Sudut Pandang

Hidup yang Culas


hidup culas.jpg

Meyakini bahwa semua yang terjadi bukan kebetulan mulanya sulit. Karena berulangkali akan kita bilang, “Eh kebetulan,” ketemu dengan kejadian yang kita harapkan, “Kebetulan banget!” Sesuatu, kalau menurut Syahrini penyanyi itu. Kebetulan-kebetulan benarkah memang kebetulan?

“Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini,” kata ustadz di masjid saya mengaji. Tentu saya masihlah tetap orang yang duduk di pojok. Menyender, apakah juga ‘kebetulan’ selalu mengantuk. Mengapa kalau habis makan mengantuk, mendengarkan nasihat baik juga mengantuk, apakah ada hubungan kebetulan juga?

Makan jelas memberi asupan kebutuhan tubuh agar tetap kuat. Ya, agar bertenaga, karena kerja dan aktivitas fisik membutuhkan energi dari makan. Syukur makanannya bergizi dengan kandungan nutrisi berkategori makanan sehat. “Bukan hanya makanan sehat,” kata Ustadz, “Tapi halalan thayyiban, makanan yang halal dan baik dari cara mencarinya hingga cara makanannya.”

Kok bisa seperti kebetulan uraian-uraian Ustadz dengan apa yang saya pikirkan ya. Soal makanan jasmani, kini perihal makanan ruhani. Mengaji itu juga upaya memberi makanan kepada batin dan ruhani. Ada informasi berupa kisah-kisah orang-orang terdahulu yang penuh dengan hikmah. Dulu juga ada orang baik, ada orang yang shaleh, ada orang yang berlagak baik, ada orang yang berlagak shaleh, dan termasuk orang-orang yang jahil, sotoy, dan baperan.

“Tidak ada bedanya dengan hari ini, perilaku dan tabiat manusia, sama dan serupa dengan orang-orang di masa lalu. Maka hati-hati, kita tidak ingin bukan menjadi sebuah kaum yang akhirnya dihabisi karena tak pernah mau belajar dari kejadian-kejadian terdahulu.”

Mengapa saya mesti mengantuk setiap mengaji, itu masalahnya. Sudah jelas, mengaji itu manfaatnya banyak, selain mendapat informasi dari sumber yang pasti dengan sanad yang shahih, juga menentramkan hati. “Sekarang harga ketenteraman mahal,” lagi-lagi pas sama yang disampaikan ustadz. Dicontohkan hidup di komplek perumahanan saja, ada bayar uang keamanan, iuran sampah, buat apa? Hanya agar kita bisa tidur nyenyak, pergi meninggalkan rumah tanpa was-was, dan tidak diserang bau busuk karena sampah.

Persoalannya, kita pernah tidak dengan sengaja membeli ketenteraman itu kepada yang maha menenteramkan hati-hati manusia? Berniaga paling menguntungkan itu sama Allah, kata ustad. “Bayar dengan sedekah! Beli dengan sedekah!” Jangan bersandar pada makhluk, katanya juga. Lalu dikalkulasi, banyak mana uang yang kita keluarkan untuk bayar iuran keamanan dan sampah dengan sedekahnya setiap bulan.

“Bagaimana hidup kita mau tenteram, kita culas!”

Saya langsung melek! Serasa limbung mata menatap sekeliling, ternyata tinggal saya sendirian di dalam masjid. Kalimat terakhir itu mengiang terus hingga saya berjalan pulang. Bertanya bertubi-tubi pada diri sendiri. Mematut-matut diri, bahwa kriteria hidup culas itu ada semua dalam diri. Ingin memiliki, banyak menikmati tetapi tidak pandai mensyukuri. Ingin hidup damai, tenteram bahagia berkecukupan tapi tak pernah berbagi dan tak peduli derita orang lain, sesama dalam bahaya saya hanya diam.

Jadi bukan kebetulan kalau hidup jadi penuh kegalauan. Kita yang culas dalam berniaga… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s