Sudut Pandang

Menyembunyikan Kebaikan


tope - menyembunyikan kebaikanApakah ini sudah masuk jaman kalabendu, seperti yang ‘dijangka’ Ranggawarsita dalam Jayabaya. Sebuah zaman yang berbahaya. Bukan hanya zaman yang penuh kekacauan, jungkir balik logika, para pemimpin sibuk akrobat, saudagar saling embat dan sikat, orang banyak kian sulit dan sekarat. Tetapi zaman yang ‘citra’ dan pencitraan sangat penting. Keperluan eksis, keinginan untuk popular, dikenal banyak orang, dikepoin orang lain, jauh lebih penting dan tak terbatas untuk satu kepentingan.

Godaan untuk tidak narsis sangat besar. Ibarat gelombang yang terus susul menyusul. Siap memangsa siapa saja agar turur menjadi buih. Tak goyah diempas gelombang pertama, gelombang kedua menyusul, pun gelombang-gelombang berikutnya. Hingga pijak kaki goyah, hingga jasad rebah, tumbang dan turut gelombang. Membuihlah pada akhirnya… hanya buih belaka, buih, buih…

Semakin sulit saja menjadi orang yang ingin ‘tawadhu’ menyembunyikan kebaikannya. Karena semua akan keluar dalilnya. Dipajang, diumumkan, diviralkan dalilnya ada. Yang berusaha keras untuk tidak memajang, ingin sembunyi, dan cukup menjadi amalan privat yang senyap pun punya dasarnya. Walhasil, kembali kepada tujuan dan nawaitunya, semua perbuatan kembali pada niatnya. Betul, kembali pada niat, tetapi niat juga harus dirawat, dikontrol, diawasi dan dievaluasi.

Niat awal, bisa berbelok atau tak sesuai lagi di pertengahan jalan. Pun bisa sampai di tengah jalan baik-baik saja, tapi menjelang akhir, dia malah melenceng jauh dari tujuan, melenceng dari sasaran. Maka niat musti dikawal, agar tetap konsisten di perjalanan dan proses perjuangannya, serta tepat pada tujuannya sesuai dengan niat semula. Bukan menafikan keberadaan medium bersosialisasi yang sangat canggih, karena ini sudah zamannya. Hanya saja, bijak bukan hanya di sana, tapi juga ada di sini dan di situ. Dalam gelombang yang terus menderai, tetaplah menjadi orang yang bijaksana, bijaksini, dan bijaksitu.

Soalnya, sering kali terjadi… sudah merasa bijaksana ternyata tidak bijaksini. Mampu mengurai banyak kekurangan orang, mblejedi – menelanjangi – orang lain tapi lupa mengurai kekurangan diri sendiri, lupa menelanjangi diri sendiri. Seseorang pasti akan sekuat tenaga menutupi kejelekannya, kekurangannya, keburukan-keburukan dalam dirinya. Lha kok di media sosial malah sebaliknya. Ini bagaimana… bagaimana ini! Padahal Allah sudah sayang betul pada manusia, ditutupi semua aib-aibnya. Coba kalau aib tiap orang dibuka, tak ada jatuh cinta! Karena semua yang buruk sudah terbuka, yang tersembunyi sudah berbunyi, dan yang rahasia ada di depan mata.

Kalau itu terjadi, apa ya masih ada saling bisik membisik di antara kita. Saling nyinyir antar sesama. Yang tampak gagah bijaksana ternyata banyak cacatnya, yang tampak pintar dengan argumen kebenarannya ternyata banyak salah dan kurangnya. Termasuk yang tampak shaleh ternyata ada khilafnya. Padahal ya sederhana saja, karena hakikat manusia banyak kurangnya, makanya ilmu memiliki nilai tinggi dalam agama, orang yang berilmu derajatnya pun dimuliakan.

Manusia juga tempat salah dan kurang, makanya permaafan begitu luas dibentangkan oleh Tuhan. Kekurangan diberikan permakluman, karena itulah berkumpul bersama,  wong kang shaleh kumpulana, berjamaah menjadi sarana saling menutupi kekurangan. Saling mengisi, mengingatkan dan menyempurnakan.[tef]

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s