Sudut Pandang

Bikin Malu!


“Dadi anak aja ngasi ngaprok tai maring rai…” itu bahasa jawa aksen Banyumasan. Artinya, jadi anak jangan sampai bikin malu, ya malu diri sendiri atau bikin malu keluarga. Diistilahkan seperti melempar kotoran ke muka. Saya mendengar ini dari simbah, orang yang dituakan keluarga, lingkungan, dan koleganya. Sehingga sering kali, tetamu simbah saya seperti sengaja membawa anak-anaknya yang tampaknya dewasa untuk ‘numpang omong dinasihati.”

Cerita dan berita tentang anak-anak yang membuat malu keluarga, mencoreng nama baik keluarga atau sebaliknya juga banyak. Orang tua bikin malu anak-anaknya, orang tua bikin repot istri dan keluarga besarnya. Berita yang paling hangat, konon ada anak mantan bupati yang jadi politisi, lalu ibunya juga menjadi politisi lokal dan bermasalah, lalu berurusan dengan hukum dan pengadilan. Niatnya baik, menolong ibunya, menolong orang tua biar masa tuanya tidak habis di penjara. Namun apa daya, kisah kasih itu melengkapi ‘kesempurnaan nestapa’. Anak dan ibu, dijerat pasal-pasal yang tak mudah diabaikan.

3Monkeys

Bikin malu! Bikin itu membuat, malu ya malu, ngisin-isini bahasa jawanya. Ngerakeun nu basa Sundana. Kalau menurut KBBI V Daring, malu salah satunya berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb.) Masih ada lagi, yaitu merasa segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb.

Contoh lain bukan hanya dari kelakuan yang kita anggap sepele, kecil, hingga hal-hal yang besar, strategis, dan masuk ranah kriminal membahayakan. Contoh yang lagi ramai, seorang mahasiswa PhD asal Indonesia di Delf, Belanda yang digadang-gadang sebagai Next Habibie, mengembangkan roket canggih versi baru. Ternyata, dia berbohong, dari soal umur, memalsu asal kampusnya, dan mengarang hal lainnya yang membuat orang tercengang, kagum, dan terbuai memviralkan. Namun kenyataannya? Dia telah menipu banyak orang dengan ilusi fiksi dalam dirinya. Lupakah dia punya orang tua yang membanggakan dan terus menyorong doa dalam hela nafasnya. Lupakah dia, mempunyai orang tua dan keluarga besar yang kini harus terus tunduk dan malu karena kelakuannya. Terlepas dari dia telah meminta maaf, kematangan tetaplah butuh proses, tak bisa dilompat-lompatkan.

Kisah lain yang pernah memenuhi jagad berita beberapa tahun silam. Kasus asusila yang artis yang videonya menyebar kemana-mana. Pasti pelakunya punya orang tua, punya keluarga besar. Apa yang dirasakan ibu, apa yang ada pikiran bapaknya, “Malu yang sulit digambarkan lagi!”

Rasanya tidak ada orang tua yang mengajarkan hal seperti itu. Perilaku dewasa yang seharusnya dilakukan pasangan yang sah. Itupun dilakukan dengan cara yang tertutup, penuh kesakralan. Bahkan dalam Islam, ada tata caranya sendiri. Mulai dari berwudhu dulu, shalat sunnah dulu, hingga urutan doanya yang begitu bertatalaksana. Lha ini, bukan pasangannya, direkam dengan sengaja… beredar tak bisa terkontrol, diakses hingga anak-anak tanpa bisa dicegah. Tak terhitung kasus serupa, beda pelaku, dan skalanya saja. Semoga kita, anak dan keturunan kita dihindarkan dari perilaku sedemikian…

Padahal, sebagai orang tua, harapan agar anaknya menjadi anak yang baik, berbakti, dan berprestasi itu lamis dalam doa-doa. Tak henti, tak berjeda. Doa seorang pencuri pun tak ingin anaknya jadi pencuri seperti dirinya. Dalam tarikan yang jauh, bentuk doa kepada orang tua, bukanlah semata-mata apa yang terucap. Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa. Tetapi kelakuan kita, kelakuan sehari-hari kita (baik dalam bersama, di keramaian, maupun kesendirian dan sepi) adalah cerminan doa kepada orangtua. Penghargaan dan cara memuliakan orang tua kita, entah yang masih ada, maupun yang telah tiada.

Tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya nasihat (entah itu kata-kata, gambar, dan kejadian) adalah sinyal sempurna untuk menyempurnakan. Tidak ada yang semuanya baik, karena kita tetaplah manusia. Tapi menjadi manusia yang baik bukanlah kemustahilan, minimal dengan memilih untuk tetap menjadi baik di suasana yang paling buruk sekalipun.

Iklan

3 thoughts on “Bikin Malu!”

  1. “Tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya nasihat (entah itu kata-kata, gambar, dan kejadian) adalah sinyal sempurna untuk menyempurnakan. Tidak ada yang semuanya baik, karena kita tetaplah manusia. Tapi menjadi manusia yang baik bukanlah kemustahilan, minimal dengan memilih untuk tetap menjadi baik di suasana yang paling buruk sekalipun. ”

    Dalem. Nice.

      1. Ha ha ha.. Mas Taufan. Asyeek, dibilang Blogger.. Pake keren lagi.. xi xi xi * langsung bersihin blog yang banyak debunya. Ha ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s