Sudut Pandang

Mulut yang Kau Robek Sendiri


‘Wong kuwi sing dicekel omongane’ – orang itu yang dipegang omongannya. Mungkin ini kalimat purba yang terus turun temurun hingga hari ini. Semacam warning, peringatan, atau malah sebagian menjadikan pegangan. Menjadi modal, menjadi bekal bersosialisasi, berinteraksi dengan orang lain. Artinya, betapa pentingnya sebuah konsistensi bagi seseorang dalam bersikap.

Akan banyak muncul akibat dari ketidakkonsistenan omongan. Salah satunya adalah ketidakpercayaan. Apa enaknya kalau seseorang sudah tidak dipercaya orang lain. Sementara sehari-harinya dia tak pernah bisa bergaul atau lari dari bumi untuk berinteraksi dengan makhluk lain semacam alien misalnya. Tak ada pilihan. Mau tidak mau, dia akan ketemu, akan bersosialisasi dengan orang-orang yang dikenalnya maupun yang mengenalnya.

“Halah, plin plan…” Betapa rendahnya ungkapan itu. Meski hanya di batin, tapi bila bertemu akan mengalirkan energi yang mampu membuat seseorang tidak percaya diri lagi. Walaupun masih bisa berkelit dan mengemas dengan kalimat bullshit lainnya. Mungkin orang mendengarkan, tapi tak akan menyimak. Kalaupun itu benar, tak lagi menjadi sumber rujukan utama bagi lawan bicaranya.

“Esuk dele sore tempe!” Pagi kedelai sore tempe adalah ungkapan lain atas cideranya konsistensi. Pagi ngomongnya apa, sore ngomongnya apa. Dulu bilang apa, sekarang bicara apa. Terlalu banyak contohnya. Berbahayakah orang-orang seperti ini? “Tidaklah, kan keadaan memang mengharuskan begitu!” ada yang beralasan demikian. Pertanyaannya siapa yang mengharuskan ikut keadaan itu. Ini ciri pragmatisme. “Jangan terlalu kaku lah, dibuat fleksibel saja…”

Kaku berbeda dengan konsisten, fleksibel beda makna dengan mencari aman.

Sederhana sekali, soal ucapan. Tapi bila tidak konsisten betapa luar biasa bahayanya. Bagi yang tidak memiliki kekuasaan apa pun pada dirinya, tidak melekat tanggung jawab atas diri orang lain, khalayak dan masyarakat banyak, tentu akibat hanya ditanggung yang bersangkutan. Tetapi, maaf ini… kalau yang bersangkutan memiliki ‘kekuasan’ atas nama apa pun. Efeknya bisa menyeret banyak hal. Bisa menjadi kerugian, bisa menjadi kebangkrutan, bisa menjadi pemicu keributan.

Soal integritas memang berat. Menjadi orang yang dipercaya itu memang tidak mudah dan berat lakunya. Langkahnya harus sangat hati-hati, ucapannya harus dipikir seribu kali. Ingatan massa itu tak terlipat masa. Orang banyak tentu ingatannya panjang, meski banyak yang pendek ingatan. Tapi, jejak rekam kini mudah nian dijelenterehkan, diperlihatkan. Karena dunia kearsipan kini di tangan semua orang. Semua yang terekam, semua yang terbukukan.

Rasanya, belum terlalu lama berita tentang calon peserta Pilkada tergelincir karena rekam jejak digitalnya. Foto masa lalunya yang tak pantas, meruntuhkan semua obsesi yang sedang ditujunya, dan nyaris menutupi semua prestasi dan pencapaian kerjanya yang gemilang. Itu hanya sekadar contoh saja. Betapa pentingnya menjaga integritas. Saya pernah bertanya kepada teman, “Kenapa ada yang harus disiram air keras mukanya?” Merujuk saya pada kejadian yang menimpa penyidik anti rasuah, Novel Baswedan. “Banyak kemungkinannya, yang pasti ada yang merasa terancam, ini soal reputasi,” kata teman saya yang banyak tahu tentang kasus korupsi.

“Makanya hati-hati…” pesan teman saya.

Hmm, teringat ustadz mengisahkan tentang hakikat bertuhan. “Kalau kita melewati jalanan berduri, apa yang kita lakukan? Tentu kita akan jalan berhati-hati. Karena disitulah hakikat kehidupan dan perjalanan menuju ilahi. Hati-hati…” Integritas juga ada kehati-hatian di dalamnya. Ada penghormatan yang tinggi pada kejujuran, menepati janji, dan memuliakan kata hati. Kata bijak ini keren sekali, bolehlah saya mengutipkannya di dini. “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.”

Pernah ada yang hendak potong kuping bila jagoannya kalah di Pilkada, tapi tak pernah ditepatinya. Itu contoh kelancungan di zaman now yang sangat gegabah. Ada banyak lagi pejabat publik yang janjinya sundul langit. Tinggi dan membuai. Tapi banyak yang tak terealisasi. Siapa yang mblenjani janji, tak memenuhi janjinya, tanpa disadari, dia sedang merobek mulutnya sendiri…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s