FUN Institute

Anak Yatim Itu…


“Beruntunglah kita yang di ruangan ini, mencintai adik-adik asuh ini, anak-anak yatim yang kata Rasulullah Saw, dia bersamaku laksana ini…” Mas Bona, pegiat RISKA (Remaja Masjid Sunda Kelapa, Jakarta) menunjukkan dua jari bersejajar kepada pada hadirin dalam sambutannya. Laksana jari telunjuk dan jari tengah yang tak terpisah.

Malam itu, saya termasuk yang beruntung seperti yang dikatakan Mas Bona yang tampil asyik, berkaos kerah warna biru, rambut panjangnya diikat rapi, dan senyumnya tak pernah terhenti. Saya berada di ruangan itu, ya Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa bersama puluhan anak yatim yang kemudian menjadi ‘adik asuh’ teman-teman RISKA. Anak-anak inilah yang daya magnetisnya membawa para petinggi di Sekretariat Dewan Komisioner Hubungan Masyarakat dan Internasional (SKHI) Otoritas Jasa Keuangan menyatakan siap sedia menjadi ‘kakak asuh’ mereka dengan berbagai program yang akan diberikan secara berkelanjutan.

23514548_10213743712485496_19087817_o

Setidaknya itu yang saya tangkap dari uraian penanggungjawab acara SKHI Peduli, Pak Joko kepada hadirin yang hadir termasuk Direktur SKHI OJK Pak Anto Wibowo. Di depan para ‘adik asuh’ ini, sang direktur pun merasa keberuntungan memenuhi hawa ruangan itu. Apresiasi, dukungan, dan kebanggaan disampaikan dalam sambutan singkatnya. Sebelum akhirnya beliau pamit lebih dulu, tanpa bisa menemani para ‘adik asuh’ hingga selesai acara.

Acara apa…

Acara malam itu, pertama adalah launching program TELEGRAM. Sebuah program peduli pegawai di lingkungan SKHI untuk mengajar. Mereka akan mengajarkan berbagai skill kepada adik asuh RISKA sesuai dengan latar belakang ketrampilan dan kepiawaian mereka. Kedua, makan malam bersama adik asuh setelah shalat berjamaah maghrib. Dan berikutnya adalah penyampaian materi tentang kepenulisan yang dilanjutkan dengan penampilan bermusik adik-adik asuh RISKA.

Saya kebagian menyampaikan materi kepenulisan. Sesuai permintaan panitia, saya menyampaikan perihal dunia kepenulisan sebagai pekerjaan professional atau hobi saja. Hal yang umum dan sudah banyak diketahui banyak khalayak. Saya hanya mendedah, memberi gambaran saja, bahwa banyak wilayah kerja dengan basis ketrampilan menulis. Bukan hanya semata-mata menulis buku terutama novel seperti yang sebagian besar dari adik-adik asuh ketahui sejauh ini. Ketika mereka saya tanya tentang penulis, sebagian merujuk pada penulis buku. Disebut ada Habiburahman El-Sirazie, Asma Nadia, Andrea Hirata dan Raditya Dika.

Tidak ada yang menarik dari materi yang saya berikan, justru sesi tanya jawabnya lebih seru. Saya selalu menyukai sesi ini. Termasuk pertanyaan tentang menulis untuk apa? Apakah untuk terkenal? Saya menjawab apa saja motivasinya menulis sah. Mau terkenal, mau banyak uang, mau berbagi ilmu pengetahuan, atau mau berdakwah lewat tulisan, semuanya baik dan boleh. Terkenal ya tidak salah, banyak uang Alhamdulillah. Saya hanya memberitahu, bahwa terkenal dan banyak uang itu efek dari kerja keras, konsistensi, doa-doa. Ya doa kita, ya doa orang tua kita. Bukankah kita sering dengar, “Kerja keras tidak pernah membohongi hasil.”

Saya berhadapan dengan adik-adik asuh yang yatim, tiada berayah lagi. Saya tahu persis rasanya menjadi anak yatim. Saya belasan tahun mengalaminya. Berdua saja dengan ibu yang single parent. Tidak hanya yatim secara status karena tidak berayah lagi. Tetapi juga merembet kepada keyatiman lainnya. Keyatiman sosial. Anaknya yatim, ibunya janda! Di mana status ibu saya, mungkin juga ibu-ibu anak-anak yatim lainnya menjadi bulan-bulanan otak kotor yang dangkal. Semua serasa sebelah mata. Tanpa pernah tahu dan mau tahu betapa jungkir baliknya para ibu anak yatim itu berjibaku mempertahankan hidupnya secara baik-baik dalam sangkaan yang sering tidak baik. Beruntunglah empati hadir di tengah segala keyatiman lainnya dari orang-orang yang tahu persis kemuliaan dari memuliakan keyatiman.

Seperti kata Mas Bona dari RISKA,  seperti yang dilakukan teman-teman dari SKHI OJK Peduli, – Pak Joko, Mas Iskandar, Mbak Nissa, dkk -. Mengutip hadist Rasulullah Saw, “Aku dan pengasuh anak yatim berada di surga seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan beliau sedikit  merenggangkan kedua jarinya.” (HR.Bukhari). Saya belajar banyak dari setiap kesempatan. Itu sebab, apa yang saya sampaikan kepada adik-adik asuh itu tidak terlalu banyak berarti, justru sayalah yang mendapat lebih banyak. Kesempatan malam itu,  memberitahu saya bagaimana dan dimana menaruh empati pada keyatiman. Termasuk mengapresiasi ketegaran jibaku ibu para yatim. Ibu kandung, ibu asuh, ibu tanah airnya… [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s