Story & History

Meniti Jalan Surga


Iklan Masjid - Batu Pertama

Membangun masjid menurut banyak ustadz yang ceramah di masjid komplek saya tinggal, seperti juga membangun rumah di surga. Mereka tentu mengutip ayat tentang keistimewaan orang-orang yang tergerak berbuat baik dan menyampaikan hadits tentang itu semua. Kalau saya mengutipnya, bukan karena kesalehan saya, tapi karena terlalu sering membaca dan mendengarnya.

“Barangsiapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan buatkan yang serupa di surga.” HR Bukhari dan Muslim. Saya orang yang beragama dengan sederhana, modalnya keyakinan. Kalau sudah yakin, ya kerjakan.

Masalahnya, saya bukan orang yang banyak uang. Itu pasti masalah, membangun butuh banyak material dan tenaga tukang harus dibayar. Semua itu pakai uang. Terus saya harus bagaimana kalau tidak punya uang. Maka surga yang dijanjikan itu pasti bakal menjadi milik orang yang banyak dan mau menyumbangkan untuk pembangunan masjid. Kalau yang tidak mau ya itu pilihan mereka.

Masalah saya ternyata juga masalah beberapa orang lainnya. Maka bagaimana bisa kebagian surga? Kita punya tenaga? Lalu pertanyaannya tenaga yang dibutuhkan saat ini adalah untuk menggali pondasi, mengaduk semen, mengayam besi untuk rangka cor, dan pekerjaan penuh energi semua. Sementara sehari-hari saya dan teman ini tidak pernah pegang pacul dan segala kerja fisik bertenaga banyak.

Ya sudah, yang bisa apa? Masak tidak kebagian sama sekali.

Membuat proposal, bisa lah! Membuat spanduk, bisa! Ya sudah, itu saja yang bisa dikerjakan. Paling tidak, walaupun cuma bantu bikin proposal dan spanduk bisa termasuk bagian dari membangun masjid. Sambil bercanda, saya bilang ke istri… “Paling tidak kita punya rumah di surga dari spanduk dan beralas proposal.” Istri saya menyahut, “Nanti aku nyumbang kopi buat tukangnya, jadi walaupun rumah kita dari spanduk, tetep bisa ngopi…” Berguraulah, jangan serius terus. Hidup memang harus serius, karena setiap detik, semua waktu bakal diminta pertanggungjawabannya. Buat apa, diisi apa, ngapain…

Balik ke soal membangun masjid dan saya mesti bantu apa!

Membangun masjid itu juga seperti membangun yang lain. Perlu perencanaan, perlu kematangan, dan perlu ‘kebersamaan’. Hal yang penting berikutnya adalah perlunya kesatuan visi. Bukan ruang untuk ‘manggung’ tentang siapa menjadi apa, siapa merasa bagaimana, dan semacam itu. Tapi ruang untuk saling merangkul, membesarkan hati, memberi kesempatan, bahwa jalan menuju surga yang digelar adalah untuk semua, milik semuanya.

Merencana itu perlu olah pikir yang berkelindan satu dengan lainnya. Walaupun pada akhirnya, penting memberikan apresiasi dan ruang bagi ahlinya. Soal rencana konstruksi dan desainnya, biarlah arsiteknya. Soal eksekusinya, biarlah tukang yang sudah pengalaman dan memang bidangnya. Pekerjaan sehari-harinya. Kita? Saya kali. Saya yang tidak ahli apa-apa soal pembangunan, mungkin cukuplah diam saja untuk soal-soal yang saya tidak tahu. Dan memilih ikut barisan orang-orang yang terus berupaya mencari dana… karena membangun butuh uang. Surga itu berbayar, tidak cukup dengan banyak bicara.

Silakan yang mau berbagi atau mungkin mau mengajari saya, cara terbaik meniti jalan surga yang sudah terbentang ini. [tef]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s