Sudut Pandang

Matamu Kemana, Matamu…


“Woiii… mata lu kemane!” seseorang menghardik dengan suara tinggi. Untung saja saya pendek, jadi suaranya yang tinggi tidak nyangkut ke kuping. Jadilah saya cuek bebek, jalan terus. Makanya kalau marah jangan ketinggian suaranya, sudah tahu orang Indonesia ukuran standarnya ya 160-170 centi tingginya. Pernah juga saya dibentak orang dengan suara keras, “Mata lu kemana Tooong…! Karena suaranya keras ya saya menghindar, batu yang kecil saja keras, kena kepala bisa benjol, lha ini… suara keras! Bisa bonyok kayak semut ketiban gajah.

The Blind Men and the Elephant

Haiyah, jadi ingat gajah! Bukan seperti gajah yang dilantunkan lagunya oleh Tulus dan bikin klepek-klepek pemujanya. Tapi waktu saya pertama kali mengaji, dari yang sangat bloon banget tidak tahu apa pun, otak kosong dan gampang banget didoktrin oleh orang-orang sotoy. Syukurnya saya ketemu orang baik, – insya Allah berkat doa mendiang ibunda saya – dan membuat saya agar tidak terlalu fanatik dan sempit. Saya yang hanya berdua dengannya, disodori gambar seperti ini…

“Jadilah orang yang luas, jangan seperti ini…” dia menunjuk gambar di atas. Lalu dia jelaskan, jangan menjadi orang yang sempit, merasa benar sendiri, padahal baru tahu sedikit. “Ilmu Allah itu sangat luas, andaipun semua pohon dijadikan pensil dan seluruh isi lautan dijadikan tintanya, tidak cukup… tidak cukup…”

Sampai hari ini, penjelasan tentang orang buta dan gajah masih sangat relevan dan kekinian. Teknologi telah memberi ruang yang tak terkendalikan, siapa pun bisa bicara, bisa menulis, dan bisa mengungkapkan apa yang diketahuinya, hanya dalam hitungan detik. Lalu leluasa menyebar seperti larutan pewarna dalam air bening. Mengubah warna, mengubah pandangan, mengubah makna, membelokan kebenaran.  Kedalaman tidak ada, lautan informasi yang belum tentu layak jadi referensi dipotong lagi, ditempel-tempel, direkat-rekat, dibingkai jadi kebenaran baru, persisnya, pembenaran semata.

Tidak dalam, tidak jernih, tidak utuh. Seperti kisah lima orang buta yang bercerita tentang gajah. Kebenarannya menurut mereka adalah, gajah itu seperti dinding yang lebar karena dia memegang tubuhnya. Bukan dia seperti kipas kata yang memegang telinga, ah salah, gajah itu tiang yang besar yang bisa bergerak ujar yang memegang kaki. Ada pula yang menyebut kalau gajah itu seperti ular yang besar karena  memegang belalainya. Salah satunya menyebut dengan keyakinan, bahwa gajah itu seperti tombak yang melengkung dan tajam ujungnya.

Begitulah, betapa berbahaya pengetahuan yang hanya sak-crot! Cuma sepotong, hanya bagian kecil saja. “Kalau ketemu orang yang lebih tahu, selesai dah! Ketahuan banget begonya kita. Kalau ketemu yang lebih paham, habis dah! Bukang tong kosong nyaring bunyinya lagi, tapi otak kosong nyaring mulutnya, otak kosong sotoy statusnya…” kata teman setia saya, tukang patri yang baik hati.

Mulutmu harimaumu, matamu apa ya…

Mata itu buat melihat. Tugas yang pertama dan penting, mata untuk melihat. Kalau orang biasa, mata yang melihat apa yang terlihat, wadag, material. Kalau manusia agak tidak biasa, mata berfungsi mengirim sinyal ke otak, menjadi ilmu, menjadi pengetahuan. Kalau orang luar biasa, dia tidak hanya melihat yang terlihat, menyimpan yang terkirim, tapi mencerna dalam hati. Hatinya hidup karena pandangan-pandangan matanya. Maka lahirnya rasa, simpati, empati, dan hati-hati. Apa yang dikatakannya, sudah dikunyah dan dilumat halus sampai ke intisarinya. Apa yang ditulisnya, sudah melalui proses pengendapan yang terus dikendalikan melalui olah pikir dan timbangan nuraninya.

Jadi, kata teman saya lho ya, “Melihat Indonesia hari ini dengan silang sengkarutnya, cukuplah dengan belajar sejarah sekhatam-khatamnya, jangan cuma munguti di Google terus merasa ahli, pakar, ekspert! Lihatlah Indonesia yang tidak hanya Jakarta, lihatlah banyak orang-orang baik yang ingin memperbaiki, mereka tidak ada dan jarang di medsos, karena kebaikan adalah kerja, kerja dalam diam, diamnya bekerja, niatnya ditautkan ke langit, keringatnya dicucurkan ke bumi. Kebaikan adalah nafas, udara, ada di mana-mana, orang baik ada di banyak sudut realitasnya kehidupan ini. Jangan hanya melihat elit yang sedikit dan lincah lidahnya berkelit, lihat juga tukang kredit, tukang keripik, mantri suntik, yang terus bergerak tanpa berisik di zaman sulit…”

Terus, selama ini mata saya melihat apa ya? Waduh… [tef]

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s