SENGGANG

Eta Kentang, Eraos Pisan


Kalau ada irisan kentang dalam sop, biasanya saya hindari. Tapi bukan berarti saya tidak makan sambel goreng kentang yang biasanya ada campuran irisan ati dan ampela. Kentang rebus atau kukus dalam somay pun biasanya saya hindari. Tapi saya tidak menghindari kentang goreng di gerai-gerai makanan cepat saji. Bahkan olahan kentang gurih  dalam kemasan tak ada  yang saya hindari. Kressshh, tak ada bersisa…

Ada satu kebiasaan dalam keluarga, setiap bulan puasa tiba, ada satu lauk sahur yang tak pernah lupa. Kering kentang! Mendiang ibunda saya sering pesan secara khusus kepada koleganya. Banyak varian rasanya. Ada yang hanya kering kentang saja, original katanya. Ada yang beda, dicampur dengan teri atau kacang, bahkan dicampur dua-duanya. Praktis, mungkin itu alasan ibunda saya menyediakan menu itu. Karena kan dalam sebulan, pasti ada agak bangun kesiangannya sekali waktu. Maka, cukup dengan kering kentang, makan sahur cukuplah.

Setelah beliau tak ada, sekali waktu istri saya masih memesan kering kentang buat sahur. Kadang malah saya meminta, walaupun tidak sedang bulan puasa. Pesan saja, buat kepraktisan di rumah. Maklumlah, jam kerja saya dan istri beda. Daripada dia harus kerepotan setiap kali memasak, yah sekali waktu kan perlu dia bergegas dan tak sempat menyiapkannya. Maka, kering kentang menjadi jalan kepraktisan. “Nasinya di magicjar,” pesan itu cukup membuat saya tenang. Cukup nasi hangat dan taburan kering kentang, dunia sudah indah dan istri bisa duluan pergi dengan riang gembira.

Zaman bergerak…

Musim pamer masak apa, makan di mana, dan sambil apa bisa secepat kilat jadi santapan pembicaraan antarteman. Kecanggihan teknologi, pilihan komunikasi aplikasinya banyak. Saking cepatnya, bahkan beberapa tampak sekali jadi jadul dan ketinggalan zaman. Begitulah, grup chat antarteman banyak sekali. Dari grup chat teman TK, alumni esde puluhan tahun lalu, temen SMP, SMA, kuliah, teman main kelereng, teman senasib, nasib buruk pastinya… dan seterusnya. Maka, isu postingan pun kadang nyaris ‘offside’ karena hampir masuk ranah privat.

Masak apa hari ini?

Dipicu pertanyaan sederhana, maka dengan segera muncul foto-foto masakan. Baik yang benar-benar baru foto, foto kapan tahu, atau malah mengambil di google.  Berikutnya ya komentar entah basa-basi, mungkin juga bercanda, tapi ada yang serius. Kadangkala, jalan rezeki itu ya tak terduga, dari yang dikira bercanda belaka…

20747148_10211912626905508_173847688_o

“Aku bikin kering kentang, pakein teri medan… uenakk!”

Ternyata, beberapa anggota grup chat istri saya itu merespon. Mau dong, kirim ya… aku pesen ya. Nah lho! Maka dengan berbagai cara amatiran, memenuhi dan menghormati teman-teman mulailah produksi kering kentang agak banyak. Dikemas dalam toples, dipackaging agak pantas, dan terkirimlah satu persatu ke alamat si pemesan.

“Eraos sampai ke Paris…”

Padahal yang sejak dulu kepengin ke Paris itu pembuat kering kentangnya. Tak  apa, produknya dulu keliling Eropa, nanti kalau sudah besar, untungnya milyaran, barulah yang punya Eraos keliling dunia, bukan hanya keliling Eropa, hehe… “Terusin aja yang udah jalan,” pesan teman yang sudah perih pedih berwirausaha. Membesarkan hati, sekaligus memberi semangat. Setidaknya, ratusan toples kering kentang Eraos, sudah menyapa teman-teman di berbagai tempat. Bagi saya dan istri, Eraos adalah rekreasi harian keluar dari dunia teks dan tempat untuk rileks. Pekerjaan baru yang menyenangkan…

Ini cerita tentang kentang belaka. Ternyata kentang itu juga banyak macamnya. Bisa dilihat dari warna, asal dan varietasnya. Daerah penghasil kentang yang baik di Indonesia itu antara lain Wonosobo, Lembang, Cipanas, dan daerah lain seperti Batu di Malang. Sementara ini, kering kentang Eraos menggunakan kentang Dieng atau Wonosobo.  Bagaimana mendapatkannya? Cukuplah saya mengantar istri ke pasar, dia memilih sendiri, dan saya bisa ngopi-ngopi di warung indomi. Hidup berasa… kressshh, gurih, nikmat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s