Sudut Pandang

Pulanglah dan Bakar Sampah di Otakmu


era sumpyuh

“Sesekali pulanglah ke kampungmu dan bakarlah sampah dalam otak dan hatimu sepuasnya.” Tentu saya mengutip tukang patri sahabat terbaik sejauh ini. Walaupun saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ada panggilan ‘tanah ari-ari’ semacam tarikan cinta dari saudara serahim yang ditanam di tanah kelahiran saya.

Pergerakan zaman, pergerakan waktu, membuat persepsi pulang kampung pun mengalami pergeseran. Dulu kota dan kampung itu seperti dua dunia yang berbeda. Orang-orang yang pulang dari kota menjadi manusia yang ‘seolah-olah’ berbeda dengan orang kampung yang ditinggalkannya. Kota seolah mampu mencuci seseorang, membentuk manusia baru yang agak sulit untuk tidak kalis dari kampung asalnya.

Kekalisan itu atau saya boleh sebut perubahan yang sulit sublim ke tanah muasalnya, ke rahim nafas masa lalunya, bisa beragam bentuknya. Bukan semata hal-hal material yang terlihat, perilaku, gaya hidup, hingga sedikit ‘keangkuhan’. Saya perlu belajar banyak, apakah fenomena orang kota pulang kampung harus gagah, tampak sukses, dan mampu tampil beda.

“Tergantung darimana kita melihatnya…” kata tukang patri.

Dalam konteks jati diri, orang pergi dari kampung ke kota itu pertaruhan harga diri. Pantang gagal, mending tidak pulang. Maka kalau ada kompetisi yang begitu tajam di kota. Kompetisi yang tajam dan cepat, membuat perilaku dan cara berpikir pun berubah. Kompetisi ini soal persaingan skill, ketrampilan, keahlian. Semakin tidak memiliki itu semua, maka alamatnya jelas, menjadi orang-orang kalah, dan hidup dalam masyarakat yang marginal pula.

“Ketinggian omonganmu, Dul!”

Pulang kampung ya tinggal pulang. Orang mau ngomong apa ya biar saja. Sepanjang masih manusia, mana bisa mengontrol pikiran dan omongan manusia lain. “Ya biarin semau mereka bicara. Dibilang gagal, ya biar, dibilang kalah ya silakan…”

Ya tidak sesederhana itu, masyarakat punya ukuran. Orang-orang di kampung punya persepsi. Orang yang tinggal di kota dengan segala infrastruktur dan kemudahan serta kemodernannya, itu harus lebih dari yang tinggal di kampung. “Orang kampung saja bisa beli mobil, masak puluhan tahun di kota nggak bisa beli mobil.” Persepsi semacam ini ya wajar saja. Walaupun orang kota yang pulang kampung tidak punya mobil pun tidak masalah.

“Pulang kampung, ketemu teman, kerabat, saudara… cukup!” kata saya.

Perjalanan adalah bagian dari mengayakan wawasan, perjalanan adalah cara kita untuk membangun kewaskitaan.  Upaya bebersih, melihat lebih jernih, dan mengasah rasa agar lebih peka. Pulang kampung adalah perjalanan kerendahhatian. Layaknya anak bermain yang dipanggil ibunya. Dia melangkah menghampiri bahkan kadang sambil berlari. Tanpa pernah kita tahu, alasan apa ibu memanggil. Yang penting adalah penuhi dulu panggilan itu.

Kota itu padat dan berputar cepat sekali. Orang nyaris seperti mesin, berputar dengan gerak yang nyaris sama setiap harinya. Maka pulang kampung itu melambatkan putaran. Mengembalikan menjadi manusia. Apa yang kita raih di kota, dengan penguatan penghargaan dan berbagai pengakuan keberhasilan. Tidak berarti, capaian itu sempurna dan paripurna. “Pulang kampung adalah cara menyempurna… melihat ulang, menambali yang retak, menutup yang berlubang, membaca ulang pelan-pelan, bahwa sesungguhnya kita belumlah apa-apa.”

Kampung tetaplah tanah batin. Keseimbangan lahir dan batin itu sangat penting. Pulang kampung, mudik, atau apalah namanya, adalah upaya menyeimbangkan. Seimbang adalah upaya menjaga kewarasan. Dan itu perlu dijaga dan dirawat dengan baik di zaman penuh dengan kalabendu. Logika jungkir balik, fitnah penuh akrobatik, dunia sudah terbalik-balik…

“Nabun aja deh!” maka saya pun membakar sampah yang memenuhi otak dan hati. [tef]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s