Ibu, Story & History

Merindu Cucu


tope - merindu cucu

“Walaupun cuma satu, ibu harap kamu punya anak,” tuturnya lembut sambil menatap anak lelaki satu-satunya yang duduk di hadapannya. Pada sebuah meja makan yang hari itu melandai sepiring rebusan aneka sayur, semangkuk bumbu pecel, dan sepiring tempe mendoan. “Ibu berdoa tak putus, Ibu ingin mengendong cucu dari kamu…”

Dua pekan setelah perbincangan itu, perempuan itu terbaring lemah. Kali ini di sebuah ruang ICU sebuah rumah sakit internasional di Alam Sutera. Perempuan yang separuh hidupnya berjibaku sendiri. Menjadi single parent, menjadi janda! Berjibaku memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya tanpa meminta. Pantang baginya meminta, tetapi wajib berbagi. Menjadi hari-harinya habis untuk upaya bertahan hidup, juga menghidupi anak lelaki satu-satunya.

“Waktu kamu berhenti sekolah, tidak kuliah,” perempuan itu berkisah pada anak lelakinya di tempat yang sama dan waktu yang sama. “Ibu sedih, sedih banget! Sepertinya lengkap sudah, pantas sekali menjadi janda, hidup sendiri, tidak bisa menyekolahkan kamu. Ibu berusaha keras agar kamu bisa kuliah seperti yang lain, seperti cucu-cucu simbahmu yang lain…”

Terlalu banyak beban yang dipikul perempuan itu, ibu dari anak lelaki satu-satunya itu. Beban menjadi janda yang terus saja ‘seolah-olah’ wajar dicela, dihina, dan dirisak dengan berbagai stempel negatif. Betul, tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi merendahkan sebuah ‘status’ sesama manusia tentu bukanlah hal terpuji. Andai itu datang dari orang yang terdidik, apa iya sistem pendidikannya yang keliru, tranformasi keilmuannya yang tak sampai dengan baik, atau memang penerimanya yang tak mampu mengunyah dan membumikan ilmu menjadi karakter. Bukankah, hari ini pun banyak yang tidak paralel antara keanggunan perilaku, kesantunan perbuatan dengan capaian pendidikan formalnya.

Abaikan sebentar soal beban menjadi single dan parent itu. Apa pun posisinya, setiap manusia memiliki cita-cita, harapan, jauh di atas keinginan semata. Termasuk ketika  perempuan itu ingin anaknya sekolah seperti cucu lain di keluarga besarnya. Pun ketika menikah, ia menginginkan calon menantunya mampu memberikan keturunan bagi anak lelaki satu-satunya itu. Selain kriteria lainnya, “Tidak harus sempurna, karena pernikahan yang akan menyempurnakannya.” Demikian kira-kira kesimpulan dari banyak kriteria yang disampaikan.

Tahun demi tahun menunggu, cucu tak ada pertanda bakal hadir dalam keluarga baru anak lelakinya. Menantu perempuannya tentu gusar. Meskipun kegusaran itu tak hanya miliknya, tetapi milik suaminya, pun milik mertua perempuan yang kini menjadi ibunya. Pertanyaan yang mengiris rasa, bukan hanya ketika berbunyi, “Anaknya mana?” atau “Anaknya sudah berapa?” dan beberapa varian pertanyaan serupa lainnya. Pertanyaan biasa, tapi dalam keadaan yang tidak biasa.

Bahkan ketika usia pernikahan lelaki itu mencapai umur sepuluh tahun, saat pembicaraan di meja makan itu. Jawaban untuk pertanyaan semacam itu semakin membuat lidah kelu. “Bisakah bertanya yang lain?” itu permintaan kalau bisa diungkapkan. Bila lelaki dan perempuan itu pun kelu. Apakah sang ibu yang juga menunggu cucu itu, tidak teriris rasa dan kelu lidahnya. Apakah ketika pertanyaan yang sama, dengan level pergaulan yang sebaya, “Sudah berapa cucunya?”

Tak terbayang betapa sedih dan luka teriris di hatinya. [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s