Sudut Pandang

Katanya Cinta, Kok…


22199414_10213428118995856_1012127805_o

Katanya cinta kok begitu! Nah, begitu itu banyak macamnya. Padahal kalau cinta sudah melekat, tai ayam berasa cokelat, itu bercandanya orang muda jadul atau sering disebut ‘remako’ alias remaja kolot. Waktu belum ada internet, apalagi aplikasi macam-macam yang tinggal geser dan sentuh seperti di warung tegal. Ngomong soal cinta, banyak maknanya, kadang suka-suka mendefinisikannya. Belajar bahasa Indonesia dari sekolah dasar, sampai kuliah pun masih ada mata kuliah bahasa Indonesia. Tapi sebegitu banyak lulusan sarjana, entah hanya berapa yang sempat buka kamus, minimal KBBI V yang sudah bisa diunduh gratis…

Maaf kalau saya kutipkan, biar ada kesepahaman dalam bahasan kali ini tentang cinta. Ada empat makna cinta dalam KBBI V daring, 1. a suka sekali; sayang benar.  2. a kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan). 3. a ingin sekali; berharap sekali. 4. a kl susah hati (khawatir); risau. Kemudian gabungan katanya ada banyak, aca cinta bebas; cinta kiamat; cinta kilat; cinta monyet; dll. Kata turunannya pun beragam, ada bercinta; bercinta-cintaan; bercintakan; kecintaan; mencinta; mencintai; mencintakan; pencinta; percintaan; dan tercinta.

Sekarang tinggal pilih, sebenarnya cinta yang kita maksud ada di mana? Ini baru menurut kamus. Belum referensi yang lain.

Banyak kisah, banyak cerita tentang cinta tak hanya berakhir bahagia, tapi penuh dengan ironi dan tragedi. Kalau dalam kisah cinta laki-laki dan perempuan, kisah termasyhur ala Romeo dan Juliet. Di Indonesia, khususnya di Jawa ada kisah Pronocrito dan Roro Mendut. Atau di dunia yang lebih aktual, silakan browsing sendiri betapa banyak kisah cinta berakhir memilukan bahkan kadang bisa disebut biadab! Semoga kita dan keturunan kita terjaga dari yang sedemikian…

Kisah yang lain, tentang kecintaan kepada keluarga dan orang yang berjasa. Banyak cerita yang terus menginspirasi. Terakhir tentang seorang murid, Fredy Chandra yang memberangkatkan 65 orang guru-gurunya dari SD sampai SMA jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia dengan fasilitas kelas satu. Kisah yang mulia, meskipun lebih banyak kisah nggegirisi tentang hubungan guru dan murid serta wali muridnya. Termasuk bagaimana ada orangtua siswa memburu guru anaknya hingga masuk ke penjara.

Cinta dan ironi. Katanya cinta kok begitu.

Entah berapa banyak kabar tentang istri yang disia-siakan suami dengan berbagai modus dan cara. Tapi bukan tak ada kisah istri membuat suami tak berdaya. Bukan perkara aniayanya, bukan perkara berbau kriminalnya. Kemampuan istri membuat suami tak berdaya sampai menjadi bahan jenaka dalam pembicara sehari-hari dengan lahirnya ISTI, ikatan suami takut istri. Nah lho…

Mengapa cinta dan mencintai jadi rumit?

Perasaan dan logika, alasannya. Kalau semuanya seimbang, mungkin seperti yang terlihat dibanyak adegan sinetron, film, ataupun model iklan luar ruang. Apakah cukup dengan perasaan dan logika untuk menyempurnakan cinta? Di sini masalahnya, kita sering menganggap cinta itu milik kita. Padahal ada zat yang maha membolak-balik hati untuk menghadirkan rasa cinta dan mencintai pada diri seorang hamba. Cinta yang sakinah, membuat tenang pecintanya, yang mawaddah membuat tenteram yang melakoninya, dan yang penuh dengan rahmah, rasa sayang bagi yang menjalaninya.

Bukan seperti lagu Iwan Fals dalam Buku Ini Aku Pinjam… “Cinta ini milik kita” Tapi ada Sang Maha Cinta yang menumbuhkan rasa kasih dan sayang kepada diri hambanya. Ada yang menyebut cinta itu sederhana, bisa begitu kalau di antara yang terlibat sudah paham, pengetahuannya sama, sepaham sampai hati dan pada tatar eksekusi bukan teori belaka, sudah satu gelombang dan satu frekuensi. Semuanya akan indah, semuanya bisa sangat sederhana. Tapi kalau beda gelombang, apalagi beda radio? Ya tidak ketemu, ruwet urusannya. Maka yang terjadi, “Katanya cinta kok…”

Cinta itu, selain soal rasa dan logika, ada empati dan ada ilmunya. Juga ada yang menggerakkannya. Makanya jangan heran, ada pasangan yang tidak saling kenal, dijodohkan dan bahagia, karena memang ada jalur tempuhnya benar, dan Allah tanamkan cinta pada keduanya. Seperti yang terjadi pada kakek nenek dan sesepuh kita, mereka tak pacaran, tanpa ngedet-ngedetan, tapi usia pernikahannya panjang hingga akhir hayat dengan penuh cinta. Jadi kalau cinta masih di mulut dan kata-kata belaka, menjadi slogan saja, saya kok ragu ya. Jangan-jangan itu serupa kentut saja, hahaha…

*foto pamer buku, Ratih Ibu yang Terbelah, kalau mau pesan bisa diatur… 🙂

Iklan

1 thought on “Katanya Cinta, Kok…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s