Sudut Pandang

Ketenangan Hati


 

“Banyak yang mengira, ketenangan hati itu adanya di vila-vila pegunungan, di tempat-tempat rihlah dan wisata. Berduyun-duyun orang ke sana, mengabaikan banyak hal, waktu yang habis di jalan, rasa lelah yang bertambah karena jauhnya tujuan, juga tingginya biaya karena banyak yang tak terduga.”

Ustadz Anwar Sadat membawa jamaah shalat tarawih di Masjid Al-Haq masuk ke tema kultum malam itu. “Sebenarnya, sumber ketenangan hati itu dekat sekali, mudah sekali, zikir…” Kemudian terjabar dengan jelas dengan dasar ayat Al-Quran, Hadits, dan beberapa kisah serta contoh.

pak anwar sadat

Bagi sebagian orang yang tinggal di perkotaan, baik di pusat kota maupun kantong-kantong satelit di sekitarnya. Rutinitas kesehariannya nyaris sering setingkat bahkan beberapa level di atas normal. Bolehlah di sebut kadang tidak masuk akal. Bagaimana tidak, lalu lalang dan pergerakan dari tempat tinggal ke tempat aktivitas, baik bekerja atau pun aktivitas lainnya bisa melintas provinsi.

Situasi abnormal yang berlangsung setiap hari, pasti akan membuat fisik bekerja lebih dari beban seharusnya, pikiran muter lebih cepat dari semestinya, dan tak pelak membuat ruhiyah sering terabaikan konsumsinya. Seperti halnya jasadi dan pikiran yang perlu makanan dan nutrisi, ruhiyah yang terabaikan pasti akan kering. Tidak tumbuh dengan baik, seperti sawah kering yang tanahnya pecah, ditumbuhi rerumputan dan ilalang. Maka, bukan kasih sayang, simpati dan empati yang tumbuh. Tetapi sebaliknya, amarah, prasangka, fitnah, keangkuhan dan ego diri.

Setidaknya bisa dimengerti, mengapa sebagian dari kita. Tentu masih banyak juga yang terjaga keseimbangan pertumbuhan fisik, pikir, dan ruhaninya. Tetapi kalau kita menjumpai orang yang mudah marah, mudah menuduh, mudah tersinggung, gampang berprasangka dan keras hati merasa benar sendiri, nyaris tidak ada keteduhan dan ketenangan dalam hatinya. Bisa jadi, efek akut dari ‘ketidaknormalan’ keadaan yang berulang dan terus berulang ditambah beban hidup yang terus menumpuk.

Dalam sebuah riwayat, dalam sebuah aktivitas yang berat, Rasulullah Saw pernah meminta kepada Bilal, muazin bersuara terbaik di masa itu.  “Ya Bilal, arihna bishsholah…  Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” Kisah ini memberitahukan bahwa shalat tidak hanya menjadi sumber ketenangan hati, tetapi juga menjadi cara untuk mengistirahatkan diri dari kepenatan, menjeda dari penuhnya aktivitas, serta memberi napas dan tenaga baru setelah terkuras dalam pekerjaan yang berat.

“Shalat adalah zikir yang paling lengkap, semuanya ada di dalam shalat, dari subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar,” kata Ustadz Anwar Sadat. “Seharusnya, setelah shalat seseorang akan menjadi tenang, tenteram, dan merasa nyaman.” Dijelaskan lebih lanjut, kalau hal itu tidak terjadi berarti ada yang keliru dalam shalat kita. Mari dicek lagi, apakah niatnya sudah benar, bahwa shalat yang kita lakukan ikhlas karena Allah. Kemudian, apakah shalat kita sudah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw. Terakhir, apakah kita sudah benar-benar ‘menghadirkan’ Allah dalam shalat.

Mendengarkan kultum malam itu, saya teringat akan film Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan Tere Liye. Cerita berlatar belakang tsunami di Aceh beberapa tahun silam. Teringat pula saya pada buku pelajaran shalat yang pertama kali saya miliki. Teringat lagi kata-kata Kiai Abdul Ghoni di pengajian Ahad pagi Masjid Al-Haq. “Jangan-jangan shalat saya pun tidak ‘nyambung’, tidak silah.” Tidak nyambung, tidak silah, tidak menghadirkan Allah. Justru menghadirkan ingatan-ingatan lain yang tak malu lalu lalang, membersit memutar-mutar ingatan di saat yang seharusnya paling intim dengan sang Maha Pencipta. Tidak dalam puncak fokus, jauh dari khusyu.

“Karena efek shalat benar atau tidak, terlihat dalam perilaku dan aktivitas seseorang di luar shalat, termasuk dalam bekerja, berkeluarga, juga bermuamalah dengan tetangga dan kerabatnya,” tambah Ustadz  Anwar Sadat.  Mungkin buat yang sudah tahu ini pengetahuan sederhana, tapi buat saya, ini cambuk untuk segera mengecek kembali, apakah shalat saya sudah benar…

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s