FUN Institute

Fhea – Menulis dengan Ketekunan


Fia - Kepak sayap Fiksi

Anak ini saya kenali sejak masih menjadi santriwati di Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan. Dia tampak menonjol karena perannya sebagai panitia dan interaksinya yang cukup antusias pada materi penulisan pada acara itu. Dia memperkenalkan diri selayaknya adab santri, penghormatan pada yang lebih tua, dan menjunjung tinggi etiket semestinya.

Namanya Fia, kemudian dia menyebut dirinya dengan Asmira Fhea dalam karya-karyanya. Selepas dari Darunnajah dia masuk ke Fakultas Sastra Arab Universitas Islam Negeri Jakarta. Nah, semasa mahasiswa inilah, interaksinya dengan dunia kepenulisan bisa disebut sangat intensif. Mengikuti komunitas menulis yang kebetulan saya ketuai, kemudian turut bergabung ketika saya membuka ruang kreatif bernama Fun Institute.

Fia menjadi salah satu harapan, bahwa dengan segala ketekunannya dia bakal menjadi seorang penulis. Satu persatu hasil kerja kerasnya membuahkan hasil, dari mulai pertama dimuat media, lalu naskah novelnya di acc terbit, hingga kemudian terbit. Dan di ulang tahun Fun Institute yang ketiga, novel pertama debutan Fia yang diterbitan Diva Press Jogja. Sebuah debutan yang membuatnya semakin bersemangat menulis fiksi. Termasuk pilihannya untuk mengikuti training menulis di Kampus Fiksi yang diadakan Diva Press Jogja.

Perlahan tapi pasti, karya-karya kian jauh langkahnya. Beberapa lomba menulis diikutinya, seleksi penulisan dengan berbagai event dan momentum disertai. Namanya pun semakin sering ikut daftar nominasi, finalis, atau semacam itu dalam berbagai event yang diikuti. Hingga pada suatu saat dia memberikan buku terbarunya kepada saya.

“Panda, ini buku baru Fia…” katanya.

Seperti yang lain di Fun Institute, beberapa anak memiliki panggilan khusus untuk saya. Fia memanggil saya Panda, singkatan dari panggilan sayang Papahanda. Juga memanggil bunda untuk istri saya. Membanggakan, mengharukan, sekaligus membahagiakan. Anak-anak seperti Fia membuat saya terhibur sekaligus meyakini, bahwa apa yang telah ditanam telah tumbuh.

To: Daddy…
Itulah buku Fia yang terakhir terbit sebelum saya mengubernya agar segera menyelesaikan studinya di UIN. Alhamdulillah, dia kini telah menyelesaikan studi dan berhak atas gelas kesarjanaan sastranya. Hari-harinya menjadi lebih lapang untuk terus menulis, waktunya kian luas untuk terus mengeksplorasi kemampuannya menulis. Bahkan di akhir masa kuliahnya, dia masih terpanggil untuk menjadi duta bahasa.

“Panda, doakan ya… aku menjadi finalis Duta Bahasa untuk DKI Jakarta,” kabarnya suatu hari. Sayang, saya tak bisa memenuhi undangan untuk mendampinginya di panggung ketika ia berlomba menjadi sang duta bahasa. Namun apa pun raihannya, saya bangga padanya.

Menulis akan membawamu ke tempat yang tak terduga, tiada terkira. Kini Fia mulai mengembang sayapnya. Sebagai generasi kekinian, anak milenial, Fia pun memakai semua aplikasi menulis zaman now. Dia bilang, “Aku nulis di whattpad juga, Panda…” Menulis, apa pun mediumnya, intinya adalah menyampaikan pesan baik. Dan Fia sudah paham betul itu, sehingga saya percaya apa pun yang ditulisnya adalah cara dia berbagi kebahagiaan dalam cerita dan menyampaikan kabar baik semata. Salut… [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s