Sudut Pandang

Rahasia yang Tidak Lagi Rahasia


Di zaman now, pergerakan informasi seperti adu balap. Riuh dan gempita, entah jadi apa, sekadar penggembira, hore-hore belaka, atau juru bicara yang tak lagi pakai toa, namun kata-kata melontar dari balik selimut ke seluruh jagat. Sepertinya, banyak peribahasa yang harus turut zaman, meski masih maknawi, tapi sudah kurang njamani. Kontekstual, tapi kurang milenial. Padahal kondisi ini, pas sekali dengan peribahasa lama, “Lempar batu sembunyi tangan”. Dalam konteks kekinian, bisalah diubah semisal, “Lempar ujaran, sembunyikan badan.”

Tentang ujaran-ujaran dalam media sosial, sebenarnya sama serupa seperti di dunia nyata. Semua boleh berujar, semua boleh berkoar. Tetapi tetap ada aturan, ada etika, adab yang beradab, saling menghargai, saling menghormati, tanpa caci maki dan tetap cool. Ini adalah persoalan komunikasi antarpersonal dan interpersonal tentang bagaimana kesetaraan tercipta dalam berbicara, penghormatan menyerta, dan beradab dalam interaksi dengan sesama.

Dimana mendapatkan ‘kemampuan’ untuk bisa berkomunikasi yang menjunjung tinggi etika dan adab itu? Fenomena caci maki, penghujatan, ujaran kebencian, menyebarkan kebohongan bahkan memfitnah di media sosial, sebuah ruang yang nyaris tanpa kendali dan kekuasaan kontrol dari orang terdekat sekalipun. Ujaran dalam media sosial, semestinya menjadi etalase karakter pemilik akunnya. Meskipun ada banyak kekhususan dan di luar kewajaran karakter sebenarnya.

Sekali lagi dimana tata cara, adab, dan karakter baik berkomunikasi itu didapat.

Pertama, orang tua. Pelajaran pertama tentang komunikasi jelas adanya di wilayah ini. Orang tua, anak, dan keluarga intinya. Transformasi  nilai-nilai kebaikan dalam komunikasi yang baik akan melahirkan karakter yang baik. Penekanannya pada kebaikan, semua orang tua, generasi pendahulu, selalu berharap generasi berikutnya adalah pemilik warisan kebaikan itu. Jadi, penting sekali edukasi karakter dalam ruang terkecil bernama keluarga, dalam ikatan bernama orangtua dan anak.

Pola asuh, pola didik, dan pola komunikasi sebuah keluarga, akan merepresentasikan kualitas karakter dari keluarga itu. Sesuatu yang baik, output-nya insya Allah baik. Andai ada yang bermasalah dalam salah satunya, entah cara asuhnya, pola didiknya, atau perihal komunikasinya, maka sudah banyak kejadian dan contoh, output di luar yang diduga dan tak terkontrol. Kadang kala, orangtua bahkan kaget sendiri, “Anak saya baik kok, nggak mungkin dia melakukan ini…”

Kedua, lingkungan. Kita adalah siapa teman-teman kita. Seperti dalam sebuah hadits, “Berteman dengan tukang besi, terkena panasnya, berteman dengan tukang minyak wangi, dapat wanginya.” Tentu masih tugas orang tua mencari, menunjukkan, mengarahkan, dan menyediakan ‘ruang pergaulan yang sehat’ untuk anaknya. Termasuk teladan nyata dari pilihan pergaulan orangtuanya yang kini jelas mudah dilihat jejaknya. Berapa lama anak-anak terlepas dari orangtuanya dalam sehari, bila orangtua bekerja di luar rumah (terutama di kota-kota besar) dengan rata-rata lebih sepuluh jam sehari.

Menyerahkan sepenuhnya kepada institusi sekolah tentu tidak bijak. Memercayakan kepada pengasuh saja lebih tidak bijaksana. Mencari lingkungan yang baik dan sehat menjadi sangat penting bagi orangtua. Tentu ada cara dan jalan keluarnya, tidak selalu sama, tetapi prinsipnya sama. Lingkungan yang baik akan memberi daya kebaikan kepada orang di dalamnya. Pun sebaliknya, sudah begitu rumusnya. Jangan sampai menjadi orangtua kagetan, “Kok anak gue ngomong begitu…” Manakala sang anak memiliki kosa kata ajaib seperti,  bego lu, dasar kopig, bangsat… dll. Bukankah kuping kita ngilu mendengarnya, apalagi bila sampai ditulis dalam akun medsosnya. Akan lebih banyak kuping yang berdenging.

Ketiga, pemangku kebijakan. Sudah ada UU ITE, sudah banyak juga yang terjerat karena ujaran kebencian dengan undang-undang ini. Hate speech dan hoax menjadi bidikan polisi siber. Nah persoalannya, lalu lintas percakapan di dunia maya itu riuhnya bukan main. Seberapa cepat dan cakap jaring undang-undang itu mampu mengayaknya. Karena beberapa kasus, bisa cepat dijerat, selebihnya melenggang sepi meski sama bobot pelanggarannya. Ini pekerjaan rumah, bahwa nilai-nilai berpancasila dalam media sosial, khususnya sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berlaku pada tumbuhnya rasa keadilan dalam penanganan terhadap pelaku hate speech dan penyebar hoax.

Persoalan berikutnya, keteladanan bermedia sosial dari para pemangku jabatan publik. Konsistensi terhadap kebijakan, ucapan, dan tindakan sangat menjadi perhatian masyarakat. Silang pendapat di ranah publik bisa membuat gaduh panjang. Tidak seperti bicara di dunia nyata. Berujar di media sosial semuanya terarsipkan. Jejaknya mudah dilacak. Jadi karakter seseorang pun tampak. Banyak rahasia yang kini tak lagi rahasia. Semua bisa dibuka kapan pun. Siapa yang rajin memaki, lempar kata sembunyi badan, lempar cacian sembunyi nama. Meski banyak ujaran baik dan membuat bahagia. Catatan pentingnya adalah bila yang rahasia tak lagi rahasia, maka pilihannya adalah kejujuran tanpa pura-pura, sampaikan saja yang faktual tanpa mengada-ada.

Pesan bijak bermedia sosial oleh-oleh dari #flashbloggerbanten kerjasama Kominfo dan Pemprov Banten di Hotel Le Dian Serang ini, memberi nasihat baik bagi yang hadir memenuhi Krakatau Room. Bahwa media sosial tetaplah ruang yang harus menjunjung tinggi etika, fakta, kejujuran, dan beradab. Apa pun posisi kita, sebagai orangtua, sebagai anak, sebagai pemangku kebijakan, dan sebagai masyarakat, “Hati-hati bicara di zaman now…” [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s