Sudut Pandang

Banyak Mau, Kurang Malu


22119372_10213403922790966_2087009957_n           Saya sering ditanya sama orang-orang yang lama tidak bertemu, “Berapa anaknya?” atau “Anaknya berapa?” Saya menjawab, “Banyak…” sambil tersenyum, sambil memandang matanya. Biasanya berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, “Dari satu istri atau…” itu pasti bercanda. Tapi yang tidak bakal bertanya, “Yang gede umur berapa, kuliah atau sekolah dimana,” dan seterusnya. Panjang, seperti pertanyaan interview pekerjaan.

Tidak semua orang yang bertemu saya itu tahu kalau pernikahan yang belasan tahun saya jalani itu tanpa anak. Tetapi saya bersikap kepada siapa pun, tidak perlu menjelaskan, tidak perlu juga menolak pertanyaan. Biasa saja. Ditanya ya jawab, tidak ditanya ya Alhamdulillah… Beda kalau sudah tahu, tapi dia bertanya. Itu pun saya layani dan berpikir saja, kalau dia sedang bercanda. Mungkin saya dianggap suka bercanda juga.

Kalau saya jawab belum punya anak, maka saya pun harus siap mendengarkan ‘uraian kebaikan’ dan ‘paparan pengetahuan’ berikutnya. Jadilah saya orang yang ‘seolah-olah’ tidak melakukan upaya apa pun baik medis atau nonmedis dan tidak memiliki pengetahuan seperti yang disampaikan, sehingga saya tak kunjung punya anak. Kemudian saya pun akan diberikan banyak catatan, referensi, alamat dokter, hingga dukun, cara medis, herbal, hingga yang tak masuk akal. Bagaimana rasanya?

Ya saya dengarkan, saya iyakan…

“Bosen nggak Mas, belasan tahun mengalami hal kayak gitu?” tanya sahabat saya.

Saya menggeleng. Meski awalnya saya sempat juga agak gimana… Toh, saya tidak bisa menghalangi orang bertanya apa saja tentang saya. Mungkin itu pertanyaan biasa saja, kalau saya punya anak. Tapi pertanyaan itu menjadi tidak biasa dan jadi agak ‘gimana’ karena saya tidak punya anak. Bisa jadi pertanyaan itu lazim saja, ungkapan yang lurus dan tulus. Tapi karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sesuai dengan yang dikehendaki sang penanya, maka yang terjadi jadi berbeda. Coba kalau saya punya anak, pasti pertanyaan itu berbalas dengan lancar dan jaya. Jadi pertanyaan sahabat saya, bosan atau tidak dengan pertanyaan semacam itu, ya akhirnya biasa saja.

Tetapi kan tidak semua orang yang tidak punya anak sama ‘cuek’-nya kayak saya. Kalau pertanyaan itu jatuh ke istri saya, -sebelum ke orang lain yang senasib- apa dia bisa menerima dengan selapang itu. Bisa jadi bisa, bisa juga tidak. Apalagi kalau dilanjutkan dengan ‘khutbah’ tentang cara jitu bikin anak hingga pembacaan justifikasi yang tendesius bagaimana? “Kurang sedekah sih,” atau “Kurang ikhlas.” Pernyataan itu religiusitasnya tinggi, tak tersanggah. Tidak ada yang salah, tidak ada yang keliru. Benar semua…

“Terus, Mas diam saja…” tanya sahabat saya lagi.

Saya harus jawab apa. Semua yang diucapkan benar, masak saya harus menyalahkan sesuatu yang benar. Yang disampaikan itu tidak salah, masak saya harus menyalahkannya. Bagi saya ya cukuplah jadi pengetahuan, jadi bahan instrospeksi, jadi bahan evaluasi, karena saya toh juga bukan orang yang sudah paripurna dengan ilmu bikin anak dan bisa membuat anak.

Seperti pasangan yang lain juga… saya berpikir sederhana ketika menikah. Punya rumah, punya anak, dan bahagia seperti pasangan lain. Tapi ketika saya tidak punya anak, apa saya tidak boleh bahagia? Saya yakin Allah tidak diskriminatif. Kemahaadilan-Nya membuat saya tidak pernah ‘baper’ dengan berbagai omongan orang. Justifikasi orang dan ‘hukuman’ orang.

Kalau menuruti kemauan, menuruti keinginan, banyak sekali keinginan saya. Seperti tadi disebut. Ketika menikah, ingin punya anak, ingin punya rumah, ingin bahagia. Tetapi Allah belum izinkan saya dan istri punya anak, tetapi diizinkan punya rumah yang lebih dari impian saya. Allah hadirkan kebahagiaan di setiap waktu di mana banyak orang sulit bahagia dan harus membayar mahal sebuah kebahagiaan. Kata sahabat saya, saat ini lebih banyak orang yang “susah ngeliat orang seneng, seneng ngliat orang susah!”

Saya pernah sedih dengan keadaan ini. Tapi itu manusiawi. Ketika saya tahu tidak sendiri. Ada milyaran orang di dunia. Ada milyaran pasangan suami istri juga sejagat raya ini. Dan tidak semua pasangan punya anak seperti yang mereka mau. Dan hal seperti ini terjadi sejak zaman dulu, termasuk menimpa orang-orang shaleh dan shalehah terdahulu. Jadi saya tidak menderita dan terasa patut sekali dikasihani. Biasa saja, karena Allah ganti dengan ‘anak-anak’ orang lain yang orangtuanya sibuk dengan kerja, sehingga tak punya waktu mengurusi, membimbing, dan menikmati pertumbuhan yang sangat mengasyikkan. Bukankah banyak anak yang diyatimkan oleh orangtuanya? Mungkin termasuk orangtua yang bertanya pada saya, hehe…

Malu lah kalau banyak mau. Apalagi sok tahu dengan yang sedikit tahu. Sudah terlalu banyak yang kita dapat… [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s