FUN Institute

Kelas Cerpen & Novel FLP Jakarta


Kelas Cerpen Novel FLP JakartaSetiap pekan ketiga setiap bulan, ada kelas cerpen dan novel yang harus saya ampu di FLP Jakarta. Almamater yang memberi warna dalam gaya dan pilihan sikap dalam berkarya. Menjadi salah satu mentor pada kelas peminatan cerpen dan novel adalah bentuk bakti, sesuai dengan slogan FLP, berkarya, berarti, berbakti. Selain itu, ada dorongan untuk sedemikian rupa terlibat dalam proses lahirnya para penulis berkarakter dan berkualitas.

Setidaknya bakal ada 12 kali pertemuan, bila saya dan kawan-kawan berkomitmen penuh bertemu sebulan sekali. Diawali di selasar Masjid Cut Nyak Dien, Menteng. Materi pertama yang saya tekankan adalah komitmen menulis. “Saya tidak mau mengajari orang yang tidak berkomitmen.” Maka siapa pun yang sudah masuk di kelas peminatan cerpen dan novel harus memenuhi aturan mainnya.

Saya hanya ingin memberitahukan bahwa profesi menulis itu kerja yang sangat serius. Semua elemen yang melekat di tubuh ini bekerja. Walau tampaknya, kerja utamanya hanyalah mengetik. Tetapi menulis butuh fisik yang sehat, daya tubuh yang kuat, karena musuh utama penulis adalah deadline, garis mati! Kelewatan, matilah semua kepercayaan para kolega, klien dan pengguna jasa menulisnya.

Hal penting lain yang saya tekankan kepada peserta kelas cerpen dan novel FLP Jakarta ini adalah tentang konsistensi. Dan itulah cara waktu bekerja, menyeleksi siapa yang sungguh-sungguh dan siapa yang setengah hati. Juga melemparkan ke luar arena orang-orang yang hanya ‘ingin’ saja bisa menulis, tetapi tak mampu menaklukkan alasan yang dimilikinya. Meminjam nasihat baik orang terdahulu, berendahhatilah hingga tak ada lagi orang yang merendahkanmu. Di kelas ini, berlaku taklukkanlah alasanmu hingga dia tak lagi bisa menaklukkanmu untuk beralasan.

Tidak ada alasan…

Secara fair aturan dibuat. Saya pun berusaha turut patuh dan taat tanpa banyak alasan. Bila ada acara bersamaan, saya akan menawarkan mau ikut di acara saya, atau mohon maaf, saya bakal terlambat, datang tidak sesuai waktu yang dijadwalkan. Dan saya akan memberi konpensasi waktu tambahan untuk mereka. Sederhana, komitmen dan konsisten.

Di kelas ini, target pun ditentukan. Pada bulan sekian, sekian cerpen sudah selesai. Sekian bab dari novel sudah selesai. Pada triwulan terakhir, akan diberikan materi self editing sebelum akhirnya naskah mereka siap dikirim ke penerbit atau mau dicetak secara indi, silakan saja. Dari 12 kali pertemuan, semua tahapan kepenulisan diterapkan. Mulai dari prewriting ‘ngapain aja’, proses penulisan bagaimana, hingga editing, revisi bahkan kalau tidak layak ya harus rewriting, tulis ulang.

Belajar menulis memang begitu, kalau tidak dari kecintaan dan komitmen yang kuat. Bakal rontok di jalan. Cita-cita itu selalu mencatatkan prioritas-prioritas. Kalau menulisnya belum menjadi prioritas, ya hasilnya tidak akan pernah diprioritaskan. Setidaknya dalam empat kali pertemuan yang sudah, terpetakan potensi yang dimiliki para peserta kelas cerpen dan novel ini. Semoga mereka istiqamah, karena sayang perjalanan ke tempat bertemu jauh dari rumah.

Yang hanya ingin, ya sudahlah… thanks, Winda, Shinta, Imam, Icung, dkk…[tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s