Story & History

Hingga Tetes Terakhir


guz reza

“Anda itu adalah teman-teman Anda, silakan lihat tujuh orang paling dekat dengan Anda, siapa mereka…” kalimat ini, berulang kali saya dengar, meski dengan redaksional yang berbeda. Intinya, kita itu representasi teman-teman kita. Siapa yang terdekat? Kembali saya diingatkan oleh Ustadz Reza M Syarif atau Guz Reza. Motivator muslim yang pernah meraih rekor MURI dalam Training Motivasi Terlama di Dunia – 24 Jam Nonstop tahun 2006.

Sambil terus menyimak paparan motivator dan inspirator ini, saya mencoba membuat daftar teman terdekat. Dengan siapa saya bergaul. Dimana biasa saya berkumpul, serta apa yang menjadi bahan bicara ketika bersama. Ternyata, tidak mudah. Saya terbata-bata untuk melakukan hal yang sangatlah sederhana. Menuliskan tujuh saja teman terdekat saya… ah betapa kuper dan kudet saya ini! Baiklah, buat pe-er saja. Saya mau menuliskan keindahan lainnya dalam pertemuan yang ajaib Selasa malam itu, 21/3/2018 di Café Kopi Pengkolan Modernland.

Pertama, Guz Reza menyengat dengan hal yang sangat elementer. Perihal mindset! “Ubah mindset kalau mau jadi orang sukses!” kira-kira begitu bahasa gampangnya. Jangan takut bermimpi, karena mimpi tidak bayar. Sambil berseloroh, pria yang lulusan sekolah pilot ini yang kini jadi motivator kelas dunia mengatakan, “Mosok sih, mimpi doang nggak berani…”

Saya sebenarnya kecut. Iya yah, ngapain juga takut ngimpi. Padahal ngimpi tinggal tidur, bismika allahumma amuut wa ahya. Dengan nama Allah yang maha mematikan dan menghidupkan kembali. Kalau doanya benar, tidurnya nyar’i, insya Allah mimpinya juga baik. Memimpikan jadi orang kaya yang baik, tentu juga menarik. Bukankah semua sahabat yang dijamin surga itu semua orang kaya, baik, dan berilmu.

Pentingnya mengubah mindset salah satunya adalah berani bermimpi. Saya teringat sebuah talkshow, ketika Anggun –penyanyi Indonesia yang kini ditinggal di Paris-  ditanya, apa yang membuatnya berani seorang diri merenda karier di Paris. “Berani bermimpi! Setelah mimpi, lari mewujudkan mimpi,” katanya. Dan hasilnya, dia sukses. Beda banget sama saya, jarang mimpi, mimpi juga tidak berani terlalu tinggi, kalaupun bangun, biasanya tidur lagi. Tuh, jelas sekali saya terindikasi harus segera mengubah mindset untuk sukses.

Kedua, menurut Guz Reza, kita harus paham benar beda kaya dan sejahtera. Menurut lelaki yang sudah keliling dunia ini bilang, “Orang kaya sama orang sejahtera itu beda. Bedanya apa…” Di hadapan sekitar 30-an orang yang hadir, dia memberi pembedanya. “Orang kaya, kaya saja, banyak duitnya tapi kekayaan dan duitnya tidak memiliki impact kepada orang lain. Beda dengan orang sejahtera. Kekayaannya berguna bagi orang banyak dan secara terus-menerus menjadi manfaat orang di sekitarnya.”

Waduh, saya langsung kecut lagi. Makin berasa deh belum mandi lagi setelah seharian beraktivitas dan langsung ke acara ini. Memenuhi undangan acara bertajuk #NgopibarengBonnie, ya Pak Bonnie yang kini anggota dewan provinsi di Banten. Dulu sekali, sekitar 2004 banyak berinteraksi dan dekat dengan beliau. Lalu aktivitas saya di Jakarta membuat intensitas itu berkurang. Lalu diperjumpakan kembali setelah beberapa tahun tak jumpa ketika sama-sama shalat Jumat di rest area KM 14 tol Janger. Pertemuan yang indah…

Jadi untuk menjadi sejahtera itu juga harus punya mindset kuat terhadap sikap dan mental. Banyak yang tidak siap kaya, lalu kaget dengan kekayaan yang datang. Mentalnya rapuh, jadinya norak dan tiada guna kekayaannya. “Jadi harus dibangun mindset, sikap dan mental untuk siap menjadi orang sejahtera,” kata Guz Reza. Dia mengilustrasikan seorang miskin di Las Vegas yang menang jackpot jutaan dollar. Tetapi karena ketidaksiapannya, mentalnya mental kere, habis tak bersisa semua itu dalam dua minggu saja. “Tidak jadi apa-apa dan dia kembali miskin.”

Nah poin ketiga ini yang penting. Bagaimana indikator penting dalam menuju ‘sejahtera’. Guz Reza membagikan tips-nya. “Rakus terhadap ilmu dan ambisius dalam kebaikan.” Hmm, saya semakin ciut dan asem! Merasa cukup dengan yang diketahui, sungguh bahaya sekali. Ilmu yang tak habis ditulis dengan tinta tujuh samudera, tak setetes pun yang saya ketahui. Kebaikan yang ada dimana-mana dan waktunya kapan saja, tak maksimal saya kerjakan, tanpa ambisi sama sekali.

“Andai ilmu itu handuk basah, peraslah sampai tetes terakhirnya. Itu pertanda Anda rakus ilmu.” Pesan yang menyedihkan sekaligus melecut diri saya. Sedih karena etos belajar yang rendah. Melecut untuk belajar terus, belajar sepanjang hayat. Kepada siapa saja, di mana saja. Siapkan tenaga untuk memerasnya sampai tetes air terakhir.

Teringat tukang patri, dia kalau minum kopi benar-benar sampai tetes terakhir. Tinggal ampasnya. [Tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s