FUN Institute

Investasi Menulis


Investasi Menulis

Semua pekerjaan butuh modal, butuh investasi. Menulis pun butuh modal, bukan modal bisa mengetik dan bawa badan belaka. “Saya masih sakit hati, Bang!” kata seseorang teman yang kini sedang studi di Sabah, Malaysia. Perihal apa dia sakit hati? “Dia menipu saya, katanya buku saya bisa diterbitin. Padahal saya sudah kirim naskah, kasih uangnya.” Panjang lanjutannya dan serapah sempat mencuat dari curhatnya.

Wajar saja dia sakit hati. Dia sudah keluar modal banyak. Mari kita hitung sekilas saja. Menulis sampai bisa jadi naskah itu panjang jalannya. Paling tidak, dia harus membaca beberapa referensi. Kalau harus beli buku, berapa buku kali berapa rupiah dia keluarkan uangnya. Kalau harus ke perpustakaan, berapa ongkos bensinnya termasuk jajan dan makannya. Itu baru biaya dari gerak kecil proses prewiriting.

Ketika menulis, dia memutar otaknya. Butuh energi dan asupan makanan sehat. Artinya penulis harus sehat. Sehingga ketika bekerja, tubuhnya bugar, otaknya jernih. Maka mengalirlah segala informasi, ilmu, pengetahuan, dalam balutan kata-kata yang baik, mudah dimengerti dan sampai pesannya kepada pembaca. Sebuah kerja yang tidak murah. Karena butuh kopi, entah berapa gelas dari pertama menulis hingga menyelesaikannya. Juga entah berapa donat, gorengan, atau cemilan lain mengganjal rasa laparnya di sela kerja menulisnya.

Itu semua investasi. Ada hitungannya, bisa dikalkulasi dan dirupiahkan. Nah, sehingga wajar, kalau seorang teman tadi merasa sakit hati dan tentu rugi besar. Ini persoalan menghargai hasil pekerjaan orang lain. Dalam ukuran dan skala apa pun, selalu ada penghargaannya. Bukankah keripik singkong pun ada harganya setelah melalui proses olahnya. Maka karya intelektual pun ada nilainya, mungkin lebih tinggi karena memiliki daya dan kekuatan yang lebih besar demi kemajuan dan pencerdasan kehidupan bangsa.

Untuk bisa menulis, seseorang harus berwawasan luas. Wawasan luas itu asalnya dari banyak sumber. Bisa dari membaca buku yang saat ini harganya tidak murah, pergaulan yang intensif dengan berbagai kalangan, melakukan amatan-amatan seperti layaknya observer. Wawasan luas bukan semata-mata dari pendidikan yang memadai, tapi pendidikan yang baik membuat seseorang cenderung lebih terbuka, open minded, tidak partisan dan mampu jernih menuangkan gagasan-gagasannya.

Jadi sebenarnya investasi menjadi penulis itu besar. Setidaknya sudah disinggung sedikit bagaimana proses menulis pun butuh biaya. Menjadi penulis yang andal pun berbiaya tinggi. Paling tidak harus dibangun dan diupgrade terus menerus wawasan dan pengetahuannya. Mengikuti berbagai kursus, seminar, atau berbagai diskusi. Ada yang kuliah lagi hingga level tak terkira. Membangun reputasi sebagai penulis yang bertanggungjawab atas karya-karyanya, tidak sedikit biayanya.

Belum lagi invetasi pendukungnya. Apakah komputer yang dipakai itu turun dari langit. Laptop yang dipakai itu pemberian dari Dewa Langit yang hadir dalam mimpi dan jadi kenyataan. Tidak. Semua dibeli dengan uang. Belum lagi pulsa, paket internet, mesin printer, kertas. Banyak kan modalnya…

Setidaknya, gambaran sederhana ini membuat seseorang yang ingin penulis kembali menegaskan niatnya menjadi azzam! Niat menjadi niat kuat, bukan sekadar ingin. Tetapi menjadi kesungguh-sungguhan. Bukan keinginan yang terkamuflase karena pesona slide-slide akhir para penulis yang sudah tersohor. “Enak ya jadi penulis…” Panggung hanyalah tempat istirah sesaat, selebihnya adalah kerja keras. Bahkan ada yang membuat semua waktu dalam hidupnya adalah bagian dari kerja menulis.

Karena biaya menjadi sebuah tulisan itu mahal. Pantas teman di Sabah itu masih dongkol meski kejadian itu sudah dua tahun berlalu. [tef]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s