Sudut Pandang

Baru Kulit, Belum Isi


Flashblogging“Duren itu yang dimakan isinya, bukan  kulitnya!”

Tentu sudah banyak yang mahfum dan sangat paham tentang durian. Kalau sampai tidak kenal durian, si raja buah katanya. Bisa jadi perlu di-upgrade pengetahuannya tentang ilmu buah-buahan, agar tak stagnan hanya berisi tentang buah dan membuahi saja. Biasanya, akselerasi untuk berasosiasi yang rada-rada gimana memang cepat sekali. Buah dan membuahi.

Durian itu pesonanya bukan hanya di bentuknya. Tetapi aromanya. Di Indonesia yang tropis, entah berapa varietas buah durian jenisnya. Hampir tumbuh di semua tempat, terutama di Sumatra dan Jawa. Dalam berbagai aroma dan rasa itulah, daya pikat durian mampu membuai penikmatnya. Baik penikmat pemula, penikmat hore-hore belaka, atau penikmat durian sesungguhnya.

Demikianlah Pancasila, semua orang sudah tahu dan paham. Aroma, bentuk, dan jenisnya. Lagi-lagi, pekerjaan menjelaskannya bak angin lalu belaka. Seperti dua orang berboncengan sepeda motor dan saling bicara. Suaranya terbang ditelan angin, dimakan gemuruh bunyi kendaraan yang lebih besar, truk, bus dan tronton. Tak terdengar jelas, sehingga kadang nyambung, kadang los. Tak tahu maksudnya. Namun pembonceng terus menjawab, “Iya, iya…” Semata untuk menghargai, menghormati, dan memberi apresiasi kepada lawan bicaranya.

Seperti juga makan telur asin, yang dimakan itu isinya bukan kulitnya. Sebagai penikmat, orang tidak akan peduli sejarahnya, cara membuatnya, serta abai begitu saja proses lainnya. Yang penting bagi penikmatnya hanya satu, buka kulitnya, makan isinya. Entah itu telur asin yang berstempel dan banyak dijual sepanjang jalanan Brebes, atau yang tidak berstempel. Karena varian baru telur asin panggang atau bakar itu kan agak sulit memberi stempelnya.

Demikianlah implementasi nilai-nilai Pancasila, hal yang paling penting adalah esensinya. Sekali lagi esensi. Hari ini, banyak yang berhenti pada simbol belaka, menjadi slogan saja agar gagah tampaknya. Aku Pancasila, bukanlah esensi. Karena semua orang bisa mengatakan itu. Itu hanya kulit, hanya citra. Siapa pun bisa mengklaim dan membingkai foto dan dirinya seolah paling Pancasila.

Efek kecepatan informasi, teknologi yang melesat berlari. Sering membuat dangkal dan tak dalam. Hanya bermain-main di sampulnya, tebar pesona, tanpa pernah menyentuh hal paling esensial, penghayatan atas nilai-nilainya. Jauh dari kedalaman, keruh, dan cenderung jauh dari jernih.

Seperti durian dan telur asin, esensi nilai Pancasila itu ada diisinya. Bukan dikulitnya. Dan penghayatan itu kelasnya setelah tahu dan mengerti. Pun setelah melalui fase paham, barulah penghayatan itu ada. Dan itu implementasi…

Maksud inilah yang diharapkan dalam kegiatan #flasboggingbanten yang diadakan oleh Dinas Kominfo bekerja sama dengan Pemprov Banten, di Hotel Le Dian Serang, 20/3/2018. Menghadirkan Mas Banyu Murti blogger kuliner terkenal, Mas Dias dari BPIP – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Prof. Henri Subakti, staf ahli Menkominfo. Jadi, kalau ngeblog adem, tanpa hoax, tanpa kabar bohong dan dusta, maka kita sudah di ruang penghayatan. Di ruang esensi, tak perlu lagi simbol-simbol dangkal yang hanya citra. Membingkai pesona belaka…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s