Sudut Pandang

Menjaga Amal Baik


tope - berbuat baik

Namanya saja menjaga, artinya ya mengamankan apa yang semestinya kita amankan. Misalnya petugas keamanan komplek, tugas khususnya menjaga keamanan komplek atas penghuninya dari berbagai bentuk gangguan kriminalitas, termasuk mengamankan dari bahaya kebakaran, dan semua bentuk tugas yang membuat komplek aman ditinggali, nyaman untuk didiami.

Pun begitu menjaga amal baik. Entah berapa banyak disampaikan pentingnya berbuat baik atau beramal shaleh. Termasuk apresiasi dan penghargaan atas kesungguhan bagi mereka yang berlomba-lomba dalam melakukan amal baik itu. Fastabiqul khairat. Makanya pesan penting orangtua saya, “Jangan lelah berbuat baik…” sampai hari ini, sebisa-bisanya saya lakukan. Dimana berada pun terhadap siapa saja.

Persoalannya…

Ada persoalan pasti ada jawaban, ada jalan keluar, ada solusinya. Itu keyakinan yang tak boleh diabaikan. Bukankah bunyi ayatnya begitu, tak akan seseorang diberi beban yang tak mungkin dia kuat menyandangnya. Jadi optimis saja, setiap persoalan pasti selesai. Hanya kapan mau selesainya, tergantung daya dan upaya tentu saja. Semakin bekerja keras, sungguh-sungguh, tentu semakin cepat selesai. Kerja keras tidak menciderai hasil, begitu kira-kira. Kalau mau santai, pelan-pelan, bisa juga, hasilnya juga sepadan. Bahkan tidak diusahakan pun, boleh saja, walaupun tak akan pernah ada hasil. Semua pilihan…

Nah menjaga amal baik sebenarnya mudah. Tentu saja butuh ilmu, butuh konsistensi dan butuh ketenangan serta kejernihan. Istiqamah bahasa lainnya. Pada beberapa hal dan kasus, sering dijumpai ironi-ironi atas ‘tampilan kebaikan’ dengan realitas yang mereduksinya. “Dia baik sih, tapi…” perihal seperti ini bisa menggoda isi otak kita. “Kok dia gitu sih, padahal dia orang baik,” atau beberapa realitas lain berupa ‘keangkuhan-keangkuhan kecil’ yang mereduksi kebaikan seseorang.

Meminimalisir ironi adalah hal baik tapi sulit. Setidaknya buat saya. Itu sebab, saya memilih menjadi orang apa adanya, di mana saja, kapan saja, dengan segala pengetahuan tatakrama dan etiket tentunya untuk menempatkan diri. Ketampakan bukan hal penting, tetapi hakikat yang lebih penting. Ketampakan artifisial itu menggoda, apalagi bila merasa lebih tua, lebih berpengalaman, lebih kaya, lebih lebih lainnya. Ini yang sering menjadi ancaman ‘amal baik’ sebenarnya.

Contoh sederhana. Sebagai makhluk sosial, kita pasti akan bersosialisasi dengan lingkungan, bertetangga, bersahabat, dan berteman dalam berbagai skala pergaulan. Tentu beda tempat, dalam skala sosial kemasyarakatan, bertetangga tidak ada hirarkinya. Maka pantanglah ‘menyuruh’ orang lain hanya karena pandangan wadag saja, lebih muda, tak berpunya, dan wajahnya ‘pantas disuruh-suruh’. Ini contoh kecil. Padahal dia bukan karyawannya, bukan pula bawahannya. Beberapa di antara kita, sering lupa, ketika pulang ke rumah, bertetangga, tak ada jabatan apa pun yang turut lekat.

“Emang gue siapa, nyuruh seenaknya aja!”

Bisa jadi, sekadar ungkapan pendek ini, bisa membatalkan banyak kebaikan yang telah kita lakukan. Bisa mereduksi keshalehan yang telah kita kumpulkan. Jangan sampi lah… sayang apa yang telah kita bangun. Menjaga kebaikan, menjaga amal baik memang butuh ketenangan, ketelatenan, dan tentu saja ilmu. [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s