Sudut Pandang

Beginilah Saya Bercinta…


Ini cerita tentang persahabatan. Saya berusaha tulus dan sayang dalam berkawan, berteman, bersahabat. Karena saya percaya juga dengan pernyataan ini… Seribu teman kurang banyak, satu musuh kebanyakan. Artinya, pertemanan, perkawanan, persahabatan itu kebaikannya lebih banyak dibanding satu permusuhan. Kalau dinaikkan bahasanya ke wilayah yang lebih reflektif, maka akan ketemu pada urusan berkahnya bersilaturahmi dan tak eloknya bersengketa.

Seperti apa sebaiknya berteman, berkawan, dan bersahabat cara saya? Mustahil persahabatan tidak menemukan titik-titik krisis. Pasti akan ketemu, bahkan mungkin sampai pada benturan perbedaan yang sangat prinsip hingga menyala-nyala. Tidak apa, kalau ada yang menyala berarti ada api. Bukankah api juga cahaya? Tak apa dia menyala, sepanjang ia menyala-nyala dalam kegelapan. “Maka menyalalah untuk persahabatan ini, biar kita terus berada di jalan yang benar.”

Lu boleh marah, karena kodrati. Kalau lu nggak pernah marah, gue bawa lu ke puskesmas lagi, mungkin belum komplit lu imunisasi… Saya tidak akan meninggalkan teman yang sedang marah, karena saya meyakini bahwa marahnya punya sebab, punya alasan, punya argumen. Marahnya adalah energi, daya untuk mengubah sesuatu. Api membuat saya punya kesempatan menjaganya agar tetap menyala sesuai kadarnya, agar persahabatan ini tetap hangat. Ada peluang kebaikan, tinggal kita mau ambil kesempatan itu, atau mau lari tinggalkan gelanggang.

maaf.jpg

Kecewa? Mengecewakan? Dikecewakan?

Ya biasa saja, karena kadang kala saking terlalu nyamannya berteman, jadi seolah teman kita itu sempurna seperti yang terkonstruksi di otak kita. Sering terlupa, kadang terlewat, teman juga manusia. Sama! Maka, silap, khilaf, dan salah pun tak kalis pada dirinya. Kadang ada yang tidak terduga, lepas dari yang terbayang atau terpikir. Tidak masuk akal, tapi terjadi. Lalu, apa saya harus benci, membenci dan pergi meninggalkannya sendiri? Tidak lah…

Kecewa boleh, lagi-lagi manusiawi. Saya pernah kecewa kepada teman yang luar biasa saya sayangi. Hanya karena hal tak terduga yang membuat saya tercengang, masak iya, dia begitu. Saya kecewa, tapi saya tidak pergi apalagi meninggalkannya sendiri. Saya kecewa, tapi tidak menyalahkan atau menambahi bobot kesalahan bila itu kesalahan. Dia memang pergi, jauuuh… saya kehilangan. Tapi saya yakinkan, saya bersamanya, saya tetap bersamanya. Sampai saya menulis surat di inboks facebooknya…

“Jujur aja, gue kecewa… tapi kekecewaan gue nggak akan mengubah apa pun sikap gue sama lu, dan gue akan tetap menempatkan lu sebagai orang baik… tak terhitung kebaikan lu sama gue, bahkan sering kali lu jadi bagian dari solusi masalah yang gue hadapi.”

            Kecewa itu beda sama menyalahkan dan menjustifikasi bahwa ”lu begitu!” Gue nggak nyalahin, karena semua orang tempatnya salah, sarangnya khilaf. Tapi manusia juga diberi sinyal, diberi pikiran dan akal budi, cukuplah sekali saja kesalahan, tanpa harus berulang… Kalau sampai berulang melakukan kesalahan, apalagi secara sadar, gue nggak tahu apa namanya.

            Soal ilmu agama, lu lebih tahu banyak dibanding gue. Cara beragama gue emang parah, hanya modal yakin, maka gue jalanin. Gue yakin semua masalah ada solusinya, maka gue jalani saja apa masalah yang menimpa gue, sambil terus cari jalan keluarnya. Gue bersandar, Allah pasti bantu. Soal hidup, gue nggak pernah muluk berangan-angan. Karena emang nggak boleh banyak angan-angan yang jadi ruangan akrobatnya setan menggoda manusia. Maka hidup gue realistis, apa adanya, terima yang ada, dan nikmati yang ada, sambil terus berupaya bagaimana bisa lebih baiknya.

            Gue kecewa, tapi gue nggak nyalahin lu…

            Gue juga sering salah, dan pasti mengecewakan orang lain. Tapi gue berusaha nggak ngulangin, menjauhi sumber kesalahan itu, kalau bisa memutus segala interaksinya. Karena, kelengahan bisa kembali kapan saja, dan membuat kita mengulang kesalahan itu, mengecewakan orang lain lagi, mengecewakan lebih banyak orang lagi. Apalagi kalau harus mengecewakan orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Bukankah cinta dan kasih sayang itu intinya bersama menuju kebaikan dan kebahagiaan? Kebahagian dan berbahagia dengan cara yang baik…

            Lu tetap baik… dan tempat kembali dari kekhilafan adalah permaafan. Selalu ada tempat balik buat lu.  Gue maafin lu, dan afdol lagi, sama Allah pun lu minta maaf…

            Gue nulis ini, karena gue sayang sama elu…

Begitulah saya berteman, meski jauh, dia selalu menjadi kerinduan saya. Karena memang lebih banyak cerita baik yang tak akan terhapus hanya karena satu noda saja. Bisa jadi, saya pun pernah mengecewakannya. Mungkin lebih banyak dan lebih sering. Kini,  setiap bersapa, ujung dari pembicaraan saya dengannya, selalu ditutup dengan kalimat manis ini, “Kita saling mendoakan ya, bi khusnul khatimah, bi khusnul khatimah…”

Iklan

5 thoughts on “Beginilah Saya Bercinta…”

    1. Terima kasih Fisra… mau baca tulisan isengku, semoga pertemanan kita berkah dan terus saling menyemangati untuk belajar tanpa henti… aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s