Story & History

Pelajaran Mendengar


belajar mendengar

“Mau pulang Bos, saya antar…” kata Anton salah satu sekuriti di komplek saya tinggal. Meski tidak tentu, saya sering keluar malam sekadar ikut nimbrung ngopi di pos keamanan. Sebuah pos seperti layaknya, hanya bangunan kecil dengan tiga bangku panjang di terasnya. Enak buat duduk-duduk sambil ngopi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.35 dini hari. Tentu saja pintu rumah saya sudah dikunci. Suasana habis hujan tentu lebih nikmat untuk berangkat tidur lebih dini. Tapi saya memilih keluar rumah setelah selesai makan malam bersama istri. Sesuatu yang biasa saja. Keluar rumah, ikut nimbrung di tongkrongan mana saja. Kadang ke tetangga sebelah, ke warung kopi di blok sebelah, meski lebih sering bergabung di pos jaga.

Tidak banyak yang saya bawa untuk dibicarakan. Karena saya cenderung mendengar, menyediakan telinga. Terserah apa saja temanya. Dari nyinyiran tentang kondisi bangsa, walaupun sumbernya hanya dari sekilas kata orang dan televisi saja. Hingga masalah tetangga, rumah tangga, dan hal-hal privat keluarga. Saya hanya mendengar, menimpali sesekali, dan mencairkan suasana dengan celetuk canda.

“Jadi kadang saya kesel,” kata istri saya kepada beberapa tamu atau tetangga yang datang ke rumah. “Saya sudah merasa bakal menceritakan sesuatu yang baru, eh teryata dengan entengnya suami saya bilang, sudah tahu, sudah lama…”

Sekali lagi, saya hanya belajar mendengar. Konon salah satu keterampilan berkomunikasi seseorang adalah kemampuannya mendengar dengan baik. Saya dengan sangat sadar, hanya mendengar. Bukan untuk diceritakan kembali, bukan untuk menyampaikan kepada yang lain. Saya sedang tidak berbelanja tentang informasi yang lalu lalang kadang bahkan sangat semrawut, ruwet dan tidak terstruktur. Berloncatan temanya, berlarian isi obrolannya.

Tidak banyak orang yang mau mendengarkan. Lebih banyak orang yang ingin bicara. Bahkan naluri bicara seseorang kadang jauh melesat meningalkan logika pikirnya, melompati banyak kaidah tentang bagaimana menyampaikan sesuatu secara benar. Kalau dunia media sosial sangat riuh, sejatinya karena hal ini, “Ngomong dulu, pikir belakangan!” Cenderung mengabaikan kevalidan, keotentikan, dan cek ricek.

Mendengar, bisa jadi sulit. Kalau tidak punya kemampuan menaklukkan keangkuhan diri. Merasa lebih tahu, merasa lebih mengerti, atau malah merasa lebih dalam hal apa saja. Tentu dalam berbagai ‘kelebihan’ itu ada dorongan untuk memilih berbicara daripada mendengar. Kesulitan mendengarkan orang lain salah satunya adalah ketidakmampuan menaklukkan keangkuhan.

Menjadi agak sulit atau setengah sulit apabila mendengarkan tidak sepenuh hati. Hanya basa-basi. Sekadarnya saja. Istilahnya bukan masuk kuping kiri keluar kuping kanan, tetapi ini malah lebih sadis. Hanya numpang lewat, masuk kuping kiri langsung jalan keluar lewat kuping kanan. Atau ada candaan lainnya, masuk kuping kiri balik kanan, soalnya kuping kanan tidak dibuka bolongannya.

Apalah daya, mendengar yang sejatinya mudah saja. Karena berbagai alasan yang seringkali juga tidak penting, menjadi sesuatu yang sulit. Padahal, duduk, dengarkan… Tak ada yang rumit. Bukankah dicipta telinga lebih banyak agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara. Enaknya lagi, mendengar itu bisa nyambi macam-macam. Bisa sambil ngemil, menikmati suguhan, makan besar bahkan bisa sambil jogetan!

Justru banyak bicara malah tersiksa. Karena tak bisa sambil makan yang menyebabkan tersedak. Atau sambil minum yang musti bakal membuat keselek. Apalagi sambil berjoget. Itu sebab, mengapa saya terus belajar mendengar. Belajar terus menjadi pendengar yang baik. Karena mendengar pakai kuping, memakai telinga, sehingga mulut saya bisa dipakai yang lain. Ngupi salah satunya…

Mendengar adalah cara sederhana menggelar empati kepada sesama. Kadang saya diberi ucapan, “Terima kasih ya, Mas! Sudah mau menjadi pendengar…” atau “Makasih ya, saya lega bisa cerita.” Ternyata, mendengar adalah sejenis pertolongan yang bisa jadi penting. Karena kini banyak orang yang tak didengar suaranya, ada orang tua yang tak mendengarkan anak-anaknya, anak tak bisa diajak bicara orang tuanya hingga pemimpin apa pun levelnya yang abai mendengar aspirasi warga dan rakyatnya.

Akhirul kalam, “Selamat mendengarkan…” Beuh, jadi berasa acara radio yang kirim-kiriman lagu. Dan ketika saya diantar Anton sampai pintu pagar, tanpa saya membangunkan, ternyata istri saya sudah lebih dulu bangun membukakan pintu. Mungkin dia juga mulai terlatih ‘mendengar’. Mendengar bunyi pintu pagar dibuka, mendengar suara sandal terseret dan mendengar suara suaminya berdehem. Kode buka pintu… [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s