Story & History

Berbagi Bahagia


mural belum selesai

“Boleh foto di sini?” tanya istri ketika saya sedang menggambari tembok. Gambar yang belum selesai, dan tempat yang masih berantakan karen berserakan kaleng cat dan peralatan menggambar lainnya. Saya menyilakan, dia berfoto swadiri beberapa kali. Justru saya merasa bisa istirahat sambil menyeruput kopi yang sejak tadi disediakan istri.

Sederhana sekali membagi bahagia, pikir saya. Cukuplah memberi ruang, cukup dengan memberi kesempatan.

Suatu hari dulu, ada sahabat saya menyayangkan kenapa harus memberikan kepercayaan pada seorang yang dianggap tidak tepat. Banyak argumen mengapa sahabat saya ini menyangsikan, mengkhawatirkan, bahkan menyesalkan apa yang saya lakukan. Salah satu alasannya, “Dia kan anaknya begitu, kalau barangnya dibawa kabur gimana?”

Cukup dengan satu alasan itu dulu untuk menjelaskan makna ‘dia anaknya begitu’. Begitu yang membuat sahabat saya sangat khawatir. “Itu kan nilainya besar, Mas,” ujarnya menguatkan alasan kekhawatirannya. Saya menyimak dan mendengarkan semua keberatan itu. Menurut saya, bila orang berkeberatan pada sesuatu, salah satu cara meringankan yang levelnya paling rendah adalah mendengarkan. Level berikutnya memberikan solusi. Baik cash atau sekadar meluaskan kesempitan karena deraan hal-hal berat tadi.

Saya memilih yang pertama, mendengarkan keberatan sahabat tadi. Sampai semua selesai barulah saya jawab. “Oke, saya percaya dengan ungkapan ini, tidak semua orang itu buruk, dan tidak semua orang baik, tidak ada manusia yang sempurna.” Itu pernyataan pertama saya padanya. Maksudnya, dalam diri seseorang, tak terkecuali saya dan dia, tidak sempurna. Ada buruknya, ada baiknya. Saya menyebut banyak keburukan yang ada, saya yang begini, saya yang begitu, juga saya yang beginu… Saya menunjukkan, daftar keburukan dalam diri saya lebih banyak dari pada kebaikan yang ada.

Tidak mudah membuat dia paham walau mengangguk sepanjang pembicaraan. Namun dengan semua alasan itu saya bilang pada sahabat ini, “Saya harus memberi kesempatan pada dia. Dia juga butuh kesempatan untuk menunjukkan masih ada kebaikan dalam dirinya. Dan baginya, dia bertaruh dengan kepercayaan yang berikan, bukanlah hal yang mudah dan ringan.”

“Tapi kan…” sahabat saya masih sangsi, tapi lirih sudah daya ucapnya.

Tidak apa, saya tidak pernah memaksa orang seirama, segelombang dan sefrekwensi. Justru semakin tidak sama, saya semakin belajar padanya. Semakin menemukan nasihat pada dirinya. Dalam hal ini, saya belajar tentang ‘kehati-hatian dan stigma’. Hati-hati sudah saya lakukan, bahwa saya mengirim barang lewat anak ini dan memberitahu penerima serta memberikan nomor teleponnya.  Tentang stigma saya belajar, ternyata berat sekali menjadi orang baik. Sekali saja terciduk keburukannya, seolah habis sudah kebaikannya. Sekali salah, seumur hidup tak tampak hal-hal benar yang dilakukan. Satu kegagalan menutup semua hal baik yang dibangunnya.

Lalu apa hubungannya dengan istri saya yang selfi di gambar dinding yang belum jadi?

Kisah yang benar terjadi itu, sebenarnya sama esensinya. Memberi kesempatan, memberi ruang untuk berbahagia.

Sebuah hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan kapan saja. Kalau mau matematis, justru dengan memberi kesempatan itu, banyak kebahagiaan lain yang kembali. Misal, saya meyilakan istri berselfi. Saya merasa bahagia karena istri bahagia. Kedua, saya bahagia karena bisa istirahat sejenak dengan menikmati kopi yang juga bagian dari kebahagiaan. Lainnya? Kebahagiaan istri saya, kebahagiaan saya akan terbagi kepada yang lain. Fotonya diposting di media sosial. Beberapa orang memberi like, mengomentari, turut mengapresiasi.

Rupanya, berbagi bahagia itu sederhana sekali. Seperti saya beruntung bersahabat dengan tukang patri. Perbincangannya yang konyol cukup bernas meski kadang norak. “Cukup dengan memberi ruang, cukup dengan memberi kesempatan…” itu saya kutip dari tukang patri. Saya hanya berusaha mempraktikkan dan berupaya menerjemahkan dalam wujud-wujud nyata. [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s