Buku, FUN Institute

Berhentilah Menulis Fiksi!


“Berhentilah menulis fiksi, Fan!” pinta guru saya.

Apalagi ketika saya harus berhadapan dengan banyak teks, termasuk mendapat kehormatan menjadi penyunting naskah beliau. Berulangkali saya membaca naskah beliau yang padat, berisi. Bernas sekali. Dan itu bukan fiksi. Saya merasa itu adalah bagian dari cara yang sangat elegan, mengantar saya ke gerbang dan halaman indahnya kisah-kisah nonfiksi yang jernih dan keren.

Sebagai orang yang mengawali menulis dari nonfiksi, reportase khususnya. Saya sebenarnya tak asing bahkan sangat akrab dengan jenis tulisan nonfiksi. Karena bertahun-tahun, hari-hari saya adalah hari-hari menulis nonfiksi. Seperti juga guru saya itu yang ruang kepenulisannya memang di situ. Di antara penulisan fakta-fakta, mengurai kisah, dalam sejarah, ayat, dan sahibul hikayat dengan kemasan kekinian yang renyah, lembut, dan penuh dengan kebaruan makna.

Awalnya, saya menulis nonfiksi, tetapi saya penikmat fiksi. Di lemari buku saya, selain buku-buku referensi, ada koleksi buku-buku fiksi yang menurut saya berkualitas. Saya membaca buku-buku Kuntowijoyo, Umar Khayam, dan Pram. Setiap hari Minggu, saya membaca cerpen di Kompas, surat kabar langganan dari zaman ayah saya masih ada. Juga membaca cerpen di majalah perempuan, baik Femina atau Kartini langganan ibunda saya. Saya membaca. Dan saya senang saja membaca. Itu intinya…

Tahun 2005, saya mulai menulis fiksi dan keberuntungan itu membuat saya terksiap, tak siap. Prinsip saya, melakukan sesuatu itu harus ada golnya. Demikian juga dengan menulis. Pada saat itu booming fiksi islami luar biasa. Hingga, pasangan saya merasa, “Kamu bisa menulis kayak gitu, Mas!” Saya pun merasa makin tertantang. Pertama karena prinsip agar ada golnya dari apa yang saya lakukan, kedua pasangan saya menunjukkan ada tempat buat karya fiksi saya. Dan saya memburunya, mengejarnya. Alhamdulillah, beberapa karya fiksi itu menemukan jodoh dan tempatnya. Ada yang berserakan di beberapa media, majalah, koran dan tabloid. Ada yang menemukan podiumnya di sayembara. Dan ada yang berlabuh menjadi buku kumpulan cerita.

Setelah itu memang saya ‘dilihat dan dianggap’ lebih intens dengan dunia kepenulisan fiksi khususnya cerita pendek. Dalam beberapa forum, saya dibentuk dan mau tidak mau bicara soal fiksi, soal cerpen. Padahal pada saat yang sama, saya tidak pernah meninggalkan menulis nonfiksi. Saya masih menulis feature, artikel bahkan beruntung memiliki kolom di sebuah majalah remaja. Menulis tentang tokoh, biografi, maupun catatan perjalanan, hingga tulisan lainnya. Semua nonfiksi.

IKLAN - RATIH dan HONG small

Kalau belakangan ini terbit buku-buku fiksi saya, itu adalah upaya dari pasangan saya dengan ide briliannya. “Sayang kalau berserakan, dikumpulin saja dibukukan. Jadi karyamu ada dokumentasi cetaknya. Kalau ada yang berminat ya… nanti kita cetakin.” Begitulah cinta. Saya yang pendokumentasiannya buruk, ketemu pasangan yang memiliki perhatian khusus pada karya-karya saya. Maka saya pun berupaya untuk membukukan karya khususnya cerita pendek. Mengumpulkan dari beberapa file yang benar-benar berserakan. Hingga melakukan proses pracetak layaknya sebuah penerbit. Mengedit ulang, memilih dan memilah. Membuatkan cover yang pantas dan layout yang standar.

Maka terbitlah buku kumpulan cerpen, ‘Ratih, Ibu yang Terbelah’. Berisi 14 cerita pendek dengan tema ibu dan pempuan pada umumnya. Dan dalam waktu dekat dokumentasi kumpulan cerpen juga selesai. Judulnya, ‘Hong di Ujung Jalan Cilame’ yang berisi sepuluh cerpen. Pada buku ini, sebagian cerita pendek adalah cerpen yang pernah diikutsertakan dalam lomba. Ada yang menang, ada yang juara satu, ada yang hanya pemenang harapan, termasuk yang hanya turut serta belaka.

Mungkin masih akan terbit buku-buku fiksi saya. Sekali lagi itu adalah bagian dari cinta yang tidak biasa. Dengan menjadi buku, mungkin lebih bisa dinikmati, lebih bisa bermanfaat, karena hampir apa pun yang saya tulis tujuannya satu, menyampaikan kebaikan dengan harapan bermanfaat. Pesan-pesan kebaikan, itulah yang ingin saya sampaikan. Kalau hanya bisa diterima sebagai ruang rekreatif belaka tak apa, menjadi bagian dari penjelmaan nilai-nilai edukatif saya syukuri, bila masuk ruang renung, menjadi titik pijak reflektif, Alhamdulillah. Bahagia saya sederhana, pesan itu sampai…

Suatu ketika, mungkin akan sampai pada suatu yang beda. Dan saya akan bilang dengan menunjukkan karya  lainnya. Membuktikan pada guru saya, meskipun saya menulis fiksi, tetapi… “Saya tetap menulis nonfiksi, Guru…” []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s