Sudut Pandang

Sindrom Jarkoni


mulai dari sendiri

Mendadak kok saya terusik dengan kata bijaksana. Mengapa mesti sana, bukan sini. Tergelitik karena kata itu, saya mengecek ternyata di KBBI V Daring sana itu kata penunjuk tempat yang jauh (atau dianggap jauh) dari pembicara. Hanya menautkan saja, walau sebenarnya kata sana sudah sangat familiar dan banyak diketahui maknanya.

Sana dan sini adalah sama-sama kata penunjuk. Sini menunjuk lebih dekat, ada di dekat-dekat yang menunjuk. Atau malah melekat pada diri sang pembicara. Lalu apa hubungannya dengan bijaksana dan belajar bijak?

Waktu menjelang remaja, rumah kakek saya hampir setiap hari ada tamu. Macam-macam maksud tujuannya. Beragam pula pembicaraannya, serbaneka karakter orang-orangnya. Namun ada satu dua orang yang sangat diciriin, ehm… ditandai tepatnya dikenali betul karakternya oleh nenek saya. “Halah, dia sih Jarkoni!”

Jarkoni itu bukan nama orang. Tapi singkatan dalam bahasa jawa, bisa ngujar tapi ora nglakoni. Bisa bicara tapi tidak bisa menjalani. Kalau bahasa gampangnya, omdo! Omong doang. Kalau bicara kuahnya banyak, isinya sedikit. Bahkan kadang isi yang sedikit itu pun hoak belaka. Sepertinya, hanya beda zaman dan istilah saja kalau orang-orang pembawa kabar ‘berkuah’ dan hoax belaka sudah dari dulu kala.

Mengapa bijaksana… bukan bijaksini.

Saya tidak paham tentang ilmu pembentukan kata. Jadi semau-mau saya saja menafsirkannya. Wong tulisan ini juga hanyalah hiburan belaka. Hanya saya tergelitik, apakah ini ada hubungannya dengan cara orang melihat sesuatu. Yaitu cenderung melihat sesuatu di luar dirinya daripada melihat apa yang ada dalam dirinya. Seperti pepatah yang sangatlah mahsyur, gajah di seberang lautan tampak, semut di pelupuk mata tak terlihat.

Bukan karena semutnya sudah dikibaskan, bukan pula karena sedang memakai teropong. Tapi ini kecenderungan yang jamak. Lazim terjadi. Sana, yang di sana seperti memiliki daya magnetis lebih kuat untuk dilihat dari pada yang di sini. Hingga muncullah pembandingan-pembandingan yang seringkali juga tidak terukur. Parameter semau-maunya atau berdasar apa kata orang saja.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Mengapa bisa begitu? Mungkin rumah kita tak ada rumputnya. Kalaupun ada mungkin tidak sirami dan dirawat dengan baik. Minimal sama dengan tetangga merawat rumputnya. Walhasil yang terjadi ya rumput rumah kita tak sehijau rumput tetangga. Masalahnya ada di sini, bukan di sana. Ini salah satu contoh saja.

Diluaskan pada konteks lain, saya sering kali mendengar pembandingan anak yang satu dengan anak lainnya padahal satu rahim, satu asuhan dan satu susuan. Ada yang lahir ketika rumah tangga belum mapan, serba sulit, dan belum punya apa-apa. Semua diirit, semua dihitung, semua dikalkulasi. Ada anak yang lahir dan tumbuh saat rumah tangga mencapai puncak mapan, cukup semua kebutuhan, kalkulator disimpan. Mau apa saja kesampaian. Tentu tidak adil menyamakan karakter, cara berpikir, bersikap dan pencapaian satu dengan yang lain. Ruang tumbuhnya saja berbeda. Ini pemisalan berikutnya.

Bijak itu pekerjaan yang butuh energi banyak dan daya kuat.  Kuat menahan diri untuk tidak banyak bicara. Kuat untuk mampu mengukur diri, mengenali diri sendiri, dan kuat dalam bersabar tanpa batas. Punya energi banyak untuk terus menoleh pada diri sendiri, bahwa ia melihat semut besar di pelupuk matanya. Dan gajah hanyalah sebesar semut, karena terlalu jauh di seberang lautan. Rasanya, sebelum ke sana-sana, kita khatamkan segala sesuatu yang di sini dulu.

Bijaksana akan sampai pada saatnya. Terbentuk dengan sendirinya. Asalkan ada usaha kuat berendahhati, bahwa semua bermula dari sini. Dari diri sendiri. Sehingga terbebas dari sindrom Jarkoni – ngomong doang nggak ngejalani. Kata ustadz waktu saya ngaji sambil ngantuk, hal terbaik memang sebaiknya dari sini, dia menunjuk dada dan berucap, “Ibda’ binafsik – mulai dari diri sendiri.” [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s