itu. Dengan segala keterbatasan, saya meyakini, bahwa sesuatu harus dimulai. “Sesuatu yang kini besar, itu dulunya kecil,” kata sepupu saya yang datang dari Pontianak membesarkan hati. “Banyak sesuatu yang kecil, tapi manfaatnya besar,” ujar sahabat saya menyemangati. Tentu saya harus banyak berterimakasih kepada orang-orang telah turut mengamini “tindakan kurang kerjaan ini…”

Kepada istri saya tentu saja terimakasihnya tak terkira, karena dia mau saja diajak berakrobat sepanjang usia pernikahan ini. Memiliki suami yang tiada merk dan sulit dijejak anatomi berpikirnya, “orang macam apa sebenarnya dia”. Tidak mudah, tapi dia tidak menyerah, bahkan dalam keadaan susah, pailit yang parah, tidak juga goyah. Kepada Fitri yang turut jumpalitan mengikuti cara pikir dan tindakan saya yang sangat random. Berbalik dengan cara pikir dan perilaku akademisnya yang teratur, ilmiah dan metodik. Saya berterimakasih, karena banyak pekerjaan yang selesai karena kecekatannya. Kepada semua teman guru PAUD Bintari yang datang sendiri, “Kalau di sini bikin PAUD, saya mau jadi gurunya Pak…” Uwi, Indri, pernah juga ada Andi, orang-orang yang punya latar akademik tinggi tapi tak sungkan turut dalam gerak ini.

Banyak yang tak bisa saya sebut nama, tapi pada hatinya terpatri doa. Menyorong doa dan harapan. Dalam cinta yang tak berbatas, dalam jarak yang tak terpeluk, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Mbak Riri tentu saja harus disebut. Orang yang melapangkan jalan saya ‘menghadirkan Bintari’. Tak perlu saya sebut siapa dia, yang pasti dia orang hebat. Buat saya dan buat banyak orang tentu saja. Buat Angga dan Nana, Bintari tak pernah pergi dari sini. Rasa sayang dan cinta telah membuat Bintari menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar Bintari. Dia akan menjadi ‘bintang terang di langit malam’ seperti harapan ketika menyematkan nama itu padanya.

Menghadirkan Bintari adalah menghadirkan kebahagiaan. Bukan buat saya semata, buat pengelola dan yang terlibat didalamnya. Tapi menghadirkan masa depan mulai dari hari ini. Saya tidak muluk-muluk dengan PAUD Bintari ini, masih banyak yang harus terus dibenahi dan diperbaiki. Mohon doa, semoga langkah kecil ini menjadi kebaikan, menjadi manfaat, dan maslahat… [tef]

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Menghadirkan Bintari”

  1. Hehehe… terima kasih, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Banyak kebaikan yang dekat, insya Allah terwujud bila punya tekad. Kalau saya karena nekat… 😀

      1. Mutu kok paak, saya malah menganggap anda sebagai anak berbakti, kakek yang membahagiakan dan suami yang mungkin memahami pasangannya dengan cara tersendiri hehehe. Mantap kok pak. Orang lain mungkin butuh sebuah dorongan besar untuk bertindak. 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s